SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
KEJADIAN LAIN


__ADS_3

Hari ini dunia terasa gelap bagi seluruh anggota keluarga Gunawan Wicaksono.


Sang Kakek pemilik asli perusahaan manufaktur terbesar di negara ini telah kembali kepada Penciptanya.


Gunawan Wicaksono telah meninggal dunia di usianya yang ke-78 tahun.


Disaat ia mengetahui memiliki satu anak dari hubungan gelapnya dengan keponakan yang usianya seumuran anak pertamanya.


Apa lacur, semua telah menjadi bubur.


Keadaan tak lagi bisa disembunyikan.


Semua kini dibongkar sendiri oleh sang istri melalui orang kepercayaannya sendiri.


Bertahun-tahun Gunawan mencari fakta dan keberadaan sang kekasih gelap yang menghilang tanpa jejak. Ternyata, Tuhan merancang skenario hidupnya dengan begitu indahnya.


Sekian lama mencoba meluruskan semua perbuatannya yang salah, Gunawan mencoba meminta pengertian sang istri agar mengizinkannya poligami dengan keponakan sendiri. Setidaknya, Gunawan ingin mencuci tangannya yang pernah kotor karena kelakuan bejadnya di tahun-tahun yang lalu.


Tetapi Claudia seolah menghilang dari pandangan. Bertahun-tahun Gunawan berusaha menelusuri jejak gadis yang pernah sangat dicintanya itu disaat yang salah, tetapi tak ada hasil.


Semua seperti buntu. Pencariannya sia-sia. Bahkan adik Widia memutuskan hubungan persaudaraan dengannya dan pindah ke kota lain, entah kemana.


Semula Gunawan pikir, Claudia ikut orangtuanya. Tetapi setelah ia memerintahkan bawahannya untuk menyelidiki, Claudia tak ada bersama mereka.


Waktu terasa lambat berjalan bagi Gunawan.


Seiring Widia yang mulai sembuh perlahan dan kembali bisa memberinya cinta baru yang lebih bijaksana di umur tua mereka.


Gunawan mulai bisa melupakan Claudia.


Ia giat bekerja dibantu putra sulungnya. Ketiga anak perempuannya perlahan juga ikut walaupun tak bisa ia andalkan terlebih para menantunya yang hanya inginkan uangnya saja.


Gunawan berharap suatu hari kembali dipertemukan Tuhan dengan Claudia. Meminta maaf dari hatinya yang tulus karena pernah membuat hidupnya jadi tambah susah oleh cinta Gunawan yang tak pada tempatnya itu.


Cinta adalah sesuatu yang agung. Tetapi jika tidak ditempatkan di tempat yang semestinya, cinta justru membuat si pemujanya menjadi hina.


Gunawan memahami pemaparan itu, karena usianya yang sudah uzur.


Akila terkejut ketika dipagi hari kantor seperti sibuk, tetapi semua karyawannya justru berwajah muram.


"Ada apa, Mas?" tanya Akila pada Anto, sekuriti yang pernah membantunya itu.


"Boss besar meninggal dunia!" bisik Anto.


"Siapa?" tanya Akila dengan suara pelan.


"Pak Gunawan Wicaksono!"


Akila diam. Secara pribadi ia belum pernah bertemu dengan Gunawan. Tapi secara umum, Akila tahu kalau Gunawan Wicaksono adalah suami dari Widia Hapsari.


"Bu Widia pasti sedih! Pantas, tak pernah lagi menghubungiku! Mungkin pak Gunawan sakit parah ya?!" gumamnya pelan, lebih tepatnya pada diri sendiri.


"Apa, Kila?" tanya Anto memastikan perkataan Akila tadi.


"Engga', Mas! Hehehe..."


Tin tin tin

__ADS_1


Sebuah mini cooper memasuki gerbang kantor yang terbuka. Seorang penumpangnya menurunkan kaca belakang lalu memanggil Akila.


"Aih? Boss Surya?"


"Akila! Lekas ganti pakaianmu warna hitam-hitam! Ikut aku sekarang juga!"


"Hah? Saya Boss?"


"Iya, cepat!"


Akila yang kebingungan bergegas segera kembali ke mess nya. Mengganti pakaian kerjanya dengan warna hitam.


"Hiks...! Aku gak punya baju hitam!" pekiknya bingung.


Tiba-tiba pintu messnya diketuk.


Tok tok tok


"Cepat, Kila! Pemakaman akan berlangsung sejam lagi!" teriak Surya dari balik pintu.


Akila akhirnya menarik gamis tiga per empatnya yang berwarna hitam. Kerudung saten tipis sebagai pelengkap penutup kepalanya.


"Sudah?"


"Boss, pakaian hitam saya cuma ini!"


"Ya sudah, ayo cepat!"


Semua karyawan diliburkan. Kantor hari ini ditutup. Sebagian atasan mengikuti acara pemakaman sang atasan mereka dengan iring-iringan mobil.


"Ibu Widia gimana keadaannya, Boss?"


"Nenek sakit!" jawaban singkat Surya membuat Akila tutup mulut dan tak lagi mengeluarkan pertanyaan.


Sebenarnya untuk apa aku diajak Boss S**urya ikut pemakaman? Kapasitasku disini sebagai apa? Tak ada kepentingan sama sekali juga!


Rutuk hati kecil Akila gamang.


Surya diam, bahkan terkesan mendiamkan.


Padahal perjalanan dari Ibukota ke San Diego Hills lumayan jauh. Tetapi karena iringan jenazah orang nomor satu di PT MAKMUR SENTOSA mendapatkan pengawalan ketat dari pihak Kepolisian Ibukota, hanya butuh waktu beberapa jam saja.


Demian, Gege dan para cucu lainnya berada dikendaraan yang berbeda.


Semua anggota keluarga konvoi dibarisan terdepan. Benar-benar seperti ada barikade pawai kesannya. Suara sirine dari mobil ambulan dan mobil serta motor patroli polisi membuat suasana perjalanan semakin hikmat serta sedikit suram.


Hingga tiba di sebuah tempat pemakaman elit yang lebih mirip perbukitan terhampar luas dengan rerumputan hijau sang sangat estetik di kiri kanannya.


Akila mengikuti Surya dari belakang.


Sebenarnya ia ingin menjauh perlahan. Lalu menghilang dan berbaur dengan para karyawan yang berdiri paling belakang.


Tetapi Surya justru menoleh sembari melambaikan tangan. Ia memberi isyarat agar Akila mempercepat langkahnya.


Hiks, ngapain sih aku harus terus berada di dekatnya?


Akila tak berani menolak selain bergegas berjalan cepat ke arah cucu petinggi yang kini mempunyai jabatan wakil CEO II itu.

__ADS_1


Akila mencoba melirik kanan dan kiri. Terkejut ia melihat sosok wanita yang begitu dikenalnya.


Kak Dev? Kak Deva ada ditengah-tengah keluarga besar Tuan Gunawan Wicaksono? Koq bisa? Kenapa kak Dev bisa ada di sini? Apa kak Chandra adalah anggota keluarga bu Widia juga?


Akila menerka dalam hati.


Ia hanya sesekali melirik. Posisi mereka bersebrangan. Dan Devana sepertinya tidak melihat Akila. Wajahnya terus tertunduk dengan tangan sibuk menghapus lelehan airmata serta cairan basah yang keluar dari hidungnya.


Anggota keluarga yang lain juga terlihat seperti Devana. Tetapi dandanan mereka serasi dengan setelan hitam-hitam dan kaca mata hitam. Aura berduka tampak jelas terlihat.


Devana sesekali membetulkan kerudung brokatnya yang terjatuh ke atas bahu.


Akila hanya bisa memperhatikan kakak pantinya itu dalam diam.


Fikiran Akila terus menebak kenapa Devana bisa berada diantara mereka. Hingga suatu ketika, sang CEO yang berdiri disampingnya mencoba merengkuh tubuh Devana yang terlihat tidak baik-baik saja.


Devana mundur beberapa langkah ketika prosesi pemakaman dimulai.


Wanita itu tak sanggup menyaksikan ayah biologisnya dimasukkan kedalam liang lahat.


Tangisnya pecah mengenang betapa mereka begitu dekat dalam tiga bulan terakhir ini.


Devana sering mengobrol dengan Gunawan. Bahkan kadang bercanda menggoda Ericko yang selalu dibawa keliling paviliun mewahnya.


Gunawan telah memberikan kebahagiaan tersendiri sebagai seorang kakek kepada cucunya. Dan ternyata, Ericko adalah cucu kandungnya Gunawan. Membuat Devana kembali merasa sangat hancur hatinya.


Ia tak ingin menyalahkan siapapun. Apalagi menyalahkan Tuhan. Tidak ada manusia di dunia ini yang benar-benar lurus jalannya. Devana faham betul soal itu.


Tetapi hatinya pedih mengingat dirinya yang adalah seorang anak yang terlahir dari suatu hubungan terlarang. Antara Gunawan dengan Claudia, Ibunya. Yang adalah paman dan keponakan.


Lagi-lagi lutut Devana bergetar. Hingga dua orang perempuan menuntunnya ke tenda belakang untuk duduk dan istirahat.


Akila yang terus memantau keadaan sang kakak, ikutan mundur perlahan kebelakang dan terus berusaha mendekati Devana.


Tapi Akila tak mau membuat keributan dengan suaranya. Sehingga ia lebih memilih terus mendekat perlahan tanpa suara.


Namun tiba-tiba Devana justru dituntun dua wanita bermasker hitam itu masuk ke dalam sebuah mobil mewah.


Devana seperti melihat ada sesuatu yang janggal. Ia menoleh ke arah kedua wanita kuat itu namun salah seorang dari mereka malah membekap mulutnya dengan saputangan. Devana seketika melemah dan jatuh pingsan.


Eh? Eh??? Koq???


Akila yang terkejut melihat kejadian itu dari jarak dua puluh meter langsung bergegas mendatangi mobil yang membawa Devana.


Namun terlambat. Mobil bagus itu langsung pergi dengan cepat tanpa ada yang memperhatikan dan curiga karena semua fokus pada acara pemakaman Gunawan Wicasono.


"Hei...! Tunggu!!!"


Akila berusaha mengejar, tetapi tak berhasil.


Tiba-tiba sebuah mobil lain yang ada di belakangnya berhenti. Seorang pria botak menarik Akila dengan kuat lalu mendorongnya masuk ke dalam mobil.


Akila langsung disergap dua pria lain yang ada di dalam.


Suasana yang mencekam membuatnya baru tersadar kalau Devana dan dirinya sedang menjadi korban penculikan.


...๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE...

__ADS_1


__ADS_2