
"Nenek sakit parah, Ge!"
Indra dan Nani mengabarkan berita buruk pada Gege ketika mereka menjenguk kembali putra angkatnya itu di rumah sakit.
"Hah?!? Nenek sakit, Pa?"
"Apakah mungkin ini adalah hukuman Tuhan pada kita semua? Seolah tragedi ini mulai berdatangan silih berganti, Mas?" kata Nani langsung dijawab gelengan kepala sang suami.
"Jangan berfikir buruk seperti itu!"
"Tapi, semakin terealisasi keinginan kita, semakin banyak cobaan yang datang. Aku takut, Mas!"
Indra merapatkan tubuhnya pada sang Istri.
"Ini hanyalah cobaan untuk membuat kita semakin kuat kedepannya, Yang!"
Devana hanya menunduk. Gege menarik nafas panjang.
"Bagaimana keadaan Nenek?" tanyanya dengan nada cemas.
"Nenekmu stroke sedang! Begitu kata dokter!"
"Tapi apakah Nenek masih bisa pulih kembali, Pa? Setidaknya, Nenek masih merespon dan mengenali kita!"
"Belum jelas juga. Tapi pas Papa jenguk, kondisinya masih belum sadar. Nenek masih dalam pengaruh obat penenang. Semoga Nenek bisa kembali sehat!"
"Kondisi Kakek bagaimana?" tanya Devana mencoba masuk dalam pembicaraan mereka.
"Kakek terlihat sedih sekali, tapi tegar. Memang begitulah pembawaannya sedari dulu. Walau hatinya sedang galau, tak pernah ia memperlihatkan apalagi mengutarakannya pada siapapun termasuk kami putra-putrinya."
Devana hanya bisa menunduk dan merem*s jari jemarinya. Ia khawatir juga dengan kesehatan Widia serta Gunawan yang selalu baik kepadanya.
"Yang lain bagaimana responnya?" tanya Gege.
"Semua silent! Entah apa yang ada difikiran mereka. Papa tidak tahu! Dan kamu tahu, Polisi sudah memeriksa keadaan mobilmu. Kelayakan kendaraanmu patut dipertanyakan kenapa bisa ketika kamu pergi kondisi mobil baik-baik saja sedangkan ketika pulang, semua onderdilnya seolah dalam keadaan longgar."
Gege dan Indra saling berpandangan.
"Om Rendy!? Tapi..., untuk apa Om Rendy melakukan hal ini? Apa Om Tio dan Om Glen yang menyuruh om Rendy menyabotase mobil Gege?"
__ADS_1
"Papa meminta untuk pihak kepolisian menunda penyelidikan karena keadaan Nenek dan juga Kakek! Papa khawatir kalau berita ini membuat keadaan semakin buruk. Karena sebenarnya ada yang ingin Papa lakukan lebih buruk lagi dari ini!"
"Apa Pa?"
"Membuat perusahaan ini terkesan bangkrut dan hancur karena keteledoran mereka semua! Dan puncaknya adalah, perceraian kalian yang membuat semua juga senang seolah kehancuran ini benar-benar nyata. Bukan rekayasa!"
Gege menarik nafasnya lagi. Kini ia menatap wajah lembut Devana.
"Tapi keadaan Nenek sekarang justru memprihatinkan! Kalau rencana Papa kita jalankan secepatnya, Papa takut berimbas pada kesehatan kedua orangtua Papa. Walau Kakek pernah mengatakan satu hal, memimpin perusahaan tidak selamanya mulus dan lancar seperti memimpin keluarga sendiri. Akan ada banyak kendala dari sana sini. Dan masalah kebangkrutan adalah masalah yang pasti dihadapi semua pengusaha. Dan Kakek bilang, kalaupun suatu saat nanti perusahaan ini oleng atau hancur sekalipun... tidak apa-apa. Tapi bangkitlah lagi! Bangun semuanya dari awal dengan semangat yang lebih tinggi! Begitu beliau kata!"
"Tetapi sekarang keadaannya jauh berbeda. Nenek sakit parah, Kakek pasti sedih. Jika kita tetap menjalani sesuai rencana awal, bagaimana dengan Kakek?" kata Nani mencoba mengingatkan sang Suami.
"Iya. Itu juga kini yang jadi kekhawatiranku!"
Mereka berempat hanya bisa terdiam membisu. Fikiran mereka saling memutar otak mencari jalan keluar.
Indra dan Nani meninggalkan ruang opname Gege setelah pihak rumah sakit mengatakan kalau waktu besuk telah habis.
Tinggallah Gege yang ditemani oleh Devana.
Sebelum Nani pergi, Devana menitipkan putranya pada Ibu mertua kontraknya itu. Walau ada Bi Fani yang mengasuh Ericko, tetapi Nani adalah salah satu yang Ia hormati setelah Widia.
"Indra tersenyum mengangguk. Ia berusaha meyakinkan Deva kalau putranya akan aman di rumah besar keluarga mereka.
"Semoga Devana bisa menjadi menantu kita yang sebenarnya ya, Pa!?" ucap Nani pada Indra ketika mereka telah berada di basement parkiran rumah sakit.
Indra lagi-lagi tersenyum. Ia tahu, istrinya sangat mendukung hubungan antara Gege dengan Devana.
Selama hampir 18 tahun mengurus Gege, Ia baru kali ini melihat perubahan sikap serta rasa peduli sang putra angkatnya pada seorang perempuan.
Gege yang dingin dan cuek bahkan pada wanita yang lebih cantik dari Devana sekalipun. Kini setelah memiliki perjanjian nikah kontrak dengan Devana, sifat serta tabiatnya perlahan berubah.
Gege lebih sabar dan sering terlihat menekan intonasi suaranya agar lebih lembut pada Devana.
Walau mereka belum melihat adanya tanda-tanda cinlok cinta lokasi terjadi, tapi mereka berharap itu bisa terjadi.
Witing tresno jalaran soko kulino.
Cinta hadir karena terbiasa.
__ADS_1
Bukankah kalimat itu ada benarnya? Indra dan Nani berharap hari-hari Gege dan Devana perlahan ditumbuhi pepohonan dan bunga-bunga cinta yang bermekaran kian indah dari hari kehari.
Semoga harapan mereka jadi kenyataan.
...βββ...
Devana menengok ke arah jam didinding kamar VVIP ruang inap Gege yang hanya dihuni Gege seorang.
"Lapar ya? Mau cari makan dulu?" tanya Gege dengan suara lembut.
Deva menyunggingkan senyum manisnya seraya mengangguk.
"Makan dulu di kantin rumah sakit, Dev! Kesehatanmu juga penting. Pasti kemarin-kemarin kamu tak bisa makan karena keadaanku yang belum sadar! Sana, makan dulu!"
Deva memeletkan lidahnya. Ia malu karena tebakan Gege membuka aibnya adalah benar.
"Jangan ge'er! Ish!" timpalnya membalas ucapan Gege yang lembut tapi nyeletit.
Gege tertawa. Ia mengusapkan telapak tangannya pada Devana. Membuat wanita itu gemetar takut merasakan debaran jantungnya lebih kencang lagi. Ia tak ingin jatuh cinta terlalu dalam dengan pria yang menikahinya secara kontrak itu.
Baik fisik maupun perbuatan Gege, terlihat manis padanya meski di awal-awal dingin dan ketus terasa.
Deva berjalan keluar ruangan Gege setelah beberapa kali pria itu mengingatkannya untuk pergi makan malam.
Sesekali ia menoleh kanan dan kiri melihat keadaan lorong rumah sakit yang ramai. Masih ada orang hilir mudik baru selesai menjenguk kerabat, teman atau sahabatnya yang dirawat di rumah sakit.
Devana berjalan lebih santai karena masih banyak orang lalu lalang. Sampai ada sepasang mata yang terbelalak melihat dirinya melenggang tenang sendirian di lorong rumah sakit yang panjang.
"Devana!!!"
Wanita itu menoleh ke arah suara seseorang yang memanggilnya.
Seorang pria tampan, yang samar-samar masih ia kenal. Seketika wajah Devana pucat pasi dan tangan kanannya menutup bibir mungilnya yang ternganga.
"Kak Anton???"
...πTO BE CONTINUE...
__ADS_1