SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
AKILA DAN PENGALAMAN BARUNYA DI IBUKOTA


__ADS_3

Akila telah sampai di Ibukota, pukul satu siang.


Seperti yang bu Widia arahkan, ia langsung menuju wisma gedung perusahaan yang menjulang tinggi berlantai 15.


Gedung yang sangat indah! Ini rupanya salah satu gedung pencakar langit itu. Ada berapa tingkat ya bangunannya? Berarti para karyawannya bukan ratusan lagi mungkin! Atau ribuan? Tapi..., kayaknya banyakan karyawan pabrik ya pastinya dibandingkan karyawan kantorannya. Terus, kalo ada gempa... bagaimana ya?!?


Akila menatap keheranan dengan pandangan takjub ke arah gedung.


"Mbak? Sedang apa berdiri di depan pagar?" tanya sekuriti dengan suara tegas dan terkesan galak.



"Saya..., ada janji ketemuan sama bapak HRD Personalia. Saya, dapat mandat dari Ibu Widia Hapsari."


"Neng, mau magang ya? Dari SMA mana? Tapi ini hari minggu, Neng! Kantor tutup. Besok pagi aja datang lagi! Pak Topan juga masuk kerjanya besok!" kata sekuriti yang satu lagi. Yang ini jauh lebih ramah dan juga sopan.


"Tapi..., saya dapat keterangan dari bu Widia untuk bertemu pak Topan sekarang, Pak!"


"Ck ck ck...! Ngeyel amat sih nih bocah?!"


"Sttt..., jangan marah gitu, Bram! Tadi pagi bukannya pak Topan bilang Anto ya? Kalau akan ada perempuan yang mau masuk mess karyawan siang ini?"


"Mana kutahu? Mana si Anto?"


"Sebentar ya, Mbak!?"


"Iya, Pak! Terima kasih banyak!"


Akila menchat Widia, kalau dia sudah sampai di gerbang gedung perusahaan.


Treeet... treeet... treeet

__ADS_1


"Hallo, bu Widia?"


...[Akila sudah sampai? Pak Topan sudah menemuimu? Kalau belum, coba hapemu kasih sekuriti!]...


"Pak? Maaf... ini, bu Widia mau bicara sama Bapak!"


"Mau apa? Mau bohong ya sama Aku?" jawab sekuriti yang judes itu. Ia menolak permintaan Akila dan juga mendorong hape Akila yang disodorkan ke arahnya. Sementara sekuriti baik yang satunya sedang pergi mencari temannya yang bernama Anto.


Untungnya, tak lama kemudian dua sekuriti itu baik datang dengan wajah full senyuman.


"Mbak Akila, ya?"


"Iya, Pak!"


"Kata Pak Topan, Mbak langsung saja masuk. Ini kunci mess Mbak. Nomor A3, kamarnya! Hehehe..., saya Anto! Selamat datang di Gedung PT MAKMUR SENTOSA! Moga betah kerja di sini!"


Sekuriti muda bernama Anto langsung menyambut Akila dengan hangat sembari memberikan satu anak kunci pada gadis imut itu.


"Ayo, mari saya antar!"


Kedua sekuriti yang berjaga di pos utama hanya bisa bengong menatap Akila yang diperlakukan sangat baik oleh rekannya itu.


"Ck, kebiasaan si Anto! Kenapa sih kerjanya gak fokus gitu, mentang-mentang perempuan muda!" umpat sekuriti yang galak.


"Eh, gadis itu titipan bu Widia Hapsari. Nyonya besar pemilik perusahaan ini! Sembarangan kau kalo ngomong! Dia itu gadis biasa pertama yang masuk kerja lewat jalur khusus atas rekomendasi pemiliknya sendiri! Kau tau gak, cucu-cucunya sendiri gak pernah Nyonya dan Tuan rekomendasikan lewat jalur khusus selama ini!"


"Hah?!? Jadi,... yang tadi telepon itu beneran bu Widia Nyonya pemilik perusahaan ini?"


Pucat pias seketika sekuriti galak itu.


"Ck ck ck...! Makanya, berobat Cok! Darah tinggimu itu bikin kerjaanmu jadi sering terganggu! Kerja kau cuma marah-marah melulu! Bisa SP dan PHK kau! Hehehe..."

__ADS_1


Sekuriti baik hanya menggoda temannya itu. Tapi seketika ia malah mendapat amukan dari sang teman. Baku hantam tapi hanya candaan pun tak terelakan. Hingga akhirnya mereka terkekeh dengan tawa santai.


Akila dibantu Anto, sekuriti yang telah mendapatkan perintah dari HRD Personalia untuk menyambut dan menerima Akila dengan baik sampai pintu kamar messnya.


"Mbak Akila, saya permisi pamit!"


"Makasih banyak, Mas Anto! Oh iya, apa Pak Topan akan menemui saya hari ini?"


"Saya kira engga' deh! Pak Topan sedang ke luar kota, piknik bersama keluarganya. Kemungkinan besok pagi mungkin Mbak masuk kantor langsung temui pak Topan!"


"Gitu ya? Baik Mas, makasih ya atas bantuannya!"


Akila bersyukur sekali, Tuhan permudah langkahnya dengan dipertemukan kepada orang-orang baik.


Ia menghela nafas lega sembari mengunci pintu kamar messnya setelah sekuriti bernama Anto itu kembali ke tempat tugasnya.


Akila sibuk mengeluarkan semua pakaian dan barang bawaannya dari ransel serta dus bekas indomie di atas kasur busa ukuran 120x200.


Kamarnya memang mungil, berukuran sekitar 3x8meter lengkap ruang kamar, dapur dan kamar mandi. Bahkan lengkap fasilitas seperti kasur busa walau tanpa dipan, lemari plastik empat susun, dua kipas angin besar diatas langit-langit kamar tamu dan kamar tidur, serta satu meja kayu berikut kursinya yang sederhana.


Akila senang sekali.


Treet... treet...


"Hallo? Bu Widia? Terima kasih banyak, Akila sudah masuk kamar mess, Bu! Iya. Terimakasih! Besok Akila langsung temui Pak CEO Georgino Gunawan? Oiya, baik Bu! Makasih! Selamat siang!"


Lagi-lagi Widia menghubungi Akila. Wanita lansia itu begitu sangat memperhatikannya. Membuat hati Akila menghangat mendapat kebaikan yang luar biasa dari orang yang belum begitu lama dikenalnya.


Sementara Widia sendiri, kini lega hatinya. Akila telah masuk mess karyawan. Berarti tinggal besok menemui cucunya untuk langsung ditempatkan di divisi mana yang cocok dengan kemampuan kerjanya.


Widia bisa mengabari Anne, kalau salah satu putrinya itu sudah dia berikan tempat pekerjaan yang cukup layak.

__ADS_1


๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE


__ADS_2