
"Deva! Lalu sekarang apa keputusanmu? Apakah akan tetap tinggal di paviliun Papa Mama kami, atau bagaimana?" tanya Ellie menyidik.
"Tentu saja Devana harus tinggal bersama kita! Devana amanat Mama, sebagai penebusan rasa bersalah Mama selama ini!" balas Fifie.
"Mama tidak salah! Papa yang salah telah mengkhianatinya! Dan apakah kamu akan terima jika Rendy sampai melakukan tindakan seperti Papa? Mau kamu mengurus anak selingkuhan yang seharusnya jadi ponakan?"
Kata-kata Ellie menghujam perasaan Fifie.
Semua diam, termasuk Devana.
Sebenarnya dia ingin pergi dari rumah besar Gunawan Wicaksono. Tetapi mengingat jati dirinya, juga perlakuan para kakak perempuannya yang agak aneh bahkan seolah tak peduli kalau kakak laki-lakinya pergi. Devana mencoba bertahan.
Ia mencoba berfikir lebih jauh ke depan. Setidaknya, dirinya bisa menjadi jembatan penghubung Indra dengan ketika adik perempuannya yang sebenarnya dibawah kendali para suami.
Aku harus bisa bertahan! Aku harus mampu bertahan! Berharap Papa Indra, Mama Nani dan Kak Gege kembali lagi ke istana Kakek Gunawan! Setidaknya, aku harus bisa menyadarkan kakak-kakak tiriku yang perempuan untuk lebih bijaksana dalam menentukan keputusan nanti. Semisalpun mereka tetap egois dan keras kepala, mungkin aku bisa sedikit memperlamnat gerak-gerik kebodohan mereka semua. Atau paling tidak, aku bisa membalaskan dendam Papa Indra sekeluarga!
Begitu tekad dalam hati kecil Devana.
.............
Devana kini mendapatkan mobil pribadi lengseran dari Gunawan Wicaksono. Kakek sekaligus Papa kandungnya.
Secara alamiah, Devana kini masuk kedalam lingkungan keluarga bangsawan Gunawan. Mereka kini dijuluki Empat Srikandi Gunawan.
Seperti yang Indra ucapkan, para notaris dan lawyer-lawyer mereka telah berjejer meralat dan merapikan semua dokumen penting. Satu putra dan empat putri Gunawan kini terlihat serius mengurus harta warisan Papa Mamanya di salah satu kantor LBH paling terkenal di Ibukota.
Devana awalnya kaget ketika harus menandatangani berlembar-lembar dokumen penting atas nama dan parafnya.
Terkadang Demian sesekali membantunya.
Pemuda dewasa itu kini menjadi lebih dekat dengan Devana. Walaupun Papa Mamanya mengingatkan Demian untuk memanggil Deva dengan sebutan tante, tapi Demian dan Surya tetap memanggil serta menyapa nama Devana.
Setelah semua beres, Devana juga diminta Fifie untuk ikut bekerja seperti para cucu Gunawan di kantor pusat.
Setelah selesai urusan dengan para aparatur yang biasa mengurus surat dan peradilan, Devana dan Gege pergi bersama.
Cukup lama Gege dan Deva hanya duduk berdiam diri di dalam mobil Toyota Voxynya yang berwarna hitam metalik itu.
__ADS_1
"Deva,..."
Yang dipanggil menoleh dan menatap wajah mantan suami kontraknya itu.
"Jujur aku canggung dengan situasi ini!" tambah Gege lagi.
"Kakak Gege!"
"Jangan panggil 'Gege'. Namaku Satria. Dan aku hanyalah orang miskin yang ketiban rezeki nomplok bisa jadi orang kaya. Berbeda denganmu. Status kita aslinya ya seperti ini. Kamu-lah yang anak orang kaya sesungguhnya!"
Deva diam tak menjawab.
Ia hanya menghela nafasnya sejenak. Lalu menunduk mempermainkan jari-jemari tangannya.
"Andaikan aku bisa meminta, aku lebih suka menjadi Devana si anak yang tak jelas asal-usulnya. Yang tak pernah dipandang orang walau hanya selintas karena kemiskinan dan kenistaan hidupnya. Tapi aku bahagia, Kak! Tidak seperti sekarang ini! Bahkan kedua orangtua almarhum suamiku menelponku semalam. Mereka bersikukuh untuk video callan karena kangen pada cucunya!"
Gege menatap balik Devana.
"Kedua orangtua mendiang Chandra?" tanyanya memastikan.
Devana mengangguk.
Gege tersenyum menyeringai. Ia tak menjawab, tak juga mengiyakan.
"Hebatnya uang dan kekuasaan! Dalam waktu semalam, mereka yang dulu mengusirku dan tak mau mengakui darah dagingku sebagai keturunannya kini menangis-nangis memohon maaf dariku!"
"Pasti Anton Lee yang menceritakan semua tentang dirimu!"
"Bukankah Kak Anton juga membenciku? Bahkan terakhir kita bertemu di rumah sakit, dia mengancamku ingin melaporkan tindakanku yang melawan hukum dengan menikah tanpa sesuai waktu yang seharusnya telah ditetapkan pemerintah. Kak Anton menuduhku berselingkuh!"
"Anton bertemu kamu di rumah sakit?"
"Iya, Kak! Sewaktu kakak sakit dan harus mendapatkan perawatan intensif sebulan yang lalu!"
"Kenapa kamu gak bilang, Deva?"
"Jujur aku ingin sekali bercerita. Tapi saat itu, kondisi Nenek sudah mulai tidak baik. Dan kita semua dalam keadaan panik dan cemas. Kakak juga sibuk banyak kerjaan. Aku gak berani menambahkan lagi kesusahan Kak Gege!"
__ADS_1
"Kamu masih memanggilku Gege. Panggil aku Satria, Deva!"
"Aku tetap ingin memanggilmu Kak Gege. Seperti Papa Indra dan juga Mama Nani. Boleh ya?"
"Kenapa tingkahmu jadi manis begini padaku, Dev? Apa kamu kasihan padaku? Iba melihat Pangeran Tengil ini tiba-tiba berubah menjadi pria biasa yang stratanya kini adalah rakyat jelata?"
Deva mencubit pelan lengan Gege.
"Aku hanya suka pada hal-hal kita yng dulu diawal. Pada dirimu yang tengil dan sok berkuasa. Pada semua titahmu yang bagaikan perintah raja."
"Hehehe...! Harusnya kamu menertawai diriku yang kini seperti ini, Deva! Puas sekali bukan melihat pria tengil yang pernah dengan tiba-tiba menyodorkanmu ajakan nikah kontrak di atas KRL yang sedang berjalan, ternyata pria itu bukan siapa-siapa!"
Devana tersenyum.
"Iya. Masih untung gak kubilang pria gila ya? Hehehe..., berani sekali mengajak wanita beranak satu untuk nikah kontrak padahal tak tahu asal-usulnya! Kalau bukan gila, sinting namanya! Hihihi, maaf Kak!"
"Ya. Begitulah. Pria Gila yang pura-pura kaya raya padahal aslinya,... hahaha...!"
Devana mencekal tangan Gege.
"Bisa gak untuk tak membahas soal itu lagi?" ancamnya membuat Gege tersenyum.
"Baik, Tuan Putri Devana! Maafkan Saya, ya?"
"Kak Gege, iiih mulai nyebelinnya, kumat!"
"Hahaha..."
Hari menjelang siang yang indah. Tawa canda renyah diantara mereka membuat hati yang tadi terhimpit beban berat serasa ringan.
Devana dan Gege saling tertawa berbagi cerita di basement parkir kantor lembaga bantuan hukum yang mengurus surat kuasa keluarga Gunawan Wicaksono.
Tetapi sepasang mata sendu mengamati mereka dari kejauhan.
Dia adalah Demian. Matanya tak berkedip menatap keseruan Gege dan Deva di mobil depan yang terparkir tanpa mengetahui kalau Demian juga ada di dalam mobil yang parkir disana.
Hhh... Satria! Kini kau rupanya sedang bersandiwara lagi untuk mengambil hati Devana! Ck ck ck...! Tidak semudah itu! Tidak akan kubiarkan kau mengambil hati Devana yang kini memiliki harta. Aku tahu niatmu pasti busuk. Ingin bersanding dengan Devana karena status dan keadaannya kini! Jangan harap kau bisa meraih hati Devana! Tidak akan bisa!!!
__ADS_1
...๐TO BE CONTINUE...