SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Kisah Demian, Nabila, Zahira dan Jonathan


__ADS_3

"Jangan bentak Mamaku!!!"


Demian terkesiap. Bocah yang kata Nabila adalah darah dagingnya itu kini berada sekitar tiga meter dari dirinya.


Matanya menatap Demian nanar.


"Siapa kau, berani melawan aku? Hm?" tanya Demian mendekat.


Kedua bola mata yang sama seperti dirinya. Membuat Demian menoleh pada Nabila yang menangis terisak.


"Om lebih baik pergi, kalau niatnya hanya mengacau di rumah ini! Selama ini hidup kami tentram. Tiada gangguan apapun sebelum Om datang!"


Perkataannya seperti hantaman palu di hati Demian.


"Nabila! Seperti ini yang katamu adalah anakku, darah dagingku?" tanya Demian mendekati Nabila.


"Aku bukan anakmu! Aku anak Mama Zahira dan Mami Nabila! Pergilah, sebelum aku mengusir om dengan kasar!"


Demian menelan salivanya.


"Dia mengingatkanmu pada seseorang bukan?" sela Nabila ditengah isakannya.


Demian diam mematung. Tak percaya tapi semua ini nyata.


"Om, pergilah! Kumohon..."


Jonathan membukakan sekat pintu ruang tengah rumah Nabila. Bocah itu terlihat begitu dewasa, sangat jauh dari umur dan wajah polosnya.



Demian hanya bisa menatap dua mata Nabila.


"Nabila!... Ini pasti drama teatrikal karanganmu saja khan?" tanya Demian sekali lagi.


Nabila menggeleng.


"Baiklah. Aku kalah. Aku mengaku kalah, Sayang! Demi untuk tetap bersamamu, aku akan selalu ada di sisimu asalkan kau tetap disini menemaniku! Oiya, sudah pukul sebelas siang! Aku ada rapat penting!"


Demian acuhkan Jonathan dan juga Zahira. Ia melangkah ke arah Nabila. Bertumpu pada tumit sepatunya dan berjongkok dihadapan gadis pujaannya.


Tangan Demian menghapus air mata Nabila.


"Kau harus sehat, harus kuat dan semangat! Janji padaku, Nabila?"


Senyum Demian mengembang, melihat Nabila mengangguk dan mendekap kepalanya di dada cinta pertamanya itu.


"Nanti aku akan kemari lagi! Bukakan pintu hati dan rumahmu untukku, please!"


"I will! I will do it for you! I love you!"


Air mata Demian jatuh sebutir. Senyumnya kembali tersungging.


"I love you too! More, more and more!"

__ADS_1


Demian pergi tanpa pedulikan Zahira dan Jonathan yang menatapnya penuh gurat kesedihannya.


"Demian sebenarnya baik, dia hanya belum bisa menerima kenyataan sebenarnya, Zahira!"


Zahira menunduk. Matanya bertumpu pada ujung sepatu teplek yang dikenakannya.


Kisah sedihnya seperti tak berujung. Hidupnya jauh lebih miris dan tragis dari hidup Nabila.


Belasan tahun yang lalu, hanya diasuh dan dibesarkan oleh Papanya Nabila karena sudah yatim piatu sedari dini.


Membuatnya lemah dan tak bisa menolak ketika putri kandung Paman Kaki Panjangnya memintanya untuk melakukan sesuatu hal yang tak masuk akal. Yakni, menyamar menjadi wanita panggilan yang dibayar Demian. Cowok yang tak lain adalah sahabat dan teman masa kecil Nabila.


Nabila sudah mengidap penyakit mematikan sedari SMA. Tetapi ia menyembunyikan vonis dokter itu pada Demian, sang sahabat. Nabila mencintai Demian. Bahkan sangat mencintainya.


Tetapi cinta mereka tak bisa bersatu karena Nabila lebih memikirkan masa depan mereka berdua.


Nabila takut, dirinya menjadi beban hidup Demian. Semisalnya ia menerima cinta Demian pun, keadaan membuat mereka berdua tidak bahagia. Penyakit sudah menggerogoti tubuhnya. Dan vonis dokter sudah diterimanya.


"Zahira! Benarkah kamu sungguh-sungguh menganggapku saudara?"


"Sampai kapanpun, Nabila adalah saudaraku. Papa Yeon sudah mengangkatku seperti anak kandungnya sendiri. Sudah pasti aku harus bisa berterima kasih bahkan kalau bisa, balas budi jasa-jasanya suatu saat nanti!"


"Balaslah sekarang! Lewat aku, Zahira!"


"Zahira harus berbuat apa, Nabila?"


"Kau sering sekali mencuri pandang sahabatku dari kamarmu bukan? Dia..., dia cowok tertampan yang pernah kau lihat pastinya!"


"Zahira... Tidak punya niat apa-apa. Hanya, mengintip kebersamaan kalian dari kamar saja! Sungguh, Nabila!"


"Zahira pasti akan bantu Nabila!"


"Tidurlah dengan Demian!"


"A-apa???"


"Tidurlah dengan Demian!" Nabila mengulang ucapannya karena Zahira masih tak percaya.


"Rawatlah dia untukku! Jangan pakai pengaman. Aku, ingin sesuatu tumbuh di rahimmu dengan benih dari Demian!"


Semalaman Zahira hanya bisa menangis. Meratapi nasibnya yang hina ini. Betapa dunia begitu kejam padanya. Dan dia tak bisa menolak permohonan Nabila.


Keesokan malamnya, Nabila mendandaninya. Memang sudah disiapkan segalanya oleh putri Paman Kaki Panjangnya itu.


Demian sedang sedih, terhanyut dan terlarut dalam kubangan cinta yang gantung dari Nabila.


Diusianya yang baru 18 tahun, Zahira dan juga Demian melakukan hubungan itu, setelah cowok itu benar-benar dalam kendali minuman beralkohol dan mabuk parah. Zahira masuk dan mengaku sebagai wanita teman kencan sewaan Demian.


Malam itu..., malam bersejarah dalam hidup Zahira maupun Demian.


Demian dalam keadaan mabuk parah menggagahi Zahira yang posisinya sadar dan memang harus melakukan kegiatan ini.


Tubuh indah pemuda yang baru beranjak dewasa itu menindihnya. Melakukan kekerasan demi kekerasan untuk melampiaskan kekesalan emosinya. Bahkan Demian dengan sengaja menggigit pangkal pahanya sampai berdarah.

__ADS_1


Itu bukan permainan cinta.


Bukan juga pergulatan asmara yang indah.


Sama-sama dalam posisi belum faham akan tata cara yang baik dan benar yang diperbolehkan. Keduanya bergumul hebat diatas ranjang diskotik, bahkan Demian melakukannya sampai dua kali setelah menyiksa Zahira.


Zahira yang terluka dan berdarah di bagian paha, dengan airmata berlinang, meninggalkan Demian yang terlungkup tidur pulas sendirian.


Zahira tak ingin mengingat saat-saat itu. Ia hanya bisa kembali pulang ke kediaman Papa Yeon, Papanya Nabila.


Nabila membawanya ke dokter spesialis kandungan. Rahimnya disuntik vitamin penyubur sebelum pergi mendatangi hotel yang di sewa Demian. Lalu kini kembali disuntik setelah sel sperm* pemuda itu bersarang di rahimnya.


Nabila benar-benar merencanakan ini semua dengan matang dan penuh perhitungan.


Nabila ingin memiliki anak Demian dengan caranya yang tak masuk akal.


Benar yang Demian tadi ucapkan, kenapa harus mengirim orang lain untuk melakukan itu. Mengapa bukan dia saja yang melakukannya sendiri?


Tapi rupanya pemikiran Nabila lebih jauh beberapa langkah dibanding Demian maupun Zahira.


Jika ia yang melakukan itu dan bersikukuh ingin memiliki anak Demian, kemungkinan besar anaknya akan berpenyakitan sama seperti dirinya. Dan itu yang tidak ia inginkan. Itulah yang selalu jadi bahan pertimbangannya.


"Mama..."


"Ya, Sayang?"


"Apakah perbuatan Mami pada kita masih tetap harus kita tolerir?"


Zahira mengusap rambut kepala sang putra. Ia bersyukur, putranya laki-laki dan ia pula lah yang mengurusnya sendiri sejak lahir dengan sokongan dana Papa Yeon juga Nabila.


Jonathan tak akan butuh Demian jika besar nanti. Tetapi demi untuk membalas budi kebaikan Papa Yeon, Zahira akan tetap bertahan mengurus Nabila sampai akhir.


"Mami orang baik. Kakekmu juga orang baik. Kita harus tetap menjaga mereka sampai akhir nanti."


"Sampai kapan, Mama? Sampai kapan kita terlihat seperti ini? Seperti si pandir yang selalu menunduk ke lantai dan tak boleh menatap langit-langit? Tidakkah Mama mengerti keinginan Mami itu seperti apa? Apalagi Om yang katanya adalah Papaku, dia berani menghardik Mama!"


"Sabarlah, Jo! Kasihanilah Mamimu!"


"Mama menunggu Mami mati? Demi hartakah Mama lakukan ini?"


"Demi kebaikan mereka dan kini juga demi dirimu yang telah lahir kedunia ini. Kamu tahu, Jo? Kamu adalah satu-satunya yang Mama syukuri dalam hidup ini. Kamulah satu-satunya yang buat Mama bertahan!"


Jonathan meraih jemari Mamanya. Meletakkan disebelah pipinya. Memejamkan mata dan berharap, hidupnya akan sempurna, memiliki orangtua lengkap seperti anak-anak yang lain.


"Mama mengerti perasaanmu! Kisah hidupmu sangatlah rumit. Tapi indah, Sayang! Andaikan Mama banyak uang dan bisa buatkan film, sebagai ungkapan rasa bangganya Mama memiliki kamu! Mama akan lakukan itu, Jonathan!"


"Mama..."


Zahira senang sekali, Jonathan berfikir sangat dewasa dan bisa ia ajak diskusi sedari kecil. Jonathan bukan saja anaknya, tetapi juga sahabat dan partnernya ketika berdua membahas masalah mereka.


Itu sudah biasa Zahira lakukan sejak usia Jo lima tahun.


__ADS_1


...๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE...


__ADS_2