
Waktu berlalu tanpa terasa. Devana menjalani hari-harinya kembali bersama keluarga besar Georgino Gunawan. Ia mulai merasa nyaman dan kini bisa mengikuti permainan yang Gege perintahkan.
Hubungan Deva dengan Gege pun perlahan makin menguat. Seiring seringnya mereka duduk mengobrol bersama untuk tukar pendapat.
Ini malam Minggu. Besok Deva dan Gege berencana mengunjungi rumah Yayasan Bunda Anne, bunda asuhnya Devana.
Deva sudah putuskan untuk menceritakan semuanya pada Bunda. Ia juga ingin meminta restu serta doa pada Beliau agar langkah hidupnya dipermudah Tuhan Yang Maha Esa.
Ericko masih asyik dengan kotak mainannya.
Anak itu semakin tumbuh besar dan makin pintar.
Bi Fani sudah kembali. Kesehatannya sudah pulih dan sudah kembali bekerja mengasuh Ericko.
Mereka duduk berempat di ruang tengah paviliun Gunawan.
Ditempat itulah mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk kuality time meskipun semua punya kerjaan masing-masing yang tak saling ganggu.
Gege selalu sibuk dengan gadget dan notebooknya. Deva juga sedang belajar merajut, membuat taplak meja dari benang wol. Sementara Ericko dengan bi Fani lesehan dilantainya dengan bertebaran mainan berbagai macam.
"Bi Fani, apa sudah rapikan pakaian ganti yang mau dibawa untuk besok kita ke kota A?" tanya Gege.
"Sudah Tuan! Tinggal masukkan bagasi saja besok. Hehehe..."
"Horeee..., kita jalan-jalan besok, Den Ericko! Seneng? Seneng ya kamu? Waah... gak sabar ya nunggu besok?!"
Bi Fani tampak sedang menggoda Ericko yang teriak-teriak kegirangan. Membuat Devana tertarik ikutan bermain dengan putra tunggalnya itu.
Devana turut serta lesehan di lantai. Mereka bertiga mulai berinteraksi dengan sangat akrab.
Dari atas meja kerjanya, diam-diam Gege tersenyum mengawasi mereka bertiga. Ada saja tingkah lucu Coco yang membuat Gege kembali tersenyum simpul.
Dulu dia begitu benci bayi. Sangat benci karena selalu mengurus bayi mungil ketika masih kecil. Dan bayi itu adalah adiknya beda Ayah.
Gege tak jadi mengingat nama adik bayinya karena khawatir sakit kepalanya kambuh.
Ia hanya melirik Ericko sesekali. Gege senang, Ericko kini tak lagi ileran seperti diawal mereka jumpa. Rupanya gigi geraham Ericko telah tumbuh banyak seiring waktu.
"Giginya Ericko sudah tumbuh semua ya?" tanyanya tiba-tiba. Gege teringat kembali, adiknya dulu satu tahun masih belum tumbuh giginya. Sehingga ilernya selalu menetes membuat Satria kecil kesal dan sebal.
"Iya, Tuan! Gigi Ericko sekarang sudah banyak. Ilernya juga sudah tak lagi keluar seperti dulu. Makin kelihatan dewasa dan tampan!"
"Siapa dulu dong Papanya! Iya Coco Sayang?!"
__ADS_1
"Iya dong! Papa Gege tampan, Mama Deva cantik. Pasti anaknya super duper tampan!"
Deva terkejut, Widia sudah ada di depan pintu. Ia duduk diatas kursi rodanya yang otomatis.
"Hehehe, sini Nek! Coco lihat, ada Nenek Buyut!"
Deva segera bangun dan mendorong pelan kursi roda Widia.
"Senangnya! Nenek jadi ingat masa lalu. Seperti kalian ini! Berkumpul dalam satu ruangan, bercanda santai dengan anak-anak! Kapan kalian program hamil lagi?"
"Uhuk uhuk!"
"Nenek? Ericko masih bayi, masa' harus punya adik bayi secepatnya!" protes Gege sementara Devana terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Widia.
Fani yang mendengar pun hanya bisa mengulum senyum dan tertawa dalam hati.
"Ya khan gak apa juga kalau kalian kejar target banyak anak. Mumpung masih muda dan masih kuat untuk mengurusnya! Nenek mengurus empat anak lho diusia 30 tahun!"
"Hehehe...! Tak boleh, Nek! Sekarang ini Pemerintah sedang menggalakkan program KB lagi karena banyaknya penduduk dibawah garis kemiskinan!"
"Iya, Nek! Hehehe..." timpal Devana malu sendiri dengan godaan Nenek Georgino itu.
"Tapi bikin satu lagi untuk teman Ericko, Ge!"
Memerah wajah Deva mendengar suami kontraknya mengatakan kalimat yang bikin dadanya berdebar.
Ck! Dasar tukang akting! Pintar sekali dia bersandiwara bermain drama! Mungkin waktu sekolah kak Gege anak teater ya? Hm...
Widia langsung mengacungkan dua jari jempolnya. Terlihat sangat senang dengan janji yang cucunya katakan.
"Gege! Sebenarnya ada yang mau Nenek obrolkan!"
"Apa itu, Nek? Apa kita harus pindah tempat?"
"Tak perlu segitunya! Ini tentang seorang gadis muda yang mau Nenek titipkan padamu!"
Deg
Devana merasa jantungnya berdenyut lebih cepat mendengar penuturan kakeknya Gege.
"Siapa? Maksudnya Nenek?"
"Hei, jangan salah faham dan berfikir macam-macam!" sentak Widia membuat Deva menunduk dan Gege tertawa kecil.
__ADS_1
"Ya khan Nenek sendiri yang mengatakan hal-hal berkonotasi seperti itu! Hehehe..."
"Putrinya teman Nenek, baru tamat SMA. Dia butuh pekerjaan. Mungkin ada lowongan ditempatmu di bagian administrasi atau staf umum bagian resepsionis atau operator gitu! Anaknya cantik, good looking. Dan juga baik serta sepertinya pekerja keras juga walaupun masih muda!"
"Tamatan SMA? Gege taruh mana, Nek? Bahkan para resepsionis dan operator kantor Kakek mayoritas Sarjana. Paling bisa ditempatkan dibagian cleaning service, office girl."
"Jangan jadi OG! Kamu jahat sekali pada putri teman Nenek!"
"Bukannya jahat, Nek! Memang prosedurnya seperti itu. Khan Kakek yang menentukan standard perusahaan jadi sekeren sekarang ini? Hehehe... Ya udah, oke. Senin gadis itu bisa datang langsung ke ruangan Gege. Biar nanti Gege minta bantuan Surya dan Demian untuk mencari tempat yang pas buat putri temannya Nenek!"
"Oiya, satu lagi! Kalau tak salah disamping gedung kita ada bangunan khusus karyawan perusahaan yang berasal dari luar daerah khan ya Ge?"
"Oh, mess karyawan! Iya, Nek! Kakek juga sengaja membangun ruangan khusus mess bagi karyawan yang berasal dari luar kota. Jadi bisa bekerja totalitas di perusahaan."
"Nah, Nenek pesan satu kamar untuk anak itu besok! Bisa khan, Ge? Oiya namanya Akila. Tamatan SMA beberapa bulan lalu. Dia dari kota A."
"Besok, Nek? Kenapa waktunya tiba-tiba sekali? Sebentar, Gege coba hubungan pak Topan. Beliau HRD Personalia. Biar Gege minta jalur khusus untuk putrinya teman Nenek. Bagaimana?"
"Hehehe...! Terima kasih, Cucuku sayang! Kamu memang paling bisa Nenek andalkan! Hehehe..."
Georgino tersenyum melihat Widia puas dengan saran dan keputusannya.
"Baiklah, Nenek mau kabari dulu Akila biar bisa segera berbenah diri. Besok dia harus ke Ibukota untuk mulai bekerja di kantor lusa. Terima kasih, Gege!"
"Sama-sama, Nek!"
"Coco, Deva,... Nenek permisi dulu ya?"
"Iya, Nek!"
"Biar Gege antar Nenek kembali ke kamar!"
"Tak perlu, Sayang! Ada Utami menunggu di lorong depan. Kamu bersenang-senang saja. Nikmati hari santaimu bersama anak istri! Dan ingat, pesan Nenek!"
"Pesan yang mana, Nek?"
"Bikin anak lagi!" bisik Widia membuat Gege tersipu malu.
Widia terkekeh sampai keluar ruangan tengah paviliunnya.
Semoga mereka bisa memberiku satu cicit lagi. Aamiin...! Begitu doa hati kecilnya.
๐TO BE CONTINUE
__ADS_1