
"Beneran terorganisir ini kerjaan si Surya! Ck ck ck!"
"Kenapa, Kak Ge?"
"Lihat, Dev! Niat banget dia ngerjain kita! Hadeuh!"
Antara kesal, sebal, tapi mau tertawa juga.
Ada kotak besar di depan rumah. Setelah dibuka, isinya adalah tiga kaleng cat, dua kuas, juga pakaian ganti untuk mereka lengkap sampai dalemannya juga.
...Note : Teruntuk Devana, jangan khawatirkan Ericko! Dia aman bersamaku!...
Terlihat selembar foto polaroid Ericko dipangku Akila dan Surya Abdi. Ketiganya tampak tersenyum tanpa masalah. Membuat Gege hanya bisa menepuk dahinya.
"Dasar ya, mereka!"
Gege mengambil satu lagi lembar kertas perintah Surya.
...Jangan lupa, make over rumah ini sampai terlihat rapi dan indah. Terserah selera kalian berdua. Tapi, harus kerja sama kalau mau Ericko dan Akila aman ditanganku!...
"Terserah kau sajalah, Sur! Hhh...!"
Devana hanya bisa menggelengkan kepala sambil berdecak dan menghela nafas.
"Kak! Aku mau coba masak air minum, tapi... Gak bisa masaknya kalau di tungku. Kakak bisa bantu?"
"Ayo, kita ke dapur!"
Gege bersemangat sekali.
Ia masuk dengan mata menatap sekeliling ruangan rumah panggung itu yang minimalis.
Sepertinya tidak butuh waktu berhari-hari untuk mengecat dinding bilik rumah ini. Moga bisa cepat terselesaikan, dan Devana bisa kembali bertemu Coco segera. Aamiin! Doanya dalam hati.
Mereka sibuk di dapur belakang. Mencoba menyalakan tungku kayu bakar yang tersedia.
Gege cukup cekatan melakukan hal ini. Maklum, selain masa kecilnya yang pernah tinggal di kampung, Gege juga suka camping ketika usianya masih belasan tahun. Jadi, menyalakan api di kompor tungku kayu bakar selama kayunya kering, bagus dan tersedia, itu mudah saja baginya.
"Wah, seru ya!?!"
Devana walaupun hidup sederhana di panti asuhan Bunda Anne, tetapi mereka tak pernah memasak di tungku kayu.
Kompor gas tabung 3 kilogram adalah alat bantu memasak mereka di yayasan.
Sehingga dia tak menguasai tata cara memasak di tungku kayu bakar.
............
Di tempat yang berbeda.
Demian telah bersiap menuju rumah besar milik Nabila. Dengan mogenya, ia meluncur cepat sesuai janji yang diucapkan Jonathan.
Dandanan agak berantakan. Dasinya masih belum terpasang dengan benar, karena fikirannya sudah merindu ingin jumpa Nabila.
Masa mudanya yang dulu begitu mendamba gadis manis itu, membuat Demian susah tidur dan berasa waktu berjalan terasa lambat.
Ting tong
Ting tong
Bel rumah Nabila beberapa kali ditekannya. Berharap sang pemilik rumah yang membuka dan menyambut kedatangannya dengan pelukan hangat.
"Tuan Muda Demian?!"
"Ya, Saya sendiri!"
"Silakan masuk! Nona Nabila sudah menunggu di ruang tengah!"
Seorang ART muda membukakan pintu untuknya. Dengan ramah menyambut Demian dan menunjukkan jalan ke arah ruang tengah rumah Nabila.
__ADS_1
Aku lebih faham denah rumah ini dibandingkan kamu! Rumah ini masih seperti yang dulu, tak berubah sama sekali. Gumam hati Demian. Sesekali menoleh pada sang ART yang terlihat begitu kaget dan kesemsem dengan ketampanan tamu Nona pemilik rumah tempatnya bekerja.
"Silakan, Tuan!"
"Terima kasih!"
Demian melihat kursi roda di luar balkon ruang tengah. Ada Nabila duduk diatasnya dengan posisi membelakanginya.
Demian melihat ke sekeliling.
Dimana Zahira dan anak kecil yang angkuh itu?
Fikirannya melayang pada perempuan yang pernah tidur dan merasakan belaiannya sembilan tahun yang lalu itu.
"Nabi...!"
"Dem!"
"Nabila! Kamu,... Apakah selama ini kamu sengaja menghindariku?" tanya Demian berjalan cepat memutar dan kini berjongkok dihadapan kursi roda Nabila.
Gadis itu terlihat lebih segar dari semalam.
Wajahnya pun nampak memakai make up walau terlihat tipis dan natural. Pipinya merah merona tersapu blush on yang berwarna merah muda.
Demian tanpa sadar meraih dua jemari Nabila. Lalu mendekapnya di dada.
"Kamu cantik sekali, Nabila! Aku rindu padamu!"
"Jangan meledek, Dem!"
"Sumpah, Nabi! Kau...gadis paling cantik di hatiku!"
"Aku tahu dirimu walaupun sudah sembilan tahun kita tak bersua!"
Demian menelan saliva.
Pasti Zahira yang telah membuka semua kehidupannya.
Dia, pernah membayar satu juta rupiah tubuh Zahira, untuk merasakan kenikmatan sesaat demi melupakan kenangan-kenangan bersama Nabila.
Demian menunduk.
Tiba-tiba ia terkejut. Jemari lentik Nabila yang mungil mengelus lembut pipinya.
"Kamu pasti sangat terluka karena aku pergi begitu saja ya, Dem? Kamu pasti..., benci aku khan?" tanyanya dengan tatapan mata sendu membuat Demian seperti terhipnotis.
Pria berusia 27 tahun itu merebahkan kepala dan pipi kirinya dipangkuan Nabila.
"Aku terluka, tapi tidak bisa membencimu, Nabila! Kamulah segalanya!"
Jemari Nabila mengusap pipi Demian. Setitik air matanya mengenai ujung poni rambut Demian.
"Jangan menangis, nanti make up-mu rusak!" bisik Demian, segera menghapus satu butirannya lagi yang hampir jatuh.
"Tolong pakaikan dasiku, Nabi! Siang ini aku ada rapat para pemegang saham. Aku butuh doa dan dorongan support darimu! Aku lelah sekali, Nabila!"
Nabila membetulkan letak posisi dasi Demian yang salah. Ia mengulang, memasangkan kembali dasi panjang warna hitam yang melingkar di kerah kemeja Demian.
"Kamu makin tampan dan gagah rupawan!"
"Kamu juga. Makin cantik mempesona!" Demian mengecup punggung tangan Nabila dengan penuh kasih.
"Tubuhku kurus, Dem! Tinggal kulit dan tulang! Aku sedang menunggu kematian datang!"
"Jangan bicara tentang kematian! Kau tahu si Cheppy? Dia sehat, segar bugar, tidak merokok dan minum alkohol. Tapi lima bulan lalu meninggal setelah futsal!"
"Umur kuasa Tuhan!"
"Betul, Sayang!"
"Dem..."
__ADS_1
"Ya, Sayangku?"
"Kau..., mengingat Zahira?"
Demian diam, tak berani menjawab segera.
"Dem?" tanyanya lagi.
Demian mengangkat wajahnya yang tertunduk.
"Akulah yang mengirimnya untukmu!"
Tersekat kelu tenggorokan Demian.
"Kejamnya kamu!"
Hanya dua kata itu yang mampu Demian lontarkan pada Nabila. Terlihat gadis itu menitikkan air matanya lagi.
Tapi kali ini Demian berdiri dan berjalan menuju pagar balkon ruangan tengah, menatap keluar jendela kaca yang besar tanpa sekat. Dan terlihat pemandangan halaman depannya yang indah tertata penuh bunga-bunga.
"Dem!"
"Cukup, Nabi! Jangan katakan itu lagi!"
"Jonathan adalah anak kalian! Tapi aku adopsi dan akta kelahirannya mencantumkan namaku sebagai ibu kandungnya!"
Demian makin terperanjat. Ia menoleh ke wajah Nabila. Kini dia kembali mendekat dan berjongkok kembali dihadapan Nabila.
"Kamu sedang bercanda denganku khan?"
"Aku serius, Dem!"
"Bohong!!!"
"Aku sengaja lakukan itu! Aku ingin memiliki anak darimu!"
"Kau gila, Nabila!"
"Ya, aku memang gila!"
"Nabi...! Kenapa bukan kau saja yang datang ke pelukanku? Kenapa? Kenapa kau malah mengirim gadis lain untuk menggoda diriku?"
"Aku tidak ingin gadis lain datang dalam hidupmu! Aku memohon pada sepupuku, Dem!"
Brak.
Demian menggebrak meja kayu yang ada disampingnya dengan mata merah dan mulai merebak basah.
"Kau jahat, Nabila! Kau adalah perempuan paling jahat di hidupku!!!"
"Hik hik hiks! Aku... Sangat jahat! Aku, menerima semua caci maki bahkan kutukanmu, Dem! Waktuku tinggal sedikit lagi!"
"Waktu apa? Waktu siapa? Jangan berfikir seolah kau akan mati besok! Karena bisa jadi, akulah yang akan pergi lebih dulu dari dunia ini karena kekejamanmu, Nabi!"
"Dem...! Hik hiks... Dem,"
"Jangan berdalih dan beralasan kau sakit! Itu hanya alasan untukmu menghindariku!!!"
"Aku, terkena hepatitis B akut, Dem!"
"Lalu apa gunanya ilmu kedokteran yang berkembang demikian pesat dan melahirkan dokter-dokter hebat? Kau toh masih hidup sampai hari ini! Kapan kau mati? Kapan? Kau tahu? Aku yang akan mati lebih dulu, saat ini juga!"
Demian benar-benar emosi jiwa. Sampai ia berjalan tak tentu arah karena keresahan hatinya yang mengacaukan akal sehatnya.
Demian berteriak, "Lebih baik aku mati! Daripada kau gantung dan siksa aku seperti ini, Nabi!!! Hik hiks..., aku tidak menginginkan apapun darimu! Aku hanya ingin cinta tulusmu saja, Nabi! Huaaa hik hiks! Kenapa kau justru membuatku gila seperti ini!!! Hah? Kenapaaa??? Aaarrrggghh!!!"
Nabila berteriak memanggil nama Zahira.
Sepupunya itu datang dan mencoba membantu menenangkan Nabila serta Demian.
"Diam kau wanita m*rahan!!!"
__ADS_1
Zahira termangu, Demian mengatainya terang-terangan. Hingga menyesak dadanya dan jatuh terduduk dihadapan kursi roda Nabila.
...๐TO BE CONTINUE...