SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Akhirnya...,


__ADS_3

Demian terjebak dengan situasi yang membuatnya dilema dan gegana.


Para pemegang saham mulai kasak-kusuk dengan kinerjanya yang dinilai tak becus mengambil keputusan. Bahkan beberapa kali perusahaan diambang kejatuhan. Nyaris dilaporkan pihak berwajib karena wanprestasi dan melanggar perjanjian kontrak kerja dari yang seharusnya.


Demian stres bekerja sendirian.


Surya yang seharusnya jadi partner dalam segala hal malah hilang bak ditelan bumi. Hapenya mati total. Tak bisa dihubungi.


Demian juga seperti anak ayam yang kehilangan induknya.


Bertanya pada kedua orangtuanya pun sama juga bohong. Mereka justru membelokkan diskusi seriusnya dengan mencoba mendapatkan suntikan dana ke perusahaan baru mereka dibidang fashion. Hhh...


Tiada yang bisa Demian mintai pendapat apalagi bantuan.


Gege maupun Indra, semuanya telah hengkang dari perusahaan termasuk saham-sahamnya.


Devana, sudah dua hari tak terlihat batang hidungnya. Ponselnya pun sulit dihubungi.


Benar-benar makin membuat Demian depresi.


Kakak-kakak serta om dan tantenya pun seolah tutup mata dengan keadaan yang ada. Semua sibuk dengan diri sendiri. Tak lagi peduli pada nasib perusahaan warisan kakeknya yang kini sudah dipecah belah kepemilikannya.


Ditempat lain...


Gege dan Devana semakin dekat serta akrab. Bahkan Dev kini sedang memasak sementara Gege mencat dinding bilik ruang kamar.


Keduanya begitu kompak dan semangat.


Sesekali saling lempar candaan dan pujian membuat hati keduanya menghangat.


Pukul enam menjelang maghrib, karena tak ada aliran listrik seperti hari pertama mereka menyalakan lampu klenting atau pelita.


Duduk di ruang tengah, mengobrol santai dengan ditemani sepiring singkong goreng yang sebelumnya Devana kukus dahulu.


"Waah, Dev! Singkongnya mantul. Mirip singkong keju ya? Empuk dan sangat enak. Kokinya terbaik deh!"


"Kokinya itu siapa ya?" tanya Deva setengah bergurau.


"Kokinya Nona Besar!"


"Ish! Apaan sih, Kak?! Jangan gitu dong! Aku minder kalo kamu ngomongnya gitu. Kesannya justru seperti menyindir!"


"Tapi kamu khan memang Nona Besar sekarang, Dev! Maaf deh, kalau kata-kataku tadi seperti kata ledekan. Justru aku selalu ingin mengucapkan kata itu supaya aku terus ingat!"


"Ingat apa, Kak?"


"Ingat kalau statusmu bukan orang sembarangan. Keturunan dari orang besar dan bukan wanita yang bisa kucoba untuk...,"


"Untuk apa? Kenapa terputus?"


"Maksudku, aku tidak boleh sembarangan lagi padamu. Berbeda dengan aku. Pura-pura menjadi batu permata di istana Kakek Gunawan, padahal aku hanyalah batu akik yang naik derajat."


"Kenapa Kakak berkata seperti itu? Apa kakak sedang menyindirku lagi?... Aku ini, sejak lahir tak punya siapa-siapa. Tak tahu apa-apa. Hanya sesosok bayi yang dibuang tanpa perasaan. Jangankan martabat, harga diri pun sudah tak ada sedari lahir. Miris bukan? Hhh... Seiring waktu, aku berusaha tegar menerima nasib. Mendapatkan kasih sayang Bunda Anne yang bahkan sampai sekarang pun belum bisa aku balas jasa-jasanya adalah anugerah terindah dalam hidupku. Lalu, seorang lelaki baik hati dan berbudi datang dengan gagah perkasa mengaku jatuh cinta padaku. Hingga anugerah lain yang sangat berharga dalam hidupku lahir. Ericko Putra Sukoharjo. Darah dagingku dengan almarhum. Sudah dua hari tiga malam, aku tidak melihat wajahnya..."


Devana menghentikan ucapannya.


Gege merasakan kesedihan hati dari wanita yang telah menjadi istri kontraknya selama empat bulan kemarin.


Perlahan Gege mendekat. Mencoba meraih jemari Deva sambil menatapnya penuh kelembutan.


"Aku..., aku tidak tahu, mengapa Tuhan begitu senang mengujiku. Aku tidak mengerti. Dan kapan Tuhan akan memberiku kebahagiaan. Hik hik hiks...!"

__ADS_1


Gege makin merapatkan tubuhnya. Devana direngkuh bahunya, membuat wanita muda itu menenggelamkan wajahnya di dada Georgino.


"Aku ini perempuan yang menyedihkan. Tak tahu apakah akan ada yang bisa memberiku dan Ericko support atau dukungan nanti, aku... aku justru merasa sangat miris menjalani hidup ini! Hi hik hiks..."


Gege membiarkan Deva terus mengungkapkan keluh kesahnya. Pelukan hangat serta sentuhan lembut usapannya dibahu Deva, semoga bisa meringankan beban hidup wanita muda yang akan berumur 23 tahun bulan depan itu.


"Aku pasti akan selalu mendukung dan menyupport kamu juga Coco, Dev! Percayalah! Aku siap dimintai bantuan apapun dan kapanpun itu!"


"Bohong! Kak Gege bohong! Hik hiks..."


"Aku tidak bohong, Dev! Sumpah demi Tuhan, aku menyayangi kalian melebihi diriku sendiri!"


"Tapi kemana saja Kakak selama ini? Tak pernah menchatku. Tak pernah peduli pada kami meskipun itu hanya sekedar basa-basi. Kakak seolah melupakan kami!"


"Itu karena Kakak minder denganmu, Dev! Siapalah aku ini! Jauh jika dibandingkan dengan dirimu!"


"Aku ini siapa, kakak yang lebih mengenal dan faham aku. Hik hiks...! Bisa-bisanya kakak cuek, pura-pura acuhkan kami dan tak peduli lagi!"


"Aku memantau kalian dari kejauhan! Aku selalu memperhatikan kalian diam-diam, Deva. Bahkan saat kalian pergi bersenang-senang dengan Demian, aku menahan perasaan ini dengan hati yang berkecambuk! Aku..., sebenarnya aku cemburu. Tapi apalah dayaku, siapa pula aku ini di matamu!"


"Kakak..."


Keduanya saling bertatapan. Air mata Devana berlinang. Ia menatap Gege dengan banyak pengharapan. Semoga riak-riak gelombang asmara yang tersirat di bola matanya tersampaikan pada Georgino alias Satria.


Gege pun memiliki perasaan yang kurang lebih sama dengan Devana. Ia mulai timbul kepercayaan diri. Lalu...


"Deva! Apakah aku ini pantas jika mencintaimu?" tanya Gege membuat hati Deva bersorak.


"Apakah kamu..., sungguh-sungguh mencintaiku?"


"Kamu, tidak percaya kalau aku jatuh cinta padamu? Bolehkah aku jujur?"


Devana menatap semakin lekat mata Gege.


"Aku, Satria... Sejak awal jumpa sudah jatuh hati padamu, Devana. Bahkan, selain rasa iba... Namun di relung hati yang terdalam ini, ada janji yang telah kuucapkan dalam diam. Aku akan menjagamu dan Coco sampai aku menutup mata. Bahkan meskipun kita tak berjodoh dan Tuhan memberimu jodoh lain yang lebih baik, aku tetap akan selalu mendukungmu dan Ericko sampai aku mati!"


"Kakak!!! Jangan bilang begitu!!!" jerit Devana seraya memeluk erat tubuh Gege dengan isak tangis yang menyayat hati.


"Cintai aku dengan hatimu yang tulus suci murni, Kakak Ge! Aku..., aku juga menyayangimu tulus! Aku ingin menjadi bagian hidupku jika kamu benar-benar mencintaiku! Hik hik hiks..."


Gege seperti tak percaya dengan ucapan kalimat yang terlontar dari bibir Devana.


Ia segera melepas pelukannya. Menatap lekat wajah cantik dihadapannya dengan mulut ternganga.


"Devana! Benarkah ucapanmu? Benarkah itu?"


Devana mengangguk. Ia menunduk malu. Ia tak dapat menahan lebih lama gejolak dihatinya. Cintanya pada Georgino ingin segera ia sampaikan. Tak ingin berlama-lama menyimpannya karena takut kehilangan lagi.


Gege memeluk erat tubuh Devana.


Ia tertawa sambil menangis.


Hatinya senang bukan kepalang. Bahkan Gege mengucapkan kata terima kasih berkali-kali pada Devana yang telah begitu berani mengatakan kejujuran yang membahagiakan hatinya.


Kini mereka saling bertatapan. Lama dan penuh kemesraan.


Suasana hujan yang membuat keduanya terbuai asmara semakin menghanyutkan jiwa.


Devana bergelayut di pelukan Gege. Dan Gege merangkul erat bahunya dengan penuh cinta. Keduanya menangis dalam senyuman. Tersenyum bahagia dan menangis karena luapan kegembiraan.


Tangan Gege mengusap lembut rambut indah Devana.

__ADS_1


"Aku cinta padamu, Deva!" bisiknya lembut ditelinga sang kekasih yang baru ditembaknya beberapa belas menit lalu.


"Aku juga cinta padamu, Kak Gege!"


Lagi-lagi mata mereka saling bertatapan.


"Bolehkah aku,... mencium... bibirmu?" bisikan Gege membuat Deva menunduk. Wajahnya memerah karena malu. Ia mengangguk pelan dengan mata tertunduk malu.


Gege tak ingin kehilangan momen penting itu.


"Aku tidak akan meminta lebih, karena kita belum menikah, Sayang! Aku hanya ingin membuktikan cintaku tidak main-main. Dan aku serius padamu, Deva. Terlepas dari semua permasalahan yang ada tentang masa lalu kita dan siapa kita... Aku, sayang padamu!"


Gege mel*mat bibir indah wanita yang kini telah jadi kekasihnya itu.


Setetes airmata jatuh dari kelopaknya. Hatinya bahagia. Akhirnya Devana menerima utuh dirinya lengkap dengan segala kekurangannya.


Pag*tan demi pag*tan semakin membuat bola liar nafsu semakin menggelinding jauh.


Selain cuaca yang mendukung, usia keduanya yang telah dewasa membuat mereka lupa dan ingkar janji.


Malam itu, Gege menggendong tubuh Devana masuk kedalam kamar biliknya yang masih bau cat kayu.


Ada untungnya, sehingga kegiatan yang nyaris bablas itu pun tak terjadi karena bau cat basah yang menyengat.


Keduanya tertawa terkikik sambil kembali ke ruang depan dan menggelar kasur lantainya ke luar.


Malam ini mereka tidur berpelukan. Saling berpegangan tangan dan tubuh rapat satu sama lain. Belum terjadi sesuatu, sampai...


Deva merasa sesuatu yang menggelitik muncul tiba-tiba dari balik celana katun Georgino.


Ah... (Authornya pingin skip, tapi koq kesannya... Peace adegan 21+ ya!)


Pukul tiga dini hari.


Cuaca dingin membuat Devana dan Gege saling berebut menarik selimut.


Dalam keadaan setengah sadar dan mata yang mengantuk, Deva menarik sesuatu seperti pucuk.


"Aduh!"


Gege spontan berteriak mengaduh. Sesuatu berharganya yang memang normal berdiri di malam hari menjelang pagi karena hawa dingin.


Devana sontak terperangah, menyadari bagian tubuh Gege yang ia tarik tanpa sengaja. Niatnya hanyalah ingin menarik selimut yang cuma selembar itu untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan.


"Ma-maaf!" gumamnya lirih.


Keduanya saling bertatapan. Baru tersadar kalau mereka kini adalah sepasang kekasih.


Gege langsung mel*mat lagi bibir Deva.


Ia kadung terbuai dengan suara indah kekasihnya yang merdu di pagi hari buta. Keduanya bergumul dengan bibir saling bert*utan. Membuat suhu tubuh yang tadinya dingin seketika hangat bahkan kian memanas.


Keduanya,... Terbuai suasana hingga,


Tatapan mata Gege yang bagaikan tatapan Arjuna yang mengiba membuat Deva pasrah pada gerilyaan tangan sang kekasih.


"Yang...! Ingat, Yang! Yang..., kita belum menikah, Yang!" bisikan lembut Devana justru membuat Gege makin buas menggeray*nginya.


"Mari kita menikah, Sayang! Mari kita menikah hari ini juga! Ayo, ayo, Yang!... Aku inginkan dirimu jadi milikku seutuhnya! Kamu hanya milikku seorang, Yang!"


Malam indah menjadi malam berlumur dosa pula.

__ADS_1


Notes : Janganlah melakukan hubungan intim jika belum resmi menikah. Dengan alasan apapun. Karena itu dosa dan Tuhan melaknat hubungan yang demikian. Untuk meminimalisir timbulnya perasaan-perasaan yang berlebih, dilarang berduaan dengan lawan jenis. Karena dikhawatirkan ada setan yang selalu siap menggoda iman kita, insan manusia.


...๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE...


__ADS_2