
Kini Hadi telah berada di sebuah restoran siap saji yang Gege dan Deva jadikan sebagai tempat pertemuan mereka.
Hadi menoleh kanan dan kiri. Ternyata Sang CEO molor waktu hampir setengah jam dari yang dijadwalkan.
Sudah biasa, alasan klise jika atasan jam karet! Gumam hati kecilnya kesal.
Tak lama kemudian, Hadi melihat sepasang suami istri muda tengah berjalan ke arahnya dengan agak tergesa-gesa.
"Maaf, Pak Hadi! Jalanan ke arah sini ada kecelakaan lalu lintas, sehingga macet parah! Lama menunggu kah?"
"Hanya seperempat jam, Pak CEO! Hehehe..."
"Maaf, ya Pak!"
"Gak papa koq!"
"Oke, tanpa basa-basi. Saya bermaksud mengajak pak Hadi kerjasama. Apakah bersedia? Yang pasti akan menguntungkan bagi pak Hadi kedepannya!"
Terlihat wajah Hadi menegang.
Kerja sama dalam bentuk apa? Kerja sama yang seperti apa? Dan kalian..., kalian adalah Tante dan Keponakan! Kalian tak bisa bersama! Apalagi bersatu dalam naungan rumah tangga! Apakah Tuhan memperbolehkan hubungan terlarang itu kembali terjalin seperti dulu Gunawan dan Claudia yang adalah Om serta Keponakan?
Hadi memejamkan matanya. Memijit pelipisnya yang terasa sakit.
Semua ini seperti kisah lama yang terulang kembali. Membuat Hadi kelimpungan seorang diri dengan kerumitan ini.
"Bagaimana Pak Hadi?" tanya Gege mengulang ucapan yang tadi.
"Saya tidak faham maksud pak CEO! Saya hanyalah manager pemasaran di PT Cipta Makmur, anak perusahaan PT MAKMUR SENTOSA yang ada di kota A!"
"Saya, ingin pak Hadi menutup mulut soal kehidupan Devana!" kata Gege pada akhirnya.
"Kenapa? Kenapa saya harus menutupi keadaan hidup Devana dimasa lalu, Pak Georgino?"
"Hhh...! Saya tahu, Bapak adalah orang baik. Bapak adalah teman sekaligus donatur tetap di yayasan Bunda Anne! Bukan begitu, Pak Hadi?"
"Terima kasih, karena telah menganggap saya seperti itu. Padahal aslinya saya tak sebaik itu juga. Hhh... Devana, boleh saya tahu, kenapa kamu bisa ada di ibukota? Bukankah kamu ada di kota K mengikuti suamimu yang juga seorang anak dari pengusaha di sana?"
Devana yang sedari tadi hanya diam mendadak pucat.
Pak Hadi menanyainya dengan pertanyaan yang menohok dan langsung tepat kena sasaran.
__ADS_1
"Tolong, jangan Pak Hadi sampaikan berita ini langsung ke Bunda Anne! Beliau sama sekali tidak mengetahui keberadaan saya disini!"
"Ya. Yang beliau tahu, Deva sekarang hidup bahagia tinggal bersama suami dan keluarganya di kota K!"
"Betul! Hhh... Tapi ada, ada kejadian yang membuat saya bisa berada di ibukota seperti sekarang ini!"
"Apa yang terjadi? Maaf, Pak Georgino! Tanpa bermaksud mengabaikan keberadaan Anda, saya ingin berbincang panjang dengan Devana. Deva sudah seperti putri kandung saya selama ini!"
"Silakan, Pak Hadi! Saya akan diam tak ikut berbicara."
"Kak Gege, sudah mengetahui kisah Saya, Pak!" tambah Deva memberi keterangan pada Hadi yang mengangguk pelan.
"Bagaimana dengan suamimu, Deva? Ada apa dengan rumah tangga kalian?" tanya Hadi.
Deva berusaha menyalurkan kekuatan untuk melanjutkan ceritanya. Menjawab pertanyaan demi pertanyaan Hadi Yuslan.
"Kak Chandra meninggal dunia tiga minggu yang lalu!"
"Dan kamu,... kenapa bisa terdampar dan mengakui sebagai pasangan pak CEO sedangkan masih dalam masa berkabung?"
Pertanyaan sengit Hadi membuat Gege menegakkan punggungnya. Agak tersentak tak percaya. Istri kontraknya dalam tekanan pria yang seusia Papanya itu.
"Deva akan ceritakan semuanya. Tapi Dev mohon, jangan ceritakan kembali pada Bunda! Bunda bisa shock mendengar semua ini! Janji ya, Pak Hadi? Janji?"
"Saya mengerti sekali maksud pak Hadi, tapi jangan memandang rendah pada Devana! Ini semua terjadi karena ada situasi yang membuat kami jadi seperti ini!" sela Gege tak terima.
"Situasi apa? Situasi yang bagaimana?"
Gege mulai kesal. Prediksinya untuk menutup mulut Hadi dengan mudah ternyata tak sesuai espektasinya. Hadi benar-benar kokoh juga dalam memegang prinsip.
"Kami..., ada perjanjian nikah kontrak!" jawab Gege, akhirnya.
"Yang saya ingin tahu, kenapa Deva bisa ada di sini dan melakukan pekerjaan yang tak pernah Saya bayangkan! Tolong jawab, Deva!"
"Deva diusir Papa dan Mama Kak Chandra!"
"Di-usir??? Kenapa? Apa salah kamu, Dev sampai mereka melakukan itu? Dan kamu tidak memberitahukan Bunda Anne perihal keadaanmu saat itu? Kenapa?"
"Hhh...! Rumit ceritanya. Dan semua serba cepat sampai Deva tak tahu mengapa semua ini bisa terjadi. Namun yang Deva yakini, ini semua sudah jalan Tuhan. Dev sadar, Dev salah, Pak! Dev juga merasa berdosa karena menutupi keadaan Dev pada Bunda. Itu karena Deva tak mau Bunda sedih. Bunda bisa sakit jika memikirkan keadaan yang tengah Deva hadapi ini!"
"Biar bagaimanapun, Anne merawat dan mengurusmu sedari kecil. Susah senangnya dirimu, dialah yang paling ingin tahu. Dan Saya rasa, Deva sendiri bahkan lebih tahu itu!"
__ADS_1
Seperti anak yang kena tegur orangtua, Devana terisak menangis sedih.
Hadi menatap Deva dengan pancaran mata kecewa. Ia tak habis fikir Deva mendapatkan perlakuan buruk dari keluarga Chandra tanpa diketahui Anne.
Padahal andai Deva pulang ke yayasan panti asuhan Anne, semua permasalahan ini tidak akan serumit seperti sekarang ini.
"Pulanglah, Dev! Saya yakin, saat ini Anne sedang menangis sedih memikirkan keadaanmu! Pulanglah ke Bundamu! Hentikan perjanjian nikah kontrak kalian yang seperti bocah main kawin-kawinan! Deva..., Saya yakin nuranimu masih sepolos Deva yang Saya kenal dulu!"
Kini Gege mengambil peranan. Ia berusaha menenangkan amarah kekecewaabn Hadi Yuslan.
"Pak Hadi, bolehkah Saya minta waktu untuk menceritakan dari versi saya?"
"Hhh...! Sebenarnya Saya tak ada masalah dengan pak CEO! Saya memarahi Deva karena sudah menganggap Deva anak sendiri. Saya harap, pak CEO mengerti!"
"Tetapi permasalahan Devana sekarang masih bertautan dengan saya, Pak Hadi! Sayalah yang bertanggung jawab atas semua kesalahan Devana sejauh ini!"
"Anda menyadari kalau Anda salah, Pak CEO? Apakah Anda bersedia mengantarkan Devana ke rumah Bundanya di kota A? Apakah Anda siap membatalkan perjanjian nikah kontrak Anda?"
"Hanya enam bulan. Saya mohon, Pak Hadi memberi saya dukungan untuk menuntaskan perjanjian nikah kontrak Saya dengan Devana! Tolong, mengertilah keadaannya!"
"Apakah Anda mencintai Devana? Atau, apakah ada perasaan lebih yang Anda harapkan dari perjanjian ini?"
"Kami murni menjalani perjanjian ini dengan kedewasaan dan profesionalitas tinggi!"
"Apakah Saya mendapatkan jaminan, Anda tidak akan berbuat lebih dan murni hanya pernikahan kontrak enam bulan saja?"
"Saya bisa pastikan! Saya, akan menjunjung tinggi janji saya. Tidak ada hubungan lebih diantara kami! Pak Hadi bisa memantau setiap saat sampai enam bulan kedepan dan pernikahan kontrak ini usai!"
Hadi menatap kedalaman netra Georgino.
Ada riak kesungguhan dimata pria dewasa itu.
Sebenarnya Hadi tidak punya kepentingan mendasar dalam mengatur hidup Devana. Secara ia memiliki kewajiban menjaga moralitas sang putri titipan Widia, istri Gunawan Wicaksono.
Dimatanya, Devana adalah darah murni dari Gunawan dan Georgino sendiri juga keturunan murni Indra Gunawan, yang tak lain adalah anak kandung Gunawan Wicaksono.
Jadi, keruwetan yang sangat wajib ia jaga hingga terhindar dosa baru diantara mereka.
Hadi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang basah.
Pusing kepalanya. Di saat dirinya mulai belajar berhijrah ke arah yang lebih baik demi mencuci hati serta kelakuan kotornya di masa lalu, ternyata cobaan baru datang menerpa.
__ADS_1
Apa yang harus ia lakukan kini, demi menjaga Devana dari hubungan terlarang, seperti kisah Ibu kandung dengan Ayah kandungnya dahulu?
๐TO BE CONTINUE