
Sementara Akila berusaha melawan para penculik yang merangsek dan mengikat kedua tangannya lewat tendangan kaki yang tak terkendali. Bahkan sampai seorang dari mereka terjengkang hingga ke pintu mobil.
"Toloong!!! Tolooong!!!"
Akila berteriak meminta pertolongan.
Berharap suaranya terdengar pengemudi lain yang juga berseliweran di jalan raya yang mulai ramai.
"Sialan nih perempuan! Berisik!!!" hardik salah seorang penculik. Akila melihat ada tiga penculik dan satu sopir yang mengemudi. Semuanya memakai masker berwarna hitam sehingga wajahnya tak dapat Akila lihat dengan benar.
"Sudah lepaskan saja! Lempar saja keluar!!!" kata yang lain kesal. Dia adalah penculik yang tadi kena tendangan maut Alika. Masih untung barang berharganya dapat diselamatkan, karena nyaris kena tendangan. Hanya paha kiri atasnya yang masih terasa nyeri karena tenaga tendangan Akila lumayan besar.
"Jangan dijalan! Kalau ini perempuan kita lempar begitu saja, bisa-bisa ketahuan orang kalau kita baru saja menculiknya!"
"Cari dulu tempat sepi!!!"
"Kalian siapa? Kenapa kalian menculik kakakku dan juga aku? Apa untungnya buat kalian? Kami ini tidak ada harganya juga! Kami orang miskin! Siapa yang mau menebusnya?"
Akila berusaha berkoar mengungkapkan kekesalannya. Ia merasa tak terima diculik empat pria gila itu.
Meskipun tangannya diikat dan dirangsek keempat pria bertubuh kekar. Namun Akila tak mau patah semangat dan mengalah begitu saja.
Nyawanya terlalu berharga walaupun hanyalah rakyat jelata.
"Tolooong! Tolooong!!!"
Akila berusaha berteriak setiap melihat mobil lain yang melintas dari arah berlawanan. Berharap ada yang mendengar teriakannya lalu menolong minimal melaporkan kepada pihak yang berwajib.
"To,"
Mulutnya langsung dibekap tanpa ampun. Sepertinya keempat pria ini memang tak bermaksud menculiknya. Target utama penculikan sebenarnya hanyalah Devana saja.
Tetapi karena ada saksi yang melihat bahkan mengejar dan meneriaki mobil yang menculik Devana, sepertinya para penculik itu merasa terancam dan langsung menarik Akila juga menjadi korban penculikan.
Seseorang dari belakang menggedig bahu Akila keras sehingga gadis itu langsung sempoyongan, semaput pingsan.
"Hakim terlalu teledor bertindak!
"Sudah! Yang penting kita sudah melaksanakan perintah boss! Itu urusan nanti!"
__ADS_1
Mereka telah melakukan pekerjaan dengan baik atas perintah seseorang yang misterius.
Sementara di tempat pemakaman, tak ada yang mengetahui kalau ada kejadian penculikan pada dua wanita kakak beradik itu sampai Surya tersadar Akila tidak ada disisinya lagi.
Pria berumur 26 tahun itu menoleh kanan dan kiri. Berusaha mencari-cari sosok imut yang ia bawa tadi.
Gege juga terlihat melakukan tindakan yang sama. Yang dicarinya adalah Devana karena tidak terlihat batang hidungnya setelah nyaris pingsan dan lemas.
"Dem, kau lihat Devana?" tanya Gege pada sepupunya.
"Tidak!"
"Surya, apa kau lihat Devana?"
"Aku juga sedang mencari Akila! Apa mereka pergi bersama?"
Indra dan Nani juga terlihat membantu Gege mencari Deva. Bahkan mereka sampai meninggalkan para relasi yang ikut datang ke pemakaman Gunawan. Tetapi Indra Nani kembali pada formasi setelah Fifie adiknya mengingatkan Indra untuk jadi orang nomor satu menerima ucapan belasungkawa para relasi kerabat serta sahabat di pemakaman Papa mereka saat itu.
"Mas, ingat tugasmu sekarang adalah pengganti Papa! Jangan tinggalkan tempat!"
Indra menurut. Nasehat adiknya itu memang benar. Dan kini ia harus bisa menjadi penerima tamu yang baik.
Banyak pelayat dari rekanan bisnis Papanya datang. Bahkan ada yang jauh dari luar negeri. Sangat tidak pantas diusia dewasanya jika bertingkah kekanakan meninggalkan ruang publik yang mengharuskan ia menjadi penerima tamu hanya demi mencari Devana, adik bungsunya.
Dua wanita beda usia itu benar-benar raib dari pandangannya.
"Apa mereka pergi bersama, ya?" tebak Gege pada Surya. Keduanya saling berpandangan, ada persamaan perkiraan diriak bola mata mereka.
"Coba kutelepon Akila!" ujar Surya baru mengingatnya.
Handphone Akila berdering. Tetapi lama tak terjawab. Ternyata tas milik gadis itu ada dalam genggaman para penculik yang saat ini tersenyum puas menggerayangi tubuh gadis imut itu.
"Jangan berbuat lebih! Ingat! Kita dilarang berbuat melampau batas. Dan kita belum dapat bayaran sepeserpun untuk tugas berat ini!" umpat supir yang juga salah satu dari komplotan penculik itu.
"Cuma pegang-pegang! Ga akan bikin lecet juga, Burik!" cetus yang satunya. Masih mencoba bertingkah kotor dengan mencoba memasuki jarinya ke sela-sela kancing gamis Akila yang sedikit terbuka.
"Bodoh dipelihara! Tuyul kau pelihara, banyak uang kau!"
"Heleh! Memangnya kau mau menyusui tuyulku kalau aku pelihara tuyul!"
__ADS_1
"As*! Ya bojomu yang nyusui! Masa' aku!?!"
Mereka berempat saling berdebat.
Akila yang diam-diam rupanya telah siuman, pura-pura masih pingsan.
Ia sedikit memainkan taktik dengan mencoba menyimak dan mendengar obrolan keempatnya, berharap bisa mendengar nama orang yang menyuruh mereka menculik Devana.
Agak jijik juga ia merasakan kulit halus bagian depan dadanya diraba-raba makhluk tak berakhlak seperti keempat pria gila itu.
"Sudah, untuk saat ini kita harus menjaga dua target dengan baik sebelum Tuan Er memberi kita uang sesuai janjinya!"
Tuan Er? Siapa itu tuan Er? Ada motif apa sampai memerintahkan para cecunguk itu menculiknya?
Akila masih berpura-pura tak sadarkan diri.
Walau agak sebal ia mendapati perlakuan tak senonoh dua pria gila yang memanggul tubuhnya bak karung beras.
Ternyata Devana juga dibopong masuk gudang besar dalam keadaan pingsan. Akila mengintip sedikit dari pejaman matanya.
Mereka berdua diikat terpisah pada sebuah kursi kayu. Lalu meninggalkan dengan tanpa perasaan.
Akila yang sedari tadi mengawasi dalam diam, langsung menegakkan duduknya.
Ia mengamati seluruh isi gedung. Matanya memang tak ditutup namun mulutnya kini diganjal kain yang beraroma busuk. Nyaris Akila mual dan ingin muntah.
"Hoek!"
Bau kain penyumpal mulut Akila membuat matanya sampai merah dan melelehkan air mata.
"Kakak! Kakak!!! Kak Devana!!!" panggil Akila tak jelas. Ia berusaha menghentakkan tubuhnya agar berdecit suara keras dari kursi kayu yang didudukinya.
Duk duk duk
Duk duk duk
Beberapa kali Akila mencoba menyadarkan Devana. Tetapi obat bius yang dihirup kakak pantinya itu rupanya cukup berat kadarnya.
Devana masih belum sadarkan diri.
__ADS_1
Akila akhirnya menyerah. Ia kini diam terpekur sambil memikirkan siapa orang jahat bernama Er itu. Kenapa sampai menculik Devana bahkan dengan keberanian tingkat tinggi, yakni ditengah-tengah suasa duka dan berkabung keluarga Gunawan Wicaksono.
...๐TO BE CONTINUE...