
"Kau mau kemana, Demian?"
Elli hanya bisa menatap sedih wajah putranya yang kini telah kembali seperti sedia kala.
Baru saja sehari ia bahagia. Sepulang dari kantor, dirinya mendapati Demian yang sudah sembuh setelah kemarin Elli dan Glen menangis bersujud memohon Zahira untuk menengok putra sulungnya itu yang semakin tak jelas keadaannya.
Sayangnya mereka tak menyaksikan langsung proses perubahan Demian dari pertemuannya dengan Zahira dan Jonathan.
Kini Demian rupanya izin pamit pada orangtuanya untuk pergi ke kota L.
"Jangan pergi, Dem! Kami nanti bagaimana?" kata Elli dengan suara lemah.
"Papa Mama pasti bisa berdiri diatas kaki sendiri. Sama seperti saat-saat lalu. Begitu juga Dem! Demian ingin bisa menjadi manusia yang kokoh berdiri diatas kaki sendiri seperti kalian! Maaf, Pa, Ma...! Maaf..., Dem pergi mencari jalan Dem sendiri!"
"Tidakkah kau ingin melihat prosesi pernikahan Devana dan Gege, Dem?" tambah Glen sembari menatap sendu wajah Demian.
Banyak penyesalan yang terlihat di bias matanya yang agak berkaca-kaca.
Dihari tuanya, Glen merasa Tuhan sedang membalas semua perbuatannya dan Elli. Satu persatu anak mereka pergi. Mencari jalannya sendiri dan tinggalkan mereka yang mulai rapuh ringkih.
"Dem mau temui Devana dan Gege dahulu sebelum pergi!"
"Iya. Temuilah mereka dulu! Mereka adalah saudaramu, sampai kapanpun!"
Demian melirik wajah sang Papa. Entah kenapa, kalimat yang diucapkan Glen seperti bukan Glen yang bicara. Karena kata-kata seperti itu dulu tidak pernah ada dalam kamus hidup Glen Dotand.
Tapi kini Demian mendengar sendiri Glen mengatakan kalau Gege dan Deva adalah saudaranya.
...........
Langit cerah, awan biru.
Demian memasuki yayasan panti asuhan yang kini telah direnovasi Deva dan Georgino atau Satria.
Devana menyambutnya dengan wajah sumringah dan antusias.
Deva senang, Demian kini telah sembuh dari penyakit jiwanya yang sebulan lalu sangat mengkhawatirkan keluarga besar Gunawan. Tetapi mereka semua dilarang Glen dan Elli untuk menjenguk karena rasa malu yang besar.
Glen dan Elli takut saudara-saudaranya tertawa diatas penderitaan mereka. Padahal tidak seburuk itu.
Justru keluargalah yang menyumbang support nomor satu pastinya.
Namun begitulah pemikiran orang yang selalu memiliki penilaian buruk pada orang lain. Sehingga jadi malu hati sendiri ketika diri diberi cobaan kehidupan.
"Kak Demian!"
"Deva...!"
"Kebetulan sekali, kak Gege juga sebentar lagi tiba. Ayo, ayo masuk!"
Demian baru pertama kali mengunjungi Panti Asuhan.
Matanya berbinar melihat anak-anak kecil berdandan cantik dan berpakaian rapi.
Hari ini Deva dan Gege akan fotoshot untuk foto latar yang dipajang di pelaminan pernikahan mereka seminggu lagi. Adik-adik panti mereka menjadi cameo yang menyenangkan karena wajah ceria nan polos mereka begitu mempesona.
__ADS_1
"Semuanya anak yatim piatu kah, Bun?" tanya Demian pada Bunda Anne.
Bunda mengangguk.
"Tapi, tidak semuanya, Mas! Ada yang masih memiliki orangtua, namun entah dimana karena..." Bunda Anne tak melanjutkan ucapannya. Ia teringat kisah hidup Devana.
Demian mengerti maksud bunda asuh Devana tersebut.
Mereka saling berpandangan dan mengangguk.
Demian kian mengerti, bahwa hidup ini keras. Hidup ini penuh tantangan yang sudah sewajarnya ia takhlukan.
Tiba-tiba matanya melihat sesosok tubuh mungil yang sedang berdiri di depan pintu.
"Jo!?! Masuk Jo!"
Devana memanggil anak lelaki berusia sembilan tahun itu. Tetapi langkahnya terhenti setelah matanya bersirobok dengan Demian.
Jonathan? Mau apa anak itu disini? Apa... Mereka sering kesini juga?
"Mama mana?" tanya Deva.
"Mama di depan, sedang mengobrol dengan seseorang!"
Jantung Demian berdebar kencang. Matanya melirik ke arah jendela. Zahira sedang berbincang dengan seorang pria dengan senyuman manis yang sesekali tersungging dibibirnya.
Apa... Deva telah mengetahui rahasiaku juga? gumam Demian dalam hati.
"Siapa mereka?" bisik Demian pada Bunda Anne.
MUA? Jadi perempuan itu tukang rias pengantin juga?
"Zahira itu desaigner pakaian pernikahannya Deva juga. Hari ini bajunya sudah selesai, dan dikirim langsung untuk pemotretan!"
Demian menatap mata Jo yang pura-pura acuh padanya.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Devana langsung memeluk Zahira senang. Mereka terlihat dekat walaupun belum lama berteman.
"Wah, kereen...! Hebat kamu, Mbak! Bisa menjahit pakaianku dalam waktu setengah bulan saja! Makasiiih, hehehe...!"
Demian benar-benar kikuk ketika Zahira pura-pura menyalaminya seperti orang yang baru kenal.
Untunglah Gege datang, dan mereka pun pindah ruangan sebelah untuk berbincang.
"Gege...! Maaf, aku tidak bisa menyaksikan acara sakral kalian!"
"Kenapa?"
"Aku akan pindah ke kota L, besok pagi!"
__ADS_1
"Dem!"
"Aku selalu doakan kebahagiaan kalian. Selalu!"
"Tunggu sampai pernikahan kami, Dem! Jangan seperti ini! Aku ingin kau dan Surya yang mengantarkan Devana ke kursi pelaminan. Itu cita-cita dan impianku! Bahkan janjiku pada Kakek di pusaranya sebulan yang lalu! Please... Jangan hancurkan harapanku! Setidaknya demi Kakek dan Deva, Dem!"
Demian tercekat. Tak percaya Gege begitu menghargainya.
"Aku..., aku akan ikut Papa Rendy di kota L.!
"Mereka semua akan kemari lusa, Dem! Kita berkumpul semua di hari bahagiaku dengan Devana! Kumohon...!"
"Hhh..., baiklah! Tapi bolehkah aku menginap disini? Karena aku sudah berpamitan pada kedua orangtuaku, Ge! Malu rasanya balik lagi dan bilang kepindahanku dipending."
"Rumah ini menerimamu dengan senang hati, Demian! Anggap juga rumah ini rumahmu sendiri. Bersama adik-adik kita semua, lihatlah Dem... Betapa kami semua bahagia. Kamu bahkan bisa tinggal disini selamanya, kalau kau mau!"
"Terima kasih Gege! Aku hanya akan menginap sampai kalian menikah. Setelah itu, aku pergi ke kota L! Mohon doanya juga untuk kebaikanku di kota L, ya?"
"Pasti. Semoga kamu juga cepat mendapatkan jodoh yang terbaik segera. Aamiin...!!!"
Demian menunduk malu.
Ia tak memikirkan itu saat ini, tapi dia juga berharap Tuhan mengirimkannya wanita yang mau mengerti akan dirinya, seperti Gege yang beruntung mendapatkan Devana.
Hingga tiba-tiba, suara ribut berisik bahkan pekikan dan tangis diluar membuat kedua pria itu penasaran pada apa yang terjadi.
Ternyata, tenda panggung fotoshot roboh karena tak kuat menanggung beban anak-anak yang bermain diatasnya.
Dan salah satu tiang besinya menimpa Jonathan hingga bocah itu terkapar pingsan dengan kepala berlumuran darah.
Tentu saja Zahira berteriak dan menangis histeris.
Demian langsung menggendong tubuh Jonathan dan melesat membawanya ke rumah sakit terdekat tanpa banyak kata.
Ia pergi membawa tubuh Jonathan sendirian di mobilnya yang berlari kencang.
Sementara dua mobil dibelakangnya mengikuti dengan kecepatan maksimal pula. Yaitu mobil Zahira dan Gege.
Jonathan mendapatkan penanganan cepat dari pihak rumah sakit. Lima jahitan Jo dapat di keningnya yang tertimpa tiang besi panggung fotoshot.
Bocah tanggung itu juga sudah siuman dan hanya diam tak banyak bicara meskipun dirinya ditemani Demian saja.
"Jo!!!"
Zahira menangis sesegukan sembari memeluk erat tubuh Jonathan.
"Hati-hati, kepala Jo masih pusing, Zahira!" kata Demian singkat. Tetapi justru perkataan itu membuat hati Jo dan Zahira menghangat.
"Jo tidak apa-apa?"
"Tidak, Mama! Hanya tergores saja!"
Zahira menangis bahagia, putranya selamat dari musibah dan hanya luka jahit yang tak sampai merenggut nyawanya.
Andai itu terjadi pada Jo, entah bagaimana dirinya. Zahira tak sanggup memikirkan hal buruk terjadi padanya dan Jonathan.
__ADS_1
Mungkin dirinya akan memilih mati daripada harus hidup sendiri tanpa sang putra.
...๐TO BE CONTINUE...