
"Gege mana?" tanya Surya pada Demian.
"Gege langsung berangkat ke Serang! Ada apa?"
"Ini, karyawan baru. Jalur khusus dari Nenek langsung!"
Akila yang mengikuti langkah Surya Abdi, langsung gugup melihat wajah tampan berikutnya berada tepat dihadapannya.
"Ya, ya! Aku baru ingat pesan Gege tadi pagi. Kamu, yang bernama Akila itu ya?"
"I-iya, Pak!"
"Aduh, panggil Pak pula!" Surya Abdi terkekeh melihat tingkah Demian yang seolah marah sembari tepuk jidat.
"Maumu dipanggil apa? Tuan Muda? Tuan Wakil CEO? Atau..., Mas Ganteng?" ledek Surya.
Akila menahan senyumnya. Itu adalah panggilan kesukaannya jika melihat cowok kinyis-kinyis model mereka berdua. Mas Ganteng!
Treeet... treeet ... treeet...
Handphone Demian berbunyi.
"Nenek telepon!" kata Demian pada saudaranya.
"Hallo, ya Nek! Siap laksanakan, Nek! Gadis titipan Nenek sudah ada diruangan Dem! It's okay, don't worry! Dem akan tempatkan Akila ditempat yang baik pastinya. Iya. Gege sedang ke Serang! Survey kinerja mesin baru yang mulai dipakai hari ini! Iya, tenang aja Nek! Memangnya cucu Nenek yang baik hati itu hanya Demian seorang? Aku juga baik, Nek!"
"Surya juga, Nek! Hehehe..." timpal Surya yang mendengar sedikit obrolan Demian dengan Widia, Nenek mereka.
Hanya Akila seorang yang berdiri kaku terdiam kelu tak tahu apa yang harus ia kerjakan.
"Oiya, duduk Kila! Boleh aku panggil kamu Kila?" ujar Surya.
"Asal jangan panggil 'Gila' ya, Akila?!" sela Demian yang baru saja mematikan sambungan panggilan telepon selulernya.
"Akila aku jadikan sekretaris pribadiku aja, deh!" kata Surya tiba-tiba.
"Hei! Tanya dulu Gege! Dia akan ditempatkan dimana!? Kalau aku sih lebih suka Akila ditempatkan dihatiku yang kosong ini saja! Sebagai pasangan hidup. Hehehe...! mau gak Akila?"
Sebenarnya situasi ini adalah situasi yang tidak Akila sukai.
__ADS_1
Kesan pertamanya menatap wajah tampan Demian dan Surya memang luar biasa terpesona. Tapi setelah mengetahui cara mereka memandang dirinya sebagai perempuan seperti barang mainan yang dibuat candaan, perlahan respek Akila mengurang.
Andai tahu begini, aku akan menolak tawaran Bu Widia untuk kerja di kantor perusahaan keluarganya. Cucu mereka tampan-tampan, tapi... Sepertinya terlihat bukan pria baik-baik karena kesannya mereka sedang mempermainkanku dengan candaannya. Walaupun aku baru tamat SMA beberapa bulan lalu, tapi bukan berarti aku bisa mereka anggap anak kemarin sore yang tak tahu apa-apa! Gerutu hati kecil Akila, kesal.
"Maaf, Pak CEO...Kira-kira saya mulai bekerja kapan ya? Dan apa pekerjaan Saya? Kenapa Bapak-Bapak yang terhormat tidak memeriksa kelengkapan lamaran pekerjaan saya? Dan memastikan pekerjaan saya yang sesuai dengan ijazah terakhir saya!"
Bagaikan sebuah tamparan tak terlihat, ucapan kalimat yang Akila lontarkan membuat Demian dan Surya tersadar. Kalau gadis muda dihadapannya ini bukan gadis biasa kebanyakan yang mereka kenal diluaran sana.
"Maaf ya Akila, kalau tadi kami terkesan meremehkanmu! Baiklah, saya akan membawamu ke bagian Humas HRD. Mungkin ada divisi yang membutuhkan tenaga yang sesuai dengan kemampuanmu!"
Gitu kek dari tadi! Mentang-mentang pada ganteng, bukan berarti bisa seenaknya mencandaiku seolah aku ini adalah perempuan cabe-cabean yang bisa ia jadikan sambal dadakan tapi rasanya mirip sambal abal-abal!
Akila akhirnya bisa bernafas lega, ketika seorang karyawati staf mereka masuk dan mengantarnya kembali ke lantai satu. Menuju ruang HRD Personalia. Jalur yang memang seharusnya sedari awal Akila tuju.
"Hhh..." Akila menarik nafas panjang.
"Kenapa, Dek?"
"Hehehe..., lega Mbak! Tadi saya berasa ada di kandang macan pas diruangan para CEO! Hehehe..."
"Mereka garang semua ya? Hehehe..., tapi sebenarnya mereka semua baik koq sama karyawan!"
Akila senang, Mbak Kinanti baik hati dan mau mengerti ucapan keluhannya. Mereka menjadi akrab hanya dalam hitungan menit saja, selama perjalanan menuju lantai satu lewat elevator.
"Kenapa tadi Pak CEO III malah mengajak saya jalan lewat tangga kalau ada lift? Aneh deh!"
"Hahaha..., itu pak Surya Abdi! Beliau memang selalu naik tangga darurat daripada naik elevator. Beliau punya phobia apa gitu, gak tau aku juga!"
"Iya, Mbak Kinan? Ya ampun, Akila kira para CEO itu gak punya kekurangan dan selalu sempurna seperti yang digambarkan dikomik-komik yang Akila suka baca!"
"Hehehe...! Kamu kira CEO itu malaikat, apa! Ya manusia juga lah! Punya kekurangan dan kelebihan. Bedanya, mereka berlimpah uang dan harta. Kalo kita, berlimpah utang dan masalah! Hehehe...!"
"Hahaha, Mbak Kinan bisa aja! Makasih banyak ya Mbak! Sudah mau jadi teman Akila! Akila senang, Mbak sangat baik sampai mau membantu dan mendengarkan curhatan Akila!"
"Woles aja, Kil! Mbak menganggap kamu seperti adik sendiri. Mbak soalnya gak punya adik perempuan imut! Dan kamu itu imut banget, tau! Bikin gemes!"
"Hehehe...! Makasih, Mbak! Mbak sering-sering sambangi Akila di mess karyawan ya?"
"Oke! Tenang! Aku bakalan sering nongkrong nanti di mess kamu!"
Akila terlalu polos. Ia tak tahu taktik dan politik Kinanti dalam mendekatinya.
__ADS_1
Rumor Akila adalah karyawan jalur khusus telah tersebar sejak pagi hari tadi dari berita yang pak Topan sebar.
Berteman dengan Akila pastinya akan membawa banyak keuntungan juga menurut Kinanti yang sudah bekerja selama tiga tahun tapi posisinya masih sebagai staf umum yang kerjanya hanya diperbantukan saja.
Mendengar tadi percakapan santai CEO II dan CEO III diruangan mereka, bahkan sampai mencandai Akila yang dirinya sendiri tidak sadar itu justru membuat Kinanti iri.
Akila memang cantik. Tapi ia masih sangat muda dan hanya tamatan SMA. Tetapi sudah bisa masuk perusahaan ini lewat jalur khusus. Berarti Akila bukan gadis sembarangan. Akila memiliki sesuatu yang membuat istri pemilik perusahaan besar beserta cucu-cucunya dengan mudah menerimanya masuk kerja begitu saja. Bahkan berusaha mengakrabkan diri dengan candaan khas mereka tadi pada Akila.
Akila sudah sampai di ruang kerja pak Topan HRD Personalia. Setelah melihat dan mengamati surat lamaran pekerjaan beserta biodata Akila, pak Topan menempatkannya di divisi umum bagian pengecekan laporan pengiriman barang.
Akila bisa bernafas lega. Pekerjaannya bisa ia mengerti meskipun agak sedikit berat harus bolak-balik lantai lima ke lantai satu karena ruang laporan penyimpanan barang semua ada di lantai lima dan meja kerjanya ada di lantai satu.
Sementara itu Gege yang pergi ke Serang untuk pengecekan mesin baru terlihat sibuk di pabrik bersama para asistennya.
Ada Rendy juga rupanya mengawasi kinerjanya. Rendy tipikal om yang pendiam, tapi cukup tajam dan kritis menilai Georgino yang dianggapnya masih kurang becus memimpin perusahaan.
"Kamu sendirian ke pabrik?" tanya Rendy di ruang kerjanya pada Gege setelah setengah harian sibuk menyurvei semua mesin baru yang akan menggantikan mesin lama pabrik mereka.
"Iya, Om!"
"Surya? Demian?"
"Mereka stay dikantor. Hari ini ada pertemuan dengan beberapa klien yang bisa diwakili oleh mereka!"
"Hehehe...! Anggaplah mereka berdua itu ban serep ya, Ge!"
"Gak gitu juga konsepnya, Om! Hehehe...! Kami sudah saling akrab sejak kecil! Jadi, tahu kapasitas dan kemampuan kinerja masing-masing! Demian dan Surya Abdi jagonya melobi perusahaan dengan kemampuan seni desain mereka. Gege, cuma faham menilai aja!"
"Tapi kenapa Kakek Gunawan justru terkesan lebih mengunggulkan kamu dibanding mereka berdua. Pasti ada sesuatu yang lebih istimewa di diri kamu! Iya khan, Ge?"
"Hehehe...! Gak juga Om!"
Georgino tersadar, Omnya itu sedang menyentilnya lewat kata-kata. Tak pedas tapi cukup menyengat. Omnya yang satu ini bisa dibilang diam-diam menghanyutkan.
Tak terlihat ambisiusnya namun agak misterius juga kedalaman hatinya.
Antara iri hati atau tidak, Om Rendy tak memperlihatkan sisinya yang minus.
Bahkan Gege sendiri tak berani memberi statement kalau Rendy sama seperti om-omnya yang lain.
๐TO BE CONTINUE
__ADS_1