
Devana terbangun dari mimpi buruknya. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Merasa sangat ketakutan mengingat mimpi yang seperti nyata dialaminya tadi.
"Kamu sudah sadar?"
Gege menanyainya dengan suara khasnya.
Spontan Dev menoleh sambil menghela nafas. Deva memandang keadaan kamar sekitarnya. Kamar Georgino Gunawan.
"Kapan kita akhiri semuanya, Kak?" tanya Deva dengan suara serak.
Tiba-tiba Gege menubruknya. Memeluk Deva dengan erat sambil terisak.
"Kakek...! Kakek sudah meninggalkan kita, Deva! Kakek... dipanggil Yang Maha Kuasa!" ucapnya lirih.
Tentu saja Deva tak percaya. Ia mendorong tubuh Gege yang tegap dan berotot.
"Apa? Apa maksud Kakak?"
"Kakek sehat! Kakek tak sakit. Mana mungkin Kakek..."
Devana baru menyadari kalau peristiwa tadi bukanlah mimpi. Tapi nyata, ia alami semuanya.
Air matanya telah mengering. Kesedihannya kini membuatnya seperti orang yang kebingungan.
Gege menuntunnya keluar.
Semua orang baik keluarga besar Gunawan Wicaksono maupun kerabat dan sahabat konglomerat itu memandang Devana seperti makhluk luar angkasa.
Semua orang berwajah pucat pias, lemas dan tak punya keinginan saling merangkul satu sama lain.
"Nenek!" bisik Dev pada Gege.
Pria itu seolah mengerti maksud Devana. Ia menuntun Dev memasuki ruang kamar Widia dan Gunawan. Tampak disana Widia tengah tertidur lelap. Dokter baru saja menyuntikkan obat penenang agar Widia tak berteriak-teriak terus melihat sang suami yang telah tiada.
"Tolong jangan mendekat!" ucap Nani pada Devana dengan suara pelan. Ia menuntun Devana duduk di ruang sekat kamar Widia.
__ADS_1
Ada Fifie juga yang sedang duduk dengan wajah merah dan banjir air mata.
"Untuk apa perempuan ini disini lagi?" bentak Fifie pada Devana.
"Sst..., Fifie! Jangan buat kegaduhan! Kasihan Mama! Mari kita tenang sejenak. Anak ini juga tak tahu apa-apa! Bahkan Anak ini juga sebenarnya hanyalah korban!" tukas Nani dengan suara setengah berbisik.
Para pria tengah mengurus jenazah Gunawan Wicaksono di lantai bawah. Rencananya pria berumur 78 tahun itu akan segera dikebumikan di San Diego Hills besok pagi.
Semua orang sibuk, mengurus segala keperluan pemakaman Gunawan yang meninggal duni tiba-tiba.
Flashback On
Devana pingsan sementara Gunawan juga nampak sesak dadanya.
Semua orang kaget mendengar perkataan Hadi Yuslan tentang jati diri Devana.
Widia dan Gunawan saling berpandangan. Pecah tangis Gunawan seketika sambil memeluk tubuh ringkih Widia. Ia menciumi ujung kaki sang istri. Berkali-kali meminta maaf atas segala khilaf yang ia lakukan semasa muda.
Gunawan juga meminta maaf pada satu persatu putra-putrinya yang terkejut mengetahui kenyataan sebenarnya.
"Papa minta maaf pada kalian semua! Papa minta maaf, Indra, Fifie, Ellie juga Lisa! Maafkan Papa yang lemah iman ini! Hik hiks..."
"Jadi Papa benar-benar memiliki hubungan dengan Claudia yang adalah keponakan Papa sendiri sampai, Claudia melahirkan seorang anak perempuan?" Indra meradang dengan setitik airmata diujung sebelah kiri.
"Cukup! Cukup! Kita tidak boleh menghakimi Papa sefrontal itu!" lerai Indra. Sebagai anak sulung, Ia merasa bertanggung jawab menjaga nama baik sang Papa yang terbuka aibnya saat ini.
"Pak Hadi! Apakah perkataan Bapak ini bisa dimintai pertanggungjawabannya? Kemungkinan semua yang Bapak ceritakan adalah palsu, kami tidak tahu!" ujar Indra lagi. Kini ucapannya itu tertuju padaHadi Yuslan yang diam termangu.
"Saya adalah kaki tangan Nyonya Widia sejak 23 tahun yang lalu. Dulu saya orang kepercayaan Tuan Gunawan. Dan saya juga saksi perjalanan cinta Tuan dengan Claudia! Saya hanyalah rakyat jelata. Karyawan rendahan yang hanya seorang supir pribadi. Saya tidak berani menegur Tuan dan juga Claudia ketika sering keluar untuk bersenang-senang. Saya juga menjaga rahasia dari Nyonya Widia. Sampai, ternyata Nyonya mengetahui sendiri hubungan Claudia dengan Tuan. Bahkan, Nyonya mengusir Claudia pergi dari rumah ini!"
Semua terdiam, hening.
"Nyonya kemudian menekan saya untuk menyembunyikan Claudia di suatu tempat, karena sedang mengandung dua bulan dari hubungan terlarang itu! Sejak saat itu, saya membawa Claudia pergi ke kota K. Dia saya titipkan pada seorang dukun beranak di desa terpencil. Nyonya Widia pula yang memberikan biaya hidupnya setiap bulan melalui saya! Sampai Clau melahirkan. Tapi, pendarahan hebat membuatnya tak mampu bertahan. Claudia meninggal setelah tiga jam melahirkan Devana. Saya, membawa tubuh mungil Devana diteras sebuah rumah yang akhirnya mengurus Devana sampai dewasa. Bahkan sampai saat ini, Anne sama sekali tidak mengetahui bahwa saya ada dibalik pembuangan bayi bernama Devana itu. Saya selalu memantaunya setiap bulan atas perintah Nyonya. Untuk mengetahui perkembangan putri Tuan dan Claudia, saya pura-pura jadi orang baik dengan mengakui diri sebagai donatur tetap. Padahal semua itu adalah atas perintah Nyonya Widia! Saya..., sangat menyesal. Saya pernah jadi orang jahat. Dan saya ingin mengubah sifat buruk saya ini!"
Gunawan menangis di kaki Widia. Tiada lagi kata-kata tanya, mengapa Widia melakukan hal sekeji itu pada keponakannya sendiri.
Ia sadar, ia lah yang bersalah. Ia yang membuat semua kekacauan ini terjadi. Bahkan sampai membuat Widia yang selalu baik hatinya menjadi wanita yang dingin, kejam tak berperasaan kepada Claudia.
"Widia, aku mohon maaf, Widia! Kumohon maafkanlah aku!"
__ADS_1
Widia mengusap rambut Gunawan pelan. Matanya yang basah, kini mengerjap seperti mengiyakan.
Bahkan Widia juga merangkul Gunawan dan menarik tungkai lengan Gunawan dengan kekuatan lemahnya.
"Widia, kamu benar-benar mau memaafkan aku? Pada apa yang pernah kuperbuat padamu dimasa lalu?"
Tatapan lembut Widia semakin meluluhkan hati Gunawan. Ia mencium telapak tangan Widia.
"Maafkan aku, Sayang! Aku tahu, kamu adalah yang terbaik! Indra, aku titip semua adik-adikmu tanpa terkecuali! Aku minta maaf pada kalian semua. Aku, bukan Papa yang baik! Maaf..., maaf, Papa telah mengecewakan kalian!"
Tiba-tiba tubuh Gunawan menegang. Matanya agak melotot beberapa detik, lalu kemudian menggelosor jatuh dilantai.
Semua orang yang ada diruangan itu menyangka Gunawan pingsan. Sama seperti Devana. Ternyata...
"Tuan, Tuan!!! Tuan Gunawaaan!!!"
Utami histeris, urat nadi Tuan Besarnya menghilang tak mampu ia deteksi.
Hadi Yuslan dan Indra turut mencoba memeriksa kondisi Gunawan.
"Papa! Papa!!! Bangun, Pa! Pa bangun!!! Bangun!!! Papaaa!!!"
Teriakan histeris Indra menyadarkan semua anak dan cucu Gunawan.
Sore menjelang maghrib, Gunawan telah dipanggil Sang Kholiq. Untungnya semua cerita yang selama ini Widia tutup-tutupi darinya telah terbuka. Dan Gunawan menutup mata dengan hati lapang dan jiwa yang tenang.
"Papa! Papaaa!!! Hik hik hiks..."
"Papa bangun, Pa! Pa! Jangan pergi! Jangan tinggalkan kami semua! Pa! Papa!!!"
Widia hanya diam, airmatanya mengalir deras membasahi dua belah pipinya.
Dia yang sakit parah, tapi Gunawan yang justru lebih dulu diambil Yang Maha Kuasa.
Widia shock. Ia berteriak histeris, tak percaya kalau suami tercintanya kini telah tiada.
Tuhan, kenapa bukan aku yang Kau Panggil lebih dulu, Tuhan? Kenapa harus Mas Gunawan yang pergi mendahuluiku? Tuhaaan!!! Apakah ini adalah karma yang kau berikan atas perbuatan jahatku dimasa lalu? Tuhan! Ampuni aku! Ampuni juga Mas Gunawan! Kami adalah hamba-Mu yang berlumur dosa!
Widia tertidur setelah dokter pribadinya memberinya suntikan penenang.
__ADS_1
Ia seperti putri cantik yang perlahan melemah tenang dengan mata terpejam.
...๐TO BE CONTINUE...