
Demian menatap matahari yang tertutup awan. Rinai hujan membasahi rambutnya yang acak-acakan.
Jalanan di depan rumahnya tampak sunyi. Tak ada seorang pun yang terlihat lewat. Sampai telinganya mendengar suara eongan anak kucing yang sedang berteduh di depan gerbang rumahnya.
Tiba-tiba matanya menangkap sesosok tubuh sedang berjongkok di samping bak sampah.
Tangannya mengais tempat kotor itu sampai kepalanya ikut masuk sedikit kedalam tempat sampah yang terbuat dari tong plastik besar itu.
Demian penasaran.
Apa yang sedang dicarinya?
Netranya beralih pada karung bekas beras ukuran lima puluh kilo. Rupanya pemulung, gumam hati kecil Demian.
Ia melangkah masuk gerbang. Tetapi kembali penasaran dan matanya melirik sang pria paruh baya itu yang kini jelas terlihat seluruh wajahnya yang kotor.
Pria itu tersenyum menyeringai mendapati sekotak nasi yang masih utuh.
Itu adalah nasi yang tadi pagi Bi Minah suguhkan untukku! Kata hati Demian.
Pria itu membuat Demian menelan salivanya.
Nasi kotak yang sudah dibuang ke tempat sampah. Dalam kotak kardus yang sudah sedikit koyak karena terkena siraman air hujan gerimis sejak beberapa jam tadi.
Pastinya bau bak sampah pun sudah menyengat ke dalam isi kotak nasi itu yang asisten rumah tangganya buang.
Pria itu makan dengan sangat nikmat.
Wajahnya terlihat sumringah bahagia, walaupun anak kucing yang tadi mematung di gerbang pintu rumah Demian diam-diam ikut menikmati nasi kotak yang dipungutnya di tempat sampah.
Seketika Demian termangu dengan mata merebak basah.
Pria itu, pria kotor. Berjalan sendirian dengan karung berisi rongsokan plastik yang dipungutnya di jalanan.
Kemungkinan besar dia kesepian. Kelaparan sampai tak lagi peduli pada apa yang dimakan dan apa yang masuk dalam perutnya yang berteriak minta di isi.
Sekotak nasi yang telah Demian buang ternyata bisa menjadi kebahagiaan bagi pria paruh baya itu.
Demian menitikkan air mata.
Begitu banyak orang di dunia ini mendapatkan cobaan yang hina dina dengan kemiskinan. Tapi mereka tetap berjuang dan berjuang. Walau sebagian orang menatapnya jijik dan hanya memandang sebelah mata. Namun mereka tetap semangat menjelang hari esok. Berharap ada sejumput kebahagiaan dari Tuhan Yang Maha Pengasih.
__ADS_1
Demian menoleh pada anak kucing yang tadi mengeong kedinginan. Sendirian, tak bersama orangtua dan keluarganya. Tapi kini ia mendapatkan elusan kasih sayang dari pria paruh baya itu yang bahkan rela membagi dua ayam goreng dari kotak nasi.
Begitulah hidup. Semua berkesinambungan lewat mata rantai kehidupan. Saling bergantung dan saling membutuhkan.
Merasa ditatap terus-terusan oleh Demian, pria itu merasa canggung dan kikuk. Ia mengangguk sopan sambil membungkus sisa nasi dan hengkang dari gerbang rumah Demian.
Kucing kecil yang makan bersamanya pun dipeluknya dengan erat. Sepertinya akan dibawanya sebagai teman hidupnya. Mungkin.
"Tunggu!" seru Demian.
Ia berlari masuk kedalam rumah. Mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompetnya yang tercecer di dalam kamar.
Demian keluar, namun pria paruh baya itu sudah tak ada.
"Pak! Pak!!!"
Demian berlari kesana kemari. Mencoba mengejar sang pemulung yang membuat akal sehatnya kembali terbuka.
Syukurlah, ternyata ia masih dapat mengejar pria itu karena hujan belum reda.
"Pak! Ini! Jangan makan makanan dari tempat sampah! Nanti sakit perut! Belilah di rumah makan sederhana. Uang ini bisa untuk beli makanan beberapa hari!"
Demian merasakan sesak di dadanya perlahan berkurang, setelah mendapati senyum ketulusan dari bibir pucat pria paruh baya itu.
Kesadaran Demian kian pulih.
Rasa malunya kembali muncul. Jiwa kelelakiannya yang suka bertarung kini timbul lagi.
Betapa Tuhan memberinya banyak sekali anugerah. Walaupun dengan separuh beban hidup dan luka jiwa yang sulit terlupa meski usianya telah bertambah.
Demian menangis dibawah kucuran air shower yang hangati jiwa raganya.
Matanya tadi bersirobok pada surat undangan yang tergeletak di sisi pintu kamarnya.
Surat undangan pernikahan Satria dan Devana Wandira.
Ia turut senang, akhirnya Gege-nya telah mendapati kebahagiaan. Ia juga mulai sadar, kalau Surya Abdi pun telah mendapatkan tambatan.
Semua telah berubah. Seiring waktu semuanya semakin bertambah baik dan dewasa. Berbanding terbalik dengan dirinya yang justru seolah mundur semakin jauh ke belakang.
Demian menangis dalam rinaian kucuran shower yang makin membuat dirinya tenggelam dalam kesedihan.
__ADS_1
Matahari telah menampakkan dirinya lagi.
Langit siang kembali cerah bahkan cenderung terik panasnya.
Pukul satu siang.
Kini pria berumur 27 tahun itu sudah kembali berseka.
Ia memakai pakaian terbaiknya. Demian ingin mengunjungi pusara kekasih pujaan hatinya.
Tanah pemakaman Nabila masih basah. Bahkan sisi-sisinya tergenang air hujan gerimis tadi pagi menjelang siang.
Jemarinya membersihkan batu nisan Nabila yang kotor terkena percikan tanah merah sekitarnya.
"Nabila! Beristirahatlah dengan tenang! Aku, kini akan kembali berjuang menjalani hidupku, Nabila! Terima kasih. Terima kasih telah menjadi teman hidupku selama ini! Terima kasih!... Entah apa jadinya aku jika tanpamu, Nabi! Mungkin akulah yang telah lebih dulu pergi dari dunia ini. Aku sangat menyayangimu. Aku mencintaimu setulis hati. Tapi Tuhan punya cerita lain untuk kisah kita. Aku kini hanya berpasrah pada takdir Tuhan saja. Nabi,... Aku, aku akan pergi pindah ke kota lain. Aku ingin ikut Papa Rendy yang buka usaha properti dan pertamanan di kota L. Kemungkinan aku tidak bisa sering-sering mengunjungimu di sini! Maafkan aku, Nabi!"
Airmata Demian jatuh beberapa tetes.
Ia sudah tekadkan bulat, akan pindah ke kota L. Mencoba peruntungannya di kota kecil yang sedang tahap pembangunan itu. Ikut bersama pamannya yang kini telah hijrah dan jadi orang baik.
Glen dan Elli belum tahu rencananya. Karena kedua orangtuanya itu sedang sibuk mengurus pabrik mereka yang mulai terpuruk.
Bukan bermaksud tega meninggalkan Papa Mama bekerja berdua saja. Tapi Demian justru ingin menunjukkan pada keduanya, bahwa seperti itulah dirinya kemarin-kemarin.
Berjuang sendirian, mencoba menegakkan kembali kejayaan Sang Kakek dimasa mudanya.
Namun usahanya sia-sia karena tak dapat dukungan dan support dari anggota keluarga yang lainnya.
Pria paruh baya yang tadi sendirian mengais tempat sampah rumah orangtuanya menyadarkan Demian akan arti hidup yang sebenarnya.
Selama hayat masih dikandung badan, sudah selayaknya kita umat manusia berjuang bekerja keras meningkatkan taraf hidup yang lebih layak.
Banyak orang tak punya kesempatan sebaik dirinya. Memiliki orangtua lengkap. Sanak saudara dan famili yang masih bisa ia mintai pertolongan jika dirinya tulus meminta.
Kini sudah saatnya dia bangkit. Berjuang di atas kedua kakinya. Mencoba peruntungannya sendiri, dengan kekuatannya sendiri pula.
Demian merasa sudah tiba saatnya untuk berubah.
...๐TO BE CONTINUE...
__ADS_1