SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Apakah Anton Lee Bertemu Devana?


__ADS_3

Pukul sembilan malam, Anton Lee tiba di sebuah tempat yang asistennya kirim via goggle map.


Sebuah tempat yang ternyata di tengah-tengah perumahan mewah.


Bangunan itu nyaris tak terlihat di antara kokoh dan dinginnya tembok beton serta gerbang besi berwarna hitam metalik.


Membuat Anton Lee bergumam dalam hati.


...Mengapa perempuan itu ada di daerah mahal seperti ini? Apakah dia benar-benar menjadi seorang penjaja cinta untuk memuaskan n*fsu pria yang dicintainya? Sampai sebegitu anjloknya kah harga dirinya? Demi apa? Demi cinta??? Ck ck ck......


Anton Lee sengaja mengambil tempat duduk di depan meja bartender. Ia mengeluarkan rokok elektrik dari sakunya. Memantik lalu menghisap kenikmatannya secara perlahan.


Sampai tiba-tiba...,


"Kamu mencari Aku?"


Suara perempuan terdengar lembut di belakang telinga kirinya. Ada hembusan nafas pelan terasa sekali menyentuh kulit indra pendengarannya itu.


Dan tiba-tiba, punggungnya yang lebar digelayuti dua buah benda hidup. Terasa besar-besar dan kenyal. Membuat dada Anton berdebar kencang.


Devana...! Ternyata kau seberani ini, kini!


Anton berusaha tenang dan tak melakukan gerakan. Hanya sesekali jemari tangannya menghisap rokok elektriknya dalam diam.


Perlahan dinikmatinya sentuhan buah d*da dari perempuan yang disinyalir itu adalah Devana. Kapan lagi ada kesempatan bagus seperti ini?


"Dimana putramu?" tanyanya, masih tenang tanpa menoleh ke belakang.


"Tentu saja ada di rumah! Kenapa menanyakannya?" jawab perempuan itu masih dengan suara berbisik.


"Ck ck ck...! Jawaban yang sangat santai sekali. Seolah kau tak punya rasa bersalah karena melarikan keponakanku dari keluarganya!"


"Keponakanmu? Hehehe..., terima kasih menganggapnya seperti itu. Tapi aku lebih suka kalau kau mau menganggapnya sebagai anakmu, Sayang!"


"Hei!!!"


Anton Lee menoleh cepat.


Refleks ia terkejut kaget.


"Siapa kau?" tanyanya dengan wajah merah karena marah.


"Aku Devana. Wanita yang kau cari-cari, bukan? Kau ingin membo*kingku karena aku primadona sini, dan kau menunggu lama sampai waktuku benar-benar free, khan?"


Anton menghela nafasnya, kesal.


"Maaf! Orang suruhanku salah sasaran!"


"Sayang,... tidak bisa seperti ini! Kau sudah menyewaku untuk waktu yang lama. Dua puluh empat jam!"


"Jangan takut, aku tetap membayarmu, Nona! Ini! Ambillah!"


Anton Lee mengeluarkan uang dari dalam dompetnya. Beberapa belas lembar uang ratusan ribu rupiah ia berikan pada perempuan bernama DEVANA itu.


"Tapi Sayang! Ayolah, kita langsung ke kamar saja!"


"Tidak, terima kasih! Kamu bukanlah orang yang kucari!"

__ADS_1


Anton Lee bergegas pergi. Ia memasuki kendaraan mewahnya dengan wajah tegang dan muka merah.


"Sial*n si Leon! Devana abal-abal ternyata yang ia berikan padaku!" gerutunya sebal.


Anton mengambil ponselnya. Mencari nama Leon dikontaknya dan langsung menyemprot asistennya itu dengan kasar.


"Hei!!! Devana yang kau tunjukkan itu Devana palsu!!! Hilang uangku satu koma lima juta gara-gara kau, Leon!"


...[Maaf, Boss! Kata orangku perempuan itu namanya Devana. Cantik dan masih muda. Dia janda ditinggal mati suaminya, dan anaknya laki-laki berumur tujuh bulan. Informasinya sama persis dengan yang Boss berikan!]...


"Memangnya kau tak memberikan juga gambar diri Devana yang asli? Yang kukirimkan tempo hari di chat?"


...[Kapan Boss? Ga ada]...


Anton memeriksa kembali chattannya dengan Leon.


Kali ini dia menepuk dahinya seraya berdecak. Kesalnya menjadi dua kali lipat. Ternyata ia salah kirim pesan. Malah mengirimkan foto Devana pada rekan bisnisnya, Tuan Fendy pemilik perusahaan batubara terbesar di pulau Kalimantan.


Hhh... Aku salah kirim chat ternyata! Untung hanyalah gambar saja, tanpa keterangan kata-kata! Haduuh, dasar kau Ton!


Anton mematikan sambungan teleponnya. Ia memutuskan meluncur kembali ke kota K. Tempat leluhur serta uncle dan untie tinggal.


Sepertinya ia harus rehat sementara dalam pencariannya.


Ibukota yang ramai dengan kendaraan lalu lalang meskipun sudah masuk tengah malam tetaplah asing baginya.


Lampu-lampu lalu lintas dan juga penerangan di setiap kiri kanannya yang berkerlap-kerlip tak membuat Anton tertarik untuk sekedar mencari hiburan di salah satu diskotik atau klub malam yang berjejer dan mulai ramai pengunjung setianya.


Devana... Kau dimana Devana?!?


...☘☘☘☘...


Devana terbangun pukul dua belas malam tepat sembari berteriak.


Tubuhnya basah keringat. Pernafasannya tersengal membuat dadanya turun naik.


Selimut yang tadi menutupi rapat tubuhnya telah jatuh ke lantai. Deva merapatkan tubuhnya ke pinggiran sofa. Ia bermimpi Chandra memanggil-manggilnya dari dalam kereta api yang berjalan lambat.


Ketika ia berlari mengejar kereta dan nyaris saja jemarinya bisa menggapai sambutan tangan Chandra, tiba-tiba kereta melaju dengan kencang. Devana tertinggal kereta Chandra.


Air mata Dev berderai tak tertahankan.


Isak tangisnya terdengar sedih dan lirih. Sampai ia teringat kalau dirinya saat ini ada di dalam sebuah kamar besar milik Georgino Gunawan, suami nikah kontraknya.


Gege sedang tertidur di atas ranjang besarnya. Terlihat pulas sampai tak mendengar Devana yang teriak dan terbangun sampai menangis karena mimpi yang menyedihkan.


Tuhan! Tolonglah hamba-Mu ini, Tuhan! Berilah aku petunjuk-Mu, untuk berjalan di langkah-Mu yang benar!


Devana turun dari sofa tidurnya. Ia berjalan pelan menuju kamar mandi.


Setelah Dev masuk dan mengunci pintu toilet yang ada di sebelah kanan ruang tidur, Gege bangun dari tidurnya.


Matanya hanya bisa menerawang memikirkan apa yang terjadi pada Devana.


Ia memang belum tidur. Masih sibuk dengan gadgetnya dan tengah asyik bermain game sampai tengah malam. Hingga tiba-tiba Devana berteriak dan terbangun dari mimpi buruk sepertinya.


Sebenarnya Gege ingin menghampiri Dev. Memeluknya sembari mengatakan 'jangan takut, itu hanya mimpi.Tenanglah, Dev... Ada aku disini.'

__ADS_1


Tapi justru kata-kata itu pun hanya ada dalam mimpi.


Seandainya ia melakukan hal itu, kemungkinan besar Dev akan marah karena ia melanggar batas perjanjian nikah kontrak mereka.


Beberapa hari tinggal bersama Devana dan Ericko, sungguh bagaikan mimpi baginya. Apalagi situasi rumah kakeknya yang jadi berubah dengan adanya mereka. Membuat hati kecil Gege turut senang dan bahagia.


Sedari kecil, ia merasakan ada suatu ruang yang kosong dalam hatinya. Ruang kosong yang tiada orang tahu selain dirinya sendiri dan kedua orangtuanya. Yakni Indra dan Nani.


Mereka bertiga memiliki sebuah rahasia besar. Rahasia yang akan membuat gempar keluarga Gunawan Wicaksono jika sampai anggota keluarga yang lain tahu.


Itu sebabnya, sedari kecil Gege berusaha menekan egonya. Mengikuti arus yang kedua orangtuanya arahkan dengan niat kebaikan untuk semuanya.


Dan Gege merasa hidupnya seperti robot yang tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti semua arahan yang pastinya terbaik untuk dirinya juga semua orang yang menyayanginya.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


DELAPAN BELAS TAHUN YANG LALU


Seorang anak laki-laki nyaris saja tertabrak mobil sedan yang melaju kencang di sebuah jalan pedesaan sepi.


Cekiiiiit...


Anak itu menangis dengan tubuh penuh luka dan berdarah-darah disekujurnya.


Ia terjatuh tepat dihadapan mobil sedan yang dikendarai oleh sepasang suami istri bernama Indra dan Nani.


"Nak! Kamu gak apa-apa khan? Kamu baik-baik saja khan?"


Nani merengkuh tubuh bocah lelaki itu dengan penuh perhatian dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Mas...! Anak ini luka, Mas! Sepertinya habis dipukuli seseorang!"


"Adik kecil, siapa namamu? Dimana rumahmu? Kenapa tubuhmu penuh luka begini?"


Pertanyaan Indra justru membuat bocah itu jatuh pingsan setelah menangis dengan suara lirih tertahankan.


Kedua pasutri itu membawanya ke rumah sakit besar di kota.


"Ternyata lukanya sangat banyak akibat pukulan benda tumpul dan juga alat lainnya. Bahkan sepertinya anak ini mengalami gegar otak sedang dari tindakan kekerasan yang didapatnya!"


Begitu keterangan Dokter setelah pemeriksaan yang cukup lama dan panjang.


Bocah itu baru siuman setelah dua hari pingsan. Dan hanya bisa terbengong-bengong ketika ditanya tentang jati dirinya, perihal identitasnya.


"Dokter, ada apa dengan anak ini, Dok?" tanya Nani yang begitu cemas dengan keadaan bocah lelaki yang terlihat begitu menyedihkan itu.


"Anak ini, sepertinya terkena transient global amnesia!"


"Apa itu, Dok?"


"Kehilangan ingatannya secara total. Kemungkinan besar terjadi karena kecelakaan atau traumatik yang sangat besar sampai mengguncang kejiwaannya separah ini!"


"Apakah bisa disembuhkan amnesianya ini, Dok?"


"Semua atas Kuasa Tuhan, Pak, Bu! Kemungkinan bisa sembuh, juga kemungkinan seumur hidupnya tidak bisa mengingat masa lalunya. Semua fifty-fifty, kemungkinannya."


Indra dan Nani saling berpandangan. Seperti ini semua memang sudah Jalan Tuhan. Sehingga mereka dipertemukan.

__ADS_1


πŸ’ŒTO BE CONTINUE


__ADS_2