
Anton menatap lekat wajah Devana.
Satu tahun setengah tak berjumpa dengan istri sepupunya itu, ternyata Devana kini terlihat semakin cantik dan dewasa.
Keduanya saling bersalaman, dengan binaran mata memancarkan aura kesedihan tanpa kata.
"Kak Anton mau pesan apa?" tanya Devana di kantin Rumah Sakit.
"Apa aja, terserah kamu!"
Rambut Devana yang tergerai makin panjang tertiup angin semilir sampai menutupi sebagian wajahnya.
Grep...
Tangan Anton langsung merapikannya dengan lembut.
Tentu saja Devana menolak karena risih.
"Kak!..."
"Ikat rambutmu, Dev! Sepertinya rambutmu perlu dirapikan. Mau kuantar ke salon?"
Devana menggeleng dengan senyum tipis di bibir.
"Kak Anton sedang apa di Ibukota?" tanya Deva berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kamu sendiri, sedang apa disini?"
Deva menggigit bibir bawahnya. Jantungnya berdebar kencang.
Andaikan saja ia punya ilmu menghilang, ingin rasanya Deva pergi dari pandangan Anton yang seolah menusuk tepat jantungnya hingga terasa sesak.
Deva menghela nafas.
"Aku, tak akan mencecarmu banyak pertanyaan dulu! Tapi boleh aku tebak, kau ada di rumah sakit. Apa..., kamu sedang sakit dan sedang kontrol penyakitmu itu?"
Pertanyaan ringan. Tapi bagi Deva, tetap saja sangat sulit untuk ia jawab.
Anton menundukkan wajahnya. Ia sudah memprediksi, kalau wanita cantik dihadapannya ini pasti akan bungkam. Diam seribu bahasa tak berani menjawab pertanyaannya.
"Apa kamu sedang mempersiapkan kalimat permintaan maaf padaku, Devana?" ujar Anton lagi. Kini langsung Devana jawab dengan tegas.
"Tidak, Kak!"
Anton hanya bisa menatap wajah Devana tanpa berkedip.
__ADS_1
Kenapa wanita ini jadi begitu angkuh? Bahkan dia langsung menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang tak kusangka sama sekali! Dasar wanita yang benar-benar tak punya harga diri! Ternyata benar apa yang Uncle dan Untie katakan padaku!
"Mana keponakanku?" tanya Anton dengan nada sinis.
"Ada ditempat yang aman, Kak!"
"Kau,... meninggalkan dia dengan siapa?"
"Ada pengasuhnya yang sangat saya percaya!"
"Cih!!! Kau percayakan anakmu pada pengasuh yang notebene adalah orang lain, tapi kau tak percayai Oma Opanya justru kabur tanpa pamit! Seperti itu tingkah laku Ibu yang baik?"
Devana terperanjat mendengar makian Anton Lee yang datar namun menyakitkan.
"Apa, maksud Kak Anton?"
"Hei,...! Kau yang lebih tahu daripada aku, bukan? Hehehe...! Dimana alamat rumahmu kini? Apa kau mengganti namamu juga karena telah tinggal di kota besar ini? Aku tegaskan, aku akan mengambil alih hak pengasuhan putra Chandra darimu! Mulai saat ini, kau adalah musuhku!"
Lagi-lagi kalimat Anton membuat Devana kaget melotot.
"Kak Anton salah! Pasti kabar yang Kakak dapat sudah diputarbalikkan faktanya!" pekik Devana tak terima.
Kini ia mulai tersadar. Pasti kedua mertuanya sudah mencekoki isi kepala sepupu mendiang Chandra Putra. Pasti Anton Lee sudah mereka jejali dengan dokrit dan statement yang bukan cerita sebenarnya.
"Boleh aku cerita yang sebenarnya?"
Devana tak mampu menahan tetesan air matanya.
Anton Lee mendengus. Ia mengalihkan pandangan, tak ingin masuk kedalam drama Devana yang menurutnya pandai bersandiwara. Airmata Deva dipandang airmata buaya betina baginya. Anton tak ingin tertipu sama seperti almarhum Chandra dulu.
Melihat pakaian dan dandanan Devana, Anton yakin kalau tebakannya adalah benar. Devana memiliki selingkuhan yang memberinya banyak fasilitas dan kemewahan.
Baju yang dikenakan Deva berasal dari butik terkenal. Aksesoris tas serta sandal yang wanita itu kenakan juga bukan barang biasa, dan harganya lumayan mahal.
Atau... mungkin perempuan ini berfoya-foya dengan menghabiskan tabungan Chandra dan tinggal di kota besar ini! Tebak hatinya lagi.
"Kak Chandra meninggal dunia. Dev tak tahu harus bagaimana. Mama Lalita dan Papa Xian mengusir Dev, Kak!"
"Hm...! Ck ck ck..."
"Mereka pasti telah menceritakan kebalikannya, bukan! Deva kini tahu, kenapa kak Anton begitu benci Dev!"
"Teruskan sandiwaramu, Deva!" kata Anton sinis.
"Hhh...! Percuma aku bicara! Sampai mulutku berbusa pun, Kakak tetap tak akan percaya!"
"Ya! Dan kau tahu karakter sifatku! Jadi, sebaiknya kau berikan Ericko Putra padaku! Kau bebas. Terserah mau jadi perempuan eksperimen pun aku tak peduli!"
Merah wajah Devana menerima penghinaan yang Anton Lee lakukan padanya.
__ADS_1
Ia berdiri dari duduknya. Menghapus sisa butiran air matanya, lalu mendengus.
"Dasar keluarga baj*ngan! Kalian semua, manusia-manusia baj*ngan yang paling suka menginjak manusia lemah seperti aku! Tadinya, kukira kau seperti Kak Chandra yang baik dan tulus hatinya. Ternyata, kalian sebangsa yang tak punya hati nurani! Menghina kami karena miskin dan tak pantas jadi bagian dari kalian. Tapi justru kalianlah manusia-manusia hina itu yang sesungguhnya!"
Brak!!!
Anton Lee menggebrak meja.
Ia lupa keadaan sekitar.
Semua orang yang ada di kantin rumah sakit seketika menoleh ke arah mereka berdua.
"Huh! Kau mau ambil anakku? Langkahi dulu mayatku! Dan kau, sok-sokan bilang akan mengurus putraku dengan kak Chandra? Telusuri dulu kebenarannya! Apa yang telah kedua orangtua suamiku lakukan padaku dan Ericko! Dan ingat!!! Kau mengancamku? Kau pikir aku takut??? Kau pikir aku akan menangis meraung-raung memohon dan menjilati kakimu itu? Maaf,... harga diriku tidak serendah itu!"
Devana pergi meninggalkan Anton yang pucat pasi dengan geraham saling merapat. Ia saat geram mendengar pembalasan jawaban Devana padanya.
Beberapa orang masih kasak-kusuk memperhatikan wajah tampannya.
Sial*n perempuan itu! Kurang ajar! Kalau saja dia laki-laki, sudah kujotos mukanya sampai babak belur dan masuk ruang IGD!
Anton bergegas pergi. Ia keluar menuju kendaraannya yang terparkir di halaman rumah sakit.
Niatnya menjenguk salah satu rekan bisnisnya yang dirawat di rumah sakit ini terpaksa urung ia lakukan.
Pertemuan pertamanya dengan Devana justru membuat hatinya makin sakit dan benci dengan makhluk yang bernama WANITA.
Devana semakin membuat Anton Lee muak dengan tingkah para betina.
Berpura-pura sebagai sosok yang lemah, padahal kekuatannya mampu menghancurkan kaum Adam sampai tak hancur jadi debu.
Devana memperlihatkan taringnya. Perempuan yang semula dia acungi jempol karena lemah lembut, baik hati dan juga bijaksana serta dewasa itu telah berubah jauh sekali.
Anton berkali-kali meninjukan kepalan tangannya ke udara. Kesal membuncah di dadanya. Makin mangkel dan jengkel hatinya mengingat ucapan-ucapan Devana.
Sakit hati ini mendengar kata-kata Devana yang menyebutnya manusia bajing*n.
T*i kucing! Bisa-bisanya perempuan itu mengataiku baj*ng! Huh! Ck ck ck... benar-benar perlu kukasih pelajaran dia!
Anton merutuk terus-menerus.
Ia keluar kembali dari mobilnya. Kini mengambil ponselnya sembari menelpon asisten pribadinya.
"Hei, carikan aku detektif hebat dan pembunuh bayaran!!! Aku mau orang itu segera!!!"
Klik.
Kalimat yang singkat. Tapi sangat menakutkan kata-katanya.
Kau lihat nanti Devana Wandira! Apa kau akan bisa menatap wajahku lagi dengan pongah? Lihat! Siapa diantara kita yang bajingan!
__ADS_1
...๐TO BE CONTINUE...