SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Menbuka Kembali Kisah Yang Dikubur


__ADS_3

Devana mengoggling semua hal yang ingin ia tahu tentang nikah kontrak.


Ternyata cukup banyak keterangan yang membuatnya membisu dan termangu.





Agak-agak ngeri sedap semua keterangan yang tertera.


Berarti selama ini hubunganku dengan Kak Gege justru melanggar hukum agama juga hukum negara. Tapi..., bagaimana mungkin, pernikahan kami bahkan dinikahkan oleh seorang penghulu kampung yang berpengalaman saat itu!


Devana melirik jam yang bertengger manis di pergelangan tangannya.


Pukul 12.20 WIB. Ia teringat janjinya makan siang bersama Gege. Membuat Devana bergegas menyiapkan diri.


Sebelum berdandan dan berganti pakaian, Devana terlebih dahulu mendatangi kamar Ericko untuk memberitahu suster Titi agar menggantikan pakaian putranya segera. Deva berniat membawa Ericko turut serta.


"Aden Ericko baru saja tidur, Nyonya Muda! Biar saya saja yang menjaganya! Nyonya tak perlu khawatir. Nyonya bisa pergi makan siang dengan Tuan Muda!"


Akhirnya Devana tak jadi membawa Ericko. Ia tak ingin mengganggu tidur sang putra yang berakibat buruk juga pada tumbuh kembangnya nanti.


"Devana!"


Gege sudah lebih dahulu duduk di tempat yang mereka pesan.


"Kakak sudah lama menunggu?"


"Aku juga baru tiba! Mau makan apa, Dev?" tanya Gege penuh perhatian. Setelah keluar dari rumah sakit, ia memang terlihat lebih sabar dan hangat pada Devana.


"Apa saja, terserah Kak Gege!"


"Selamat siang, Mas Georgino, Mbak Devana!"


"Siang, Pak Purba! Terima kasih atas waktunya untuk mendatangi kami sampai ke tempat ini!"


"Tidak apa-apa, Mas! Kebetulan hari ini jadwal saya tak begitu padat. Jadi bisa santai kita mengobrol banyak hal!"


"Ini, Devana ingin menanyakan perihal surat nikah kami. Apa, tak akan bermasalah dan melanggar hukum?"


Pak Purba menarik nafasnya sebentar. Ia menengok kanan dan kiri, memastikan tidak ada CCTV yang memantau obrolan mereka yang serius.

__ADS_1


"Sebenarnya, secara hukum memang bermasalah. Tetapi selama tidak ada orang yang melaporkan Mas Gege dan Mbak Deva sampai waktu perjanjian berakhir, tidak apa-apa. Mas bujangan dan Mbak Devana juga tertulis single."


"Tapi saya berstatus menikah dan pekerjaan adalah ibu rumah tangga di Kartu Tanda Penduduk."


"Mbak Devana tidak terdaftar dalam buku pernikahan di KUA manapun!"


"Maksud, pak Purba???"


Tentu saja Devana terkejut mendengar keterangan yang Pengacara itu katakan.


"Saya memiliki buku nikah! Saya dan Kak Chandra menikah secara resmi!" ujar Devana tegas.


"Ada yang mengajukan pembatalan pernikahan antara kalian berdua. Delik aduannya adalah karena pihak pertama atau mempelai pria dalam keadaan sakit parah dan sengaja berbohong menyembunyikan keadaannya dari pihak mempelai perempuan!"


"Tapi saya tidak mengajukan pembatalan! Dan pernikahan kami tetap ada!"


"Sepertinya pihak keluarga Chandra yang mengajukan dengan membawa serta saksi dari wali nikahnya Mbak Devana!"


Devana menelan saliva. Ia mulai berfikir kembali, teringat kalau Mama Lalita dan Papa Xian mengatakan sudah merubah akta kelahiran dari Ericko Putra. Dan Ericko kini tercatat hanya menyandang keterangan putranya saja. Tak ada nama Chandra Putra Sukoharjo di dalam akta Kelahiran Ericko lagi.


Ternyata, begitu rupanya langkah-langkah yang Keluarga Kak Chandra ambil untuk memblurbkan identitas asli putraku! Jahatnya mereka! Sampai seperti itu, ternyata!


Gege menatap wajah Deva yang berubah sendu.


"Secara keabsahan, memang diragukan keabsahannya. Tetapi Mas Gege sudah mengucapkan ijab kabul didepan penghulu. Ada mempelai, wali hakim serta beberapa saksi. Itu sudah cukup menguatkan keterangan pernikahan kalian berdua. Surat keterangan dan buku nikah hanyalah formalitas saja. Cuma sebagai petunjuk keterangan untuk keluarga kalau kalian terbukti pasangan suami istri. Tetapi jika ada pihak yang menelusuri keabsahan dan keterangan aslinya, kalian adalah dua individu yang bebas dan sama-sama single alias belum menikah!"


"Jadi kami juga tidak bisa sembarang memakai buku nikah karena khawatir ada pihak-pihak yang mencoba mencari tahu kebenaran dari isi buku nikah itu?" ungkap Gege penuh tanda tanya.


"Betul, Mas!"


"Lalu bagaimana..., kami seharusnya kini?"


"Ya tak harus bagaimana-bagaimana juga! Toh waktu telah berjalan hampir satu bulan setengah. Pak Gunawan juga sudah menganti nama sertifikat kepemilikan serta saham-sahamnya sesuai yang pak Indra dan Mas Gege inginkan. Jadi, tinggal empat bulan lagi. Semua sesuai rencana!"


"Aamiin..."


Deva dan Gege saling berpandangan. Kini hati mereka agak tenang juga. Selain tinggal empat bulan lagi dari waktu yang tetapkan, Deva juga merasa akan segera kembali ke rumah bundanya dengan membawa cukup uang demi masa depan Ericko nanti.


.......


.......


.......

__ADS_1


Widia dan Viona istri dari Fikri sahabat Gunawan akhirnya mengadakan pertemuan di sore harinya.


Wajah Widia sedikit pucat mendengar cerita Viona. Gunawan ternyata mendatangi Viona untuk kabar berita tentang Claudia.


Widia tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya diam membisu merenungkan semua ucapan Viona.


Fikirannya kembali pada mimpi buruknya didatangi arwah Claudia. Sangat menakutkan Widia, jika ucapan itu menjadi kenyataan dan dia akan jadi terdakwa dimata Gunawan.


Widia menghela nafas. Dadanya terasa kembali sesak sehingga dengan cepat jemari kecilnya mengambil tabung alat hisap berisi oksigen.


"Mbak Wid baik-baik saja khan?" tanya Viona khawatir.


"Iya, Aku baik-baik saja, Viona!"


Setelah hampir satu jam berbincang dengan teman lamanya itu, Widia memutuskan untuk pulang.


Ia sudah izin Gunawan untuk pergi besok pagi-pagi sekali.


Tujuannya adalah menyambangi makam Claudia di kota A dan juga mendatangi panti asuhan milik Anne yang 16 tahun lalu sering ia sambangi untuk melihat wajah putri Gunawan dan Claudia.


Kini ia ingin melihatnya lagi. Dan mendengar langsung keadaan putri suaminya dari wanita lain yang adalah keponakannya sendiri.


...🌲🌲🌲🌲🌲...


Makam Claudia sangat tak terurus.


Gundukan tanah itu seolah berubah menjadi hutan kecil yang penuh dengan tumbuhan.


Setelah beberapa saat mencari orang untuk membantu membersihkan makam Claudia, akhirnya Widia bisa kembali tafakur berdoa di samping tempat peristirahatan terakhir sang ponakan.


Matanya menatap sendu pada kuburan Claudia.


Ada rasa sedih dan kecewa, tapi kini ia berusaha mengikhlaskan semuanya.


Seperti kata Claudia dalam mimpinya, sekuat apapun ia menutupi semuanya dari Gunawan. Tetap suatu saat nanti akan terbuka juga pada akhirnya.


Ia ingin menyelesaikan semuanya dengan keadaan baik dan tanpa keributan.


Dirinya juga Gunawan kini sudah tua. Bahkan bisa disebut renta. Widia pasrah pada apa yang akan terjadi nanti jika Gunawan tahu kebenarannya.


Dan dia bertekad, dirinya sendirilah yang akan mengungkap kebenaran itu pada sang suami.


Widia kini perlahan memantapkan hati.

__ADS_1


πŸ’ŒTO BE CONTINUE


__ADS_2