
Paviliun Gunawan benar-benar sepi kini. Bahkan Surya juga telah pindah kamar ke paviliun Tiara yang juga ada beberapa kamar kosong.
Kini yang menempati kamar atas paviliun utama hanyalah Devana, Bi Fani dan satu suster serta beberapa pengurus rumah tangga di paviliun itu.
Sementara Demian dan Danira tinggal di paviliun yang pernah ditempati kedua orangtua mereka.
Begitu pula Zara dan Fiona. Tetapi kedua cucu Gunawan itu lebih sering tinggal bersama Fifie dan Tio di kota C.
Devana mulai merasakan kesepian padahal baru beberapa hari semua keadaan ini ia jalani.
Hari ini hari Minggu. Kantor perusahaan baru akan kembali beroperasi Senin esok.
Sebenarnya Dev kini mulai sering chatt Akila bahkan nyaris setiap jam saking dekatnya.
Akila mengatakan kalau Deva suntuk dan bosan di rumah, lebih baik main ke mess tempat Akila tinggal. Karena ada banyak kisah serta cerita seru yang ingin ia katakan.
Akila membuat Deva sering mengiri.
Ia kagum pada karakter sifat gadis yang usianya empat tahun lebih muda darinya itu.
Akila dewasa. Fikirannya selalu stabil walau ia punya banyak masalah. Akila tetap ceria bahkan selalu semangat menjalani hari-harinya apalagi setelah kini menemukan kakak kandungnya. Terpancar sekali kebahagiaannya.
Gege alias Satria sebenarnya menarik Akila untuk pindah dengan keluarga Indra ke kota C. Tetapi Akila menolak sementara karena belum resmi mengajukan pengunduran diri pada kedua CEO tampan Demian dan Surya Abdi.
Ia ingin mengajukan surat pengunduran diri setelah seminggu bekerja. Jika langsung melakukan itu di hari pertama masuk kerja sejak kepergian Boss PT MAKMUR SENTOSA, dirasa kurang etis.
"Selamat pagi, Ericko!"
Devana mendongak. Terlihat sosok tegap dengan wajah tampan dan senyum menawan berdiri di depan pintu kamar Ericko putranya.
"Pagi, Om Demian!" jawab Deva mengumpamakan Ericko.
Demian masuk setelah Deva tersenyum dan mengangguk ketika ia minta izin melihat ponakannya lebih dekat.
Seharusnya adik kecil bukan ponakan. Tetapi baik Demian maupun Surya seringkali berkelit seolah tak terima dan tak mau mengakui kalau Devana itu adalah tantenya, adik dari Ibu mereka. Bahkan keduanya masih memanggil Deva dengan nama. Tanpa embel-embel tante atau untie.
"Sedang apa, Sayang?" sapanya pada Ericko yang sedang bermain dan sibuk mengobrak-abrik box mainannya.
Demian tersenyum sendiri melihat bocah yang sebentar lagi berusia satu tahun itu terlihat menggemaskan bermain dengan ponsel plastik dan menempelkannya di telinga.
"Allo! Pappa? Allo," ucap Coco dengan suara imutnya.
"Hallo! Di sini Papa Demian, Coco!" jawaban Demian membuat Devana tersenyum tipis.
__ADS_1
"Om Demian!" ralat Deva dengan suara pelan.
"Ga apa panggil Papa juga. Dulu aku suka panggil Papa Indra, Papa Rend, Papa Tio. Sama saja khan?" timpal Demian membuat Deva malu.
Iya juga ya. Kenapa aku koq jadi baper dan sensitif begini?! rutuk hati Deva, merasa tak enak hati.
"Hehehe..., maaf Papa Demian!"
Demian tertawa kecil.
Ia tahu, Devana merasa kurang nyaman dengan dirinya dan panggilan yang ingin sekali ia sematkan pada Ericko.
Sebenarnya hati kecil Demian memang mendamba Devana. Ia telah banyak bertanya pada orang-orang yang lebih dewasa dan faham.
Seandainya ia memiliki hubungan dengan putri kakeknya yang dari istri muda apakah dilarang agama dan hukum. Tetapi ada dua pendapat yang bersebrangan.
Satu sisi mengatakan kalau tidak boleh alias haram. Tapi satu sisi lagi menjelaskan boleh saja, karena dirinya adalah anak lelaki dari putri kakeknya dari istri pertama. Konon katanya darah anak perempuan tak sekuat darah anak laki-laki.
Jadi, jikalau ia dan Deva berjodoh, kemungkinan bisa disahkan negara.
Seperti dulu hubungan kakek dengan keponakan dari nenek, sebenarnya sah saja jika menikah secara legal. Tetapi Nenek Widia kadung menyembunyikan ponakannya yang sedang mengandung hingga melahirkan tanpa diketahui kakek Gunawan.
Demian mengusap wajahnya, berusaha menegarkan diri dan ingin sekali berjuang mendapatkan Devana.
Selama ini banyak wanita cantik hilir mudik dikehidupan terdahulunya. Bahkan lebih cantik dan lebih seksi dari Devana. Tetapi ini yang pertama, setelah cinta pertamanya pergi begitu saja mengghostingnya.
"Coco, jalan-jalan ke taman yuk? Kita naik kereta api yang waktu itu!"
Demian tersenyum lebar. Senang sekali, Ericko bereaksi sangat cepat dan bersorak kegirangan.
Ericko melompat kepelukan Demian.
"Ayo, Om! Ayo!"
Agak sedih, rupanya Ericko sudah tahu dan menyebutnya dengan panggilan Om. Tapi Demian tak mau menyerah begitu saja.
Ericko masih teramat kecil. Sangat mudah untuk mendapatkan hati anak seusia Ericko bagi Demian yang memang humble dan pecinta anak-anak.
"Ayo, Dev!"
"Ah iya! Tapi..., kita mau kemana Kak Dem?"
"Ke taman bunga yang waktu itu!" jawab Demian singkat. Ia ingin sekali mengajak jalan Deva dan Ericko seperti kala itu.
__ADS_1
"Naik mobil?" tanya Deva melihat sebuah honda jaz sudah berada di luar parkiran.
"Mau naik motor?" Demian semakin semangat kalau Deva memilih motor. Ia akan semakin rapat jika itu pilihan Deva.
"Mobil boleh. Lebih aman, Kak! Hehehe..."
Demian tersenyum. Sedikit kecewa, tapi ucapan Deva juga benar. Keselamatan orang-orang yang disayangnya adalah yang paling utama.
Naik motor memang lebih menyenangkan. Feel romantisnya karena tangan Deva akan melingkar manis dipinggangnya terbayang di pelupuk mata.
Tetapi mobil pun bisa menunjukkan sisi romantis jiwanya yang mendamba cinta tulus Devana.
Demian memasangkan tali pengaman di pinggang Devana setelah wanita itu duduk di sampingnya.
Boleh sedikit modus, asal jangan terlalu ngotot! Hm...
Devana sempat kaget ketika Demian bilang "Maaf!" tetapi wajahnya mendekat dan tangannya meraih tali safetybelt yang ada di pinggang kirinya.
Ericko duduk dipangkuan Demian. Bocah itu begitu antusias seraya ikutan memegang setir bulat mobil Demian.
"Coco sini, duduk sama Mama! Om Dem kagok dan itu berbahaya, Nak!"
"Biar saja, Dev! Lagipula kita tidak akan keluar jalan raya koq! Taman kompleks yang waktu itu kita main."
Akhirnya Devana mengalah. Coco duduk dipangkuan Demian dengan wajah cerah dan senyum mempesona.
Devana ikut senang. Karena jarang-jarang ia melihat wajah Ericko yang bahagia. Terlrbih setelah kepergian Kakek Gunawan dan Nenek Widia.
Tetapi di ujung jalan, ada sebuah mobil berwarna merah metalik juga tengah memperhatikan keduanya.
Wajah pria di balik kemudi itu tampak datar bahkan sedikit gusar.
Dia adalah Georgino Gunawan alias Satria.
Niatnya memang sengaja ingin mengajak Devana keluar. Ia berencana mengajak Deva napak tilas ke kampung halamannya di kota K, sekaligus menengok bunda Anne, ibu asuh Devana.
Tetapi sepertinya rencananya gagal total. Demian lebih dulu membawa Deva dan Coco pergi.
Hanya helaan nafas kecewa yang bisa ia lakukan saat ini. Lalu menyalakan mesin mobilnya, meluncur ke jalur yang lain.
Aku tidak boleh mengikuti mereka! Aku tidak boleh melakukan hal-hal yang buruk seperti memata-matai Devana! Aku..., tapi,... tapi aku juga galau gegana. Sudah dua hari tak melihat wajahnya dan juga Coco! Andaikan aku menyusul mereka, apakah Dev tidak akan marah padaku? Apalagi ada Demian disana! Pasti dia akan menuduhku yang bukan-bukan seperti tingkah Papanya padaku tempo hari!
Antara bingung tapi rindu, akhirnya Gege memutuskan untuk menengok adiknya di mess perusahaan.
...๐TO BE CONTINUE...
__ADS_1