
Pemakaman Widia telah selesai dilaksanakan walau tanpa Devana diantara mereka.
Gege sendiri sudah memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk segera mencari Devana. Begitu pula Surya.
Selepas jenazah Widia usai dikebumikan, para keturunan mereka berkumpul di ruang keluarga.
Semua wajah tampak lelah. Bahkan seolah tak ada seorang pun yang berniat untuk memulai percakapan walau mereka berada dalam satu ruangan.
Semua diam, tak ada yang berani mengeluarkan suara.
Hanya tatapan mata saling memandang silih berganti satu sama lain, hingga Glen memutuskan untuk memulai percakapan juga.
"Maaf, aku bukan bermaksud mendahului! Tetapi ada kejanggalan yang ingin sekali aku tanyakan pada Georgino dan juga Mas Indra!"
Semua berpusat pada Glen.
Tio berjalan mendekat ke arah Glen, pertanda ia berada di kubu yang sama. Demian juga Surya mulai merapat Bapak-Bapak mereka. Antara khawatir dengan pembahasan yang akan mereka katakan, atau apapun yang bisa menjadi pemicu keributan besar antar saudara. Sementara keturunan Gunawan paling bontot saat ini benar-benar tak tahu dimana rimbanya.
"Nyonya Nani, Ericko menangis terus dari tadi! Saya bingung, mungkinkah karena Mamanya saat ini belum diketahui keberadaannya?" Bi Fani muncul dari balik pintu ruangan dengan wajah panik sambil menggendong tubuh mungil putra Devana.
Georgino segera menghampiri dan memangku Ericko.
"Tolong buatkan susu baru, airnya suam-suam kuku ya?!" Perintahnya pada Fani.
Kini Ericko berada di atas bahunya dengan tubuh tertelungkup memeluk punggung leher Georgino.
"Tenang ya, Coco! Mama pasti kembali!" hiburnya pelan sambil menepuk-nepuk punggung Ericko lembut.
Perlahan Ericko mulai nyaman dan akhirnya diam walaupun masih sesekali terdengar tarikan isaknya yang memilukan hati Gege.
Devana! Dimana kamu? Pulanglah! Anakmu membutuhkanmu, Dev! Tuhan! Tolong jaga Devana, dimana pun ia berada!
"Boleh aku lanjutkan perkataanku barusan?" tanya Glen lagi.
"Silakan! Tapi kumohon, untuk hal-hal yang sifatnya sensitif... tolong dipending beberapa hari lagi. Tolong hargai hari berkabung ini! Bisa 'kan Glen?"
Jawaban Indra membungkam Glen seketika.
Sial*n!!! Baru saja aku akan mengskat-matnya, dia sudah men-cut omonganku duluan! Sh*it!!!
"Oke, aku hanya ingin tanya bagaimana perusahaan saat ini!"
"Aku sudah minta semua manager untuk mengumumkan libur berkabung selama tiga hari. Fokusnya saat ini adalah pencarian Devana dan juga Akila, putri temannya Mama Widia. Akila juga amanat Mama yang tak boleh disepelekan. Tetapi gadis itu hilang di acara pemakaman Papa bersama Devana!"
Glen dan Tio saling berpandangan.
"Ada lagi yang ingin bertanya?" tanya Indra.
Semua diam. Glen menggeleng pelan.
"Silakan untuk beristirahat sampai sore nanti. Setelah itu, baru kita mulai bertemu lagi untuk langkah selanjutnya!"
Indra memposisikan dirinya sebagai orang yang paling dituakan. Walau ada segelintir orang tidak menyukai dirinya yang tampil, tapi secara umum memang seharusnya Indra-lah yang menjadi penengah diantara mereka.
.............
__ADS_1
"Apa kau yang menyembunyikan Devana?" tanya Tio pada Glen.
"Apa itu kerjaan kau?" Glen balik bertanya.
"Hei, hei!... Apa yang sedang kalian debatkan?" Ellie datang dan berusaha melerai suami dan adik iparnya.
"Devana sengaja orang ini sembunyikan!" gumam Glen menunjuk Tio. Rahangnya mengeras, kesal selalu dituduh bertindak ceroboh.
"Lalu siapa yang membawa kabur Devana kalau bukan kau?" Kini Ellie ikut memojokkan Sang Suami yang makin meradang.
"Aku gila, tapi tak segila itu!!!" bentak Glen membuat bola mata Tio makin membulat.
"Bukan kau, Glen?" tanya Tio memastikan rasa penasarannya.
"Sh*it!!! Kalian selalu menganggap aku adalah orang paling jahat di sini! Aku juga masih punya otak untuk sembarang bertindak!"
"Lalu siapa???"
"Mana kutahu? Jangan selalu menuduhku! Aku memang akan mengeluarkan kartu As-ku, tapi nanti... disaat yang tepat!"
"Hhh..."
"Dimana kini si Devana itu?"
"Jangan-jangan ini permainan Mas Indra sendiri!!!"
"Benar juga! Bagaimana tadi tanggapannya ketika aku mulai bermanuver ingin membeberkan sedikit tentang perilakunya yang cukup menyimpang. Menyetujui anaknya untuk nikah kontrak dengan wanita beranak satu yang baru saja dikenalnya di atas KRL adalah tindakan gila!"
"Ya, ya! Indra patut kita curigai!"
"Bisa jadi itu akting!"
Ellie mengangguk menyetujui ucapan sang suami.
"Hei, kamu dengar tadi Kak Fifie bilang apa di saat Mama akan menutup mata selamanya?" tanya Glen pada Ellie.
"Apa? Kak Fifie mengajukan berkas perceraian???"
Ia baru teringat akan konfliks rumah tangga sang kakak, Fifie.
"Ya! Ada apa dengan Fifie Rendy? Ck! Kenapa keluarga ini seperti kena kutukan jahat? Mungkinkah karena Mamamu yang selama ini menyembunyikan selingkuhan Papa dan kita yang kena karmanya?" kata Glen membuat Ellie mendelik.
Ellie mulai kesal mendengar sang suami seolah meledek dan mentertawakan kelakuan Papanya yang tak pada tempatnya itu.
"Diam kamu! Kau sendiri, dapat warisan apa dari kedua orangtuamu? Tidak ada. Selain mengandalkan warisan dari Papa Mamaku. Kau adalah pria yang tak punya apa-apa!"
Balasan Ellie kini benar-benar menohok hati dan mental Glen Dotand. Dia langsung terdiam, malu hati menanggapi ucapan sang istri.
Demian dan Surya Abdi masuk dalam ruang istirahat mereka.
"Suasana menjadi sangat kacau! Siapa yang sudah berani menyusup melakukan perbuatan ini tanpa kompromi?" tanya Demian kesal.
Ia sengaja menyindir Glen dan Tio, yang memang sangat ambisius inginkan harta dan tahta.
Di kamar yang berbeda, Fifie dan Rendy juga sedang berdebat serius. Bahkan sangat serius.
__ADS_1
"Apa maksudmu mengucapkan soal pengajuan ceraimu di depan semua orang tadi, Fifie?" tanya Rendy setengah menghardik.
Fifie diam. Tapi bola matanya menatap tajam Rendy tanpa berkedip.
"Biar Mamaku tahu dan semua saudaraku tahu!" jawabnya singkat.
"Untuk apa? Untuk mempermalukan aku dan mendapat cap pria yang tak becus mengurus istri, begitu?"
"Syukurlah jika kau sadar itu!" sindir Fifie keras.
Rendy mendekat. Ia meraih wajah istrinya yang kini semakin tirus.
"Cabut gugatanmu, atau akan ada kabar baru yang mengejutkan!"
"Kau mengancamku, Mas?"
"Ada dua nyawa ditanganku! Semua tergantung kamu, Fifie sayangku!"
Fifie tersekat. Kini ia baru menyadari, bahwa Devana dan Akila ada dalam cengkeraman Rendy.
"Kau gila, Mas!"
"Ya. Aku gila karenamu,Fifie!"
"Lepaskan mereka!" tukas Fifie.
"Tergantung dirimu, sayang! Dan nyaris saja CEO abal-abal itu sempat pula berpindah tempat ke akhirat bulan lalu. Sayang, kecelakaan itu masih menyelamatkan nyawanya!"
"Jadi kau juga yang menyabotase mobil Gege, Mas?"
"Hahaha..., kalem saja, Fie! Dia bukan Gege Georgino Gunawan! Dia itu orang luar yang diadopsi Indra kakakmu dan sengaja diubah identitasnya untuk menggantikan putra tunggal mereka yang sudah tiada!"
"A-APA???"
"Jangan terkejut terlampau batas, Sayang! Khawatir kau akan shock dan kena serangan jantung!"
"Orang gila! Psikopat!!! Bisa-bisanya aku menikahi orang yang punya kelainan kejiwaan!"
Fifie benar-benar shock dan tak percaya jika sang suami bisa bertindak sejahat itu.
"Aku bisa lebih jahat lagi, Fifie Sayang! Aku bisa bunuh Kakakmu juga! Karena dialah yang selalu menjegal langkahku selama ini!"
"Ya Tuhan! Mas...!"
Rendy mencium kening istrinya yang tak bisa berkutik.
"Fifie, mari lupakan keinginanmu untuk bercerai dari aku! Mari kita mulai semuanya dari awal! Aku tinggal perintahkan orang-orangku untuk melepas Devana dan Akila!"
Fifie menelan salivanya yang terasa pahit.
Ia tak bisa berkata apa-apa lagi selain mengangguk pelan dengan wajah pucat.
Mas! Bisa-bisanya kau berbuat sejahat itu! Tidakkah kau malu pada kedua putrimu yang sudah beranjak dewasa! Hhh...
...๐TO BE CONTINUE...
__ADS_1