SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Jalan Yang Di Pilih


__ADS_3

Malam berjalan terasa lambat.


Keesokan hari Indra kembali memgumpulkan para saudara mereka di depan meja makan yang besar dan panjang itu.


Sarapan pagi lengkap telah terhidang di hadapan seluruh anggota keluarga Gunawan.


"Hari ini, kita kembali ke Ibukota. Seperti yang aku bilang semalam, aku dan Gege putraku akan keluar dari perusahaan. Gege, tak akan mengambil sepeserpun hak kalian. Dua anak perusahaan yang Kakek hibahkan untuknya sedang diurus kepemilikannya kini menjadi milik Demian dan Surya! Fifie, Ellie, Lisa, sudah selayaknya kalian membagi separuh saham kalian pada Devana. Sahamku diperusahaan pusat akan kulelang semua. Aku, benar-benar akan keluar sepenuhnya dari perusahaan dan juga rumah besar. Satu permintaanku, paviliun tempatku dulu... biar Devana dan putranya yang menempatinya. Ini adalah perintah terakhir dariku. Akur-akurlah kalian berempat! Jangan ada kesalahfahaman apalagi keributan diantara kalian semua!"


Indra membuat kedua bola mata Devana membulat.


"Papa Indra! Maaf, masih bolehkah Dev panggil Papa?"


Indra menatap lembut wajah Devana. Senyum tipis segaris menandakan kalau ia tidak keberatan Deva masih memanggilnya Papa.


"Saya..., saya tidak faham maksud perkataan Papa!" ujar Deva lagi.


"Oiya, Gege! Apa ada yang mau kau sampaikan pada semua orang termasuk Deva?"


Gege menegakkan tubuhnya. Ia menaruh sendok yang masih ada dalam genggaman tangan kanannya.


"Untuk semuanya, sebelum ada kesalahfahaman baru lagi nantinya. Saya Satria, mohon maaf yang sebesar-besarnya jika sekiranya tingkah saya selama ini dianggap menyebalkan bahkan memuakkan. Saya, menyayangi Papa Indra dan Mami Nani yang sudah menganggap saya seperti putra sendiri. Saya juga mau meluruskan pada kalian, hubungan saya dengan Devana, saya putuskan sampai di sini. Dan jangan berfikir kalau saya sudah mengetahui status Devana sebelumnya, karena kami memang bertemu tanpa sengaja apalagi rencana."


Gege alias Satria menghela nafas sebentar. Ia lalu menatap wajah Devana yang duduk di depannya.


"Devana Wandira, mulai saat ini, saya mentalaq-mu. Saya membebaskanmu dari pernikahan siri ini. Mulai sekarang, kita berdua adalah pribadi yang bebas. Dan mohon maaf, jika selama ini tingkah saya ataupun perlakuan saya terlihat kejam dimatamu."


Devana tak bisa menahan keharuannya.


Matanya terus menatap Gege yang justru terlihat malu dan menghindari kontak mata dengannya.

__ADS_1


Entah mengapa, Devana merasakan hatinya sangat kacau. Campur aduk rasanya. Sedih dan galau, lebih mendominasi perasaannya.


"Saya, Nani dan Gege, pamit undur diri. Kami akan pergi dari paviliun Papa Mama dan juga perusahaan. Mohon maaf atas segala kesalahan yang pernah kami buat, baik disengaja maupun tidak. Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat wal'afiat!"


Indra, Nani dan Gege berdiri setelah keduanya saling berpandangan. Seolah memberi kode, kalau mereka akan pergi bersama-sama saat ini juga.


"Oiya, Kami akan pulang dulu ke paviliun. Hendak berkemas-kemas! Kunci kamar akan kami titip pada ART disana nanti!"


Gege menoleh pada Akila. Gadis itu mengerti maksud sang Kakak. Ia segera mengikuti langkah mereka yang lebih dahulu pamit.


"Akila juga mohon pamit! Mohon maaf kalau ada kesalahan!" katanya sembari mengangguk hormat.


"Kila!!!"


"Pak Surya, sampai jumpa di kantor besok!"


Surya hanya bisa menatap gadis imut yang benar-benar berbeda dari para gadis yang pernah singgah dihatinya itu.


Matanya tak berkedip menatap Akila sampai menghilang dari kejauhan.


Devana yang tersadar pada keadaan rumit ini segera berlari mengejar Indra dan juga Gege keluar.


"Papa!! Kak Gege!!!"


"Deva, masuklah! Semoga kita bisa bertemu lagi dilain kesempatan!"


"Kak Gege! Kak..., bagaimana mungkin aku bisa tinggal di paviliun bersama mereka tanpa Papa Indra, Mama Nani dan Kakak? Apalagi, kini tak ada Kakek dan juga Nenek!"


Devana pucat pasi membayangkan keadaan dirinya nanti di istana besar mendiang Gunawan.

__ADS_1


Ia masih shock dengan keadaan ini.


Seperti masih berada dalam mimpi. Semua tak pernah terlintas sama sekali dalam bayangannya.


"Kakak!"


"Dev, uangmu akan aku transfer lewat rekening bank baru milik pribadimu besok pagi. Biar orang bank yang akan mendatangimu nanti. Jangan kemana-mana besok pagi, ya?"


Gege mengulas senyum tipis di bibirnya.


Devana berusaha menahan langkah kaki Gege.


"Maafkan aku selama ini, Deva! Maaf ya, kalau aku banyak salah!"


"Bisakah kita mengobrol sebentar saja?" tanya Deva mengiba.


"Kita janjian nanti, aku juga harus mengurus surat-surat pelimpahan di perusahaan besok."


Devana hanya bisa termangu, Gege masuk mobilnya bersama Akila dijob sebelahnya.


"Kak Deva, Akila pulang duluan ya? Oiya, Kila tinggal di Mess Perusahaan. Mainlah kesana kapan-kapan! Okey?"


"Iya, Kila! Kakak akan main ke tempatmu tinggal setelah urusan selesai!"


"Kembali ke dalam Dev! Mereka adalah saudara-saudaramu!" ujar Gege pelan, tapi tegas.


Mobil berjalan perlahan. Keluar garasi villa pemakaman San Diego Hills.


Tinggalkan Deva yang masih melamun sendirian.

__ADS_1


Tuhan! Berilah aku kekuatan! Tunjukkanlah aku jalan! Kumohon, jangan biarkan aku tersesat sendirian! Tuntunlah aku selalu! Aamiin...


...๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE...


__ADS_2