
"Zahira! Maaf...! Maaf kalau sikapku tidak dewasa selama ini!"
Zahira menunduk. Ia tak menjawab. Hanya sibuk mempermainkan jari jemarinya yang lentik.
Demian mengajaknya bicara empat mata ketika Jonathan sudah tertidur pulas.
Gege dan Devana juga telah pulang lagi setelah lega dari kecemasan akan kondisi Jonathan yang terkena musibah di panggung fotoshot sewaan mereka.
Tentu saja Gege sangat marah dan berniat menuntut pihak pemilik panggung yang teledor memasangnya asal-asalan hingga bisa terjadi kecelakaan.
Tetapi Zahira tidak menginginkan keributan makin berlanjut. Ia memohon Deva agar tidak memperpanjang urusan. Apalagi pernikahan Deva dan Gege tinggal beberapa hari lagi. Jo juga hanya luka sobek beberapa senti saja. Yang penting nyawa putranya tidak terancam seperti yang tadi ada dalam fikiran buruk Zahira.
Sempat terjadi perdebatan, namun Jo sendiri yang meminta Gege serta Devana untuk tidak menuntut pihak dekorasi demi pekerjaan Mamanya.
Membuat Gege, Deva juga Demian terharu dan tersentuh akan kebaikan hati putri Zahira yang pendiam itu.
"Zahira!"
Zahira tersentak. Demian menatap wajahnya ketika Zahira sedang melamun.
"Aku dan Jonathan tidak punya kapasitas untuk membenci kalian. Kau juga Nabila! Kami sadar, keadaan kami tidak seperti kalian. Kami hanyalah manusia rendah di mata kalian. Yang bisa dijadikan tameng untuk keselamatan kalian dengan berbagai alasan! Jangan khawatir. Aku dan Jo tidak akan mengusik hidupmu juga keluarga besarmu! Maaf..., kalau pada akhirnya kedua orangtuamu mengetahui keadaanku dan Jonathan karena kesalahan famili kami yang lost control." ungkap Zahira datar.
"Aku tidak bisa menerima kenyataan kalau Jo adalah darah dagingku!"
"Jangan dilanjutkan! Jangan kau buka lembaran lama yang sudah kututup rapat-rapat! Jonathan adalah putraku. Jangan buat berita bohong menyebar luaskan hoaks!"
"Zah!"
"Biarkan kami hidup tenang. Dan kami tidak akan mengusik kehidupanmu juga!"
Zahira masuk kembali ke kamar Jonathan. Meninggalkan Demian yang termenung sendirian.
Demian merasa dadanya sesak.
Betapa perbuatannya kemarin itu sangat menyakiti hati Zahira apalagi Jonathan.
Padahal mereka sama sekali tidak bersalah. Zahira justru adalah korban. Dan Jonathan malah hasil dari aib yang Demian lakukan.
Sungguh rumitnya permasalahan Demian kini.
__ADS_1
Andaipun ia ingin bertanggung jawab, itu tidak lagi memungkinkan. Sikap dinginnya yang kejam telah melukai perasaan Zahira dan Jonathan. Demian menyadari itu.
Akhirnya pria dewasa itu hanya bisa meminta maaf pada Tuhan atas segala perbuatannya di masa lalu.
Demian juga memohon agar masa depan Jonathan jauh lebih baik dari saat ini. Itu harapan terbesarnya kini.
............
Hari demi hari, Demian menunggu hari besar Gege dan Devana tiba.
Ia kadung berjanji, untuk hadir dan menjadi pendamping mempelai pengantin wanita menuju meja ijab kabul.
Beberapa hari tinggal bersama adik-adik panti asuhan membuat fikiran Demian semakin terbuka. Ia bahkan sering menitikkan air mata diam-diam sembari menatap wajah-wajah polos yang sedang bermimpi indah di ranjang-ranjang tidur mereka.
Teringat kisah hidup mereka yang pahit bahkan lebih pahit dari dirinya, membuat Demian makin malu pada dirinya yang dahulu.
Ia seringkali menyalahi nasib sialnya yang selalu mendapatkan kekerasan dari kedua orangtuanya sendiri.
Bahkan pukulan serta cacian ia dapatkan dari perempuan suci yang telah melahirkannya kedunia ini.
Dulu dia seringkali benci Papa Mamanya. Seringkali cuek bahkan cenderung mengabaikan semua ucapan mereka. Dari waktu ke waktu, seiring tubuh serta hatinya yang kini membatu membuat Demian tak lagi pikirkan perasaan dirinya sendiri.
Surya Abdi juga datang di H-2 hari pernikahan Devana-Satria Georgino.
Semua orang bahagia. Demian senang walau hanya dia seorang yang sendirian.
Demian kini mengerti Tuhan menempanya dengan ujian dan cobaan untuk membuatnya menjadi manusia kuat.
Hari ini gladi resik pernikahan Deva Gege.
Zahira dan Jonathan kembali datang karena Zahira lah Make Up Arts pernikahan tantenya itu.
Semua persiapan pernikahan hampir rampung. Tinggal satu persen lagi yaitu ijab kabul di hari H.
Yayasan Bunda Anne disulap seperti gedung mewah. Dekorasi pelaminan pernikahan dipasang disekitar aula yayasan yang luas dengan hiasan bunga-bunga hidup yang segar.
Begitu indah, memanjakan mata.
Gege dan Deva menginginkan pelaminan yang sederhana namun indah. Juga tidak ingin ada lagi kejadian lima hari yang lalu terulang lagi.
__ADS_1
Mereka kini jauh lebih rewel dalam memilih hiasan yang tidak membahayakan keluarga besarnya serta para tamu.
Melihat Zahira dan teamnya bekerja keras super ekstra demi kelancaran pernikahan sepupunya membuat Demian terharu juga.
Diam-diam ia memperhatikan wanita cantik yang sedang sibuk mengatur dekorasi pelaminan pernikahan dan kamar mempelai pengantin.
Demian kembali teringat Nabila. Fikirannya menerawang mengenang cintanya yang suci dan abadi pada Nabila.
Nabi...! Andaikan kau masih ada. Mungkin saja saat ini kita sudah bahagia. Bersama, mengasuh putra yang kau inginkan lahir dari sel sp*rmaku. Nabila...
Demian menelan salivanya.
Ia melirik Zahira yang sedang merangkai bunga-bunga di pinggiran ranjang pengantin yang indah. Saking sibuknya sampai tak mengetahui Demian yang berjalan mendekat.
"Banyak sekali melati yang dipakai!" kata Demian pelan dengan mata takjub pada keterampilan Zahira yang masih menyelesaikan tugasnya sedikit lagi.
Zahira tak menoleh. Hanya senyuman manis yang tersungging membuat Demian terpana.
Gadis ini punya senyum yang teramat manis! Dulu aku sama sekali tak punya kesempatan melihat senyumnya ketika bergelut di atas ranjang! Apa..., dia sama sekali tidak menikmati permainanku kala itu?
Demian berusaha mengingat kembali pergumulan panasnya dengan Zahira sepuluh tahun yang lalu.
Kala itu, ia sudah dalam kondisi mabuk parah.
Seorang pelayan hotel mengetuk pintu kamarnya. Pelayan itu bilang, wanita pesanannya telah datang.
Demian terus mengingat namun hanya wajah Nabila saja yang bisa ia kenang.
Saat itu dirinya sangat marah dan kesal. Nabila memutuskan pergi ke negeri seberang dengan alasan melanjutkan kuliah di Australia. Hhh...
"Kamu? Mau apa masuk kamar pengantin?" tanya Zahira. Sontak Demian mundur dan berbalik arah keluar kamar.
Masa lalu yang pahit. Ketika dikenang justru hanya menimbulkan kesakithatian yang mendalam.
Membuat Demian ingin segera pergi ke kota L secepatnya.
...๐TO BE CONTINUE...
__ADS_1