
Krieeet...
Pintu rollingdoor gudang dibuka seseorang. Membuat Deva dan Akila kompak menoleh.
Lima orang masuk, dua diantaranya membuka ikatan tangan Devana dan Akila di kursi tawanan.
Akila berteriak, memohon dibuka penyumpal mulutnya juga.
Ia sudah tidak kuat dengan bau yang menyengat dan sangat dekat dengan lubang hidungnya itu.
"Tolong, Mas-Mas Ganteng! Hiks...!" pintanya dengan suara yang tak terlalu jelas karena terhalang penyumbat.
"Tapi kalian tidak boleh macam-macam, kalau tak ingin nyawa melayang!"
Akila menelan salivanya. Ia mengangguk cepat. Demi apapun, ia rela asal untuk saat ini kain penyumpal yang baunya mirip pel bekas itu dilepas dari mulutnya.
Dengan tangan dipiting ke belakang, dua wanita muda itu dituntun keluar gudang.
Salah seorang dari mereka membuka kain yang sedari siang tadi membekap mulut Deva dan Akila.
Di depan gerbang mereka ada dua mobil menunggu.
Ternyata hari telah beranjak malam. Cukup lama juga mereka disekap di dalam gudang. Sekitar sepuluh jam lebih.
Kini Akila dan Deva saling memandang. Seperti memberi aba-aba untuk memulai perlawanan.
"Injaaak!!!" teriak Akila memberi perintah pada kakak pantinya itu untuk menginjak kaki yang menawan tangan mereka dibelakang.
Tentu saja penculik yang menuntun keduanya terpekik kaget.
Injakan kaki dua wanita beda usia itu membuat kedua penculik itu berjingkrak-jingkrak dan secara spontan melepas pegangan tangannya pada Deva juga Akila.
Akila langsung menarik tangan Deva.
Mereka tak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan angkat kaki dan berlari sekencang-kencangnya.
Kelima pria itu baru tersadar, kalau tawanan mereka adalah wanita-wanita mungil yang seperti cabe rawit.
"Woi, kejar mereka!!!" teriak salah seorang yang kakinya diinjak Akila. Masih agak terpincang tetapi berusaha berlari mengejar sandera.
"Ayo, Kak! Kita bisa lebih cepat lagi!!!"
Akila menge-push Devana yang mulai kelelahan dan agak melambat larinya.
"Ayo, ayo, kita bisa lolos dari mereka!" ujar Deva berusaha menyemangati diri.
Mereka sengaja berlari ke arah jalan yang lebih kecil daripada jalan raya yang lengang karena berada di sebuah bangunan gudang tempat penyimpanan mesin-mesin berat.
Deva mencopot sandal selopnya supaya lebih cepat berlari.
"Jangan lepas selop, Kak! Lari-lari!!!"
"Aaa... kakiku sakit Kila!!! Ah... Ah, tolooong!!!"
"Tolong kamiii!!!"
"Tolooong!!! Kami korban penculikaaan!"
"Tolooong!!!"
Kelima pria yang mengejar Deva serta Akila mulai panik. Sandera mereka kini keluar jalan raya yang mulai ramai pengguna jalannya.
Mobil dan motor satu dua terlihat melintas.
"Tolooong!!! Tolong kamiii!!!"
__ADS_1
Akila dan Deva berteriak sambil terus berlari cepat agar tidak tertangkap para penculik yang mengejar mereka.
Tetapi satu pria berhasil menarik rok tutu Deva dan,
Breek...
"Tolooong!!!"
"Tolooong!!!"
Akila menarik tangan Deva cepat. Ia agak mundur dan,
Dezig!!!
Tendangan kaki Akila benar-benar mantap dan mematikan.
"Aaaarrrggghhh!!!"
Teriak yang menandakan betapa sakitnya biji salaknya yang telak kena tendang gadis yang terkenal sebagai atlet lari di masa SMA itu.
"Mampus luh! Pecah telor lo, ganti pake telor plastik!!!"
Puas sekali kalimat teriakan Akila.
Devana dengan nafas terengah-engah mengekor Akila pun ikut tertawa menyeringai.
"Tolooong!!! Tolooong!!!"
Sementara salah satu kendaraan mobil mitsubishi pajero sport berwarna putih berhenti melihat dua perempuan berlarian di pinggir jalan.
"Tolong! Tolong kami!!!" teriak Akila setelah hampir mendekati mobil yang berhenti itu.
"Ayo, lekas naik!!!"
Akila menarik pintu mobil dengan cepat. Kemudian ia menarik tubuh Devana di belakangnya hingga mereka saling bertindih di jok belakang.
"Devana!!!"
"O-Om Rendy??? Om Rendy??? Alhamdulillaaah!!! Terima kasih ya Allah!!! Hik hik hiks..."
Devana menangis keras. Ia lega, salah seorang menantu Kakek Gunawan ternyata yang jadi penolongnya.
"Syukurlah! Akhirnya kami lepas dari para penculik itu!" pekik Akila yang ikut histeris melihat Deva menangis.
"Kalian kemana saja? Semua orang mencari-cari, terutama Gege dan Surya! Deva, Deva Nenek Widia...,"
"Kami, kami diculik seseorang Om!" jawab Deva dengan nafas masih terengah-engah.
"Siapa yang berani melakukan perbuatan itu?" tanya Rendy berpura-pura terkejut.
"Deva, nenek telah meninggal dunia tadi siang!" tambahnya lagi.
"APA???" Kini Devana kembali shock.
Sungguh hari ini adalah hari yang paling buruk dalam hidupnya.
Devana mengguncang bahu Rendy dari belakang.
"Om pasti bohong! Om Rendy pasti bohong!" pekiknya. Andai saja ia melupakan rasa malu, ingin Deva menghentak-hentakkan tubuh Rendy lebih lama lagi.
"Tenang, Dev! Kita kembali ke villa pemakaman! Semua masih berkumpul menunggu kamu pulang! Tabahkan hatimu!"
"Huaaa...huaaa hik hik hiks!!! Aku lebih ikhlas jadi anak yatim piatu yang tak tahu kedua orangtua daripada harus menerima kesedihan seperti sekarang ini secara beruntun! Huaaa...! Tuhaaan, kenapa nasibku seperti iniii!!! Hik hik hiks..."
Akila berusaha menenangkan Devana dengan memeluk erat tubuhnya yang dingin dan basah.
__ADS_1
Keduanya saling berangkulan.
Akila sampai terbawa perasaan dan ikut menangis pilu walaupun dia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada kakaknya itu.
Agak lama, Devana baru bisa sedikit tenang dalam dekapan Akila.
Tak sampai satu jam, mobil Rendy memasuki area pemakaman San Diego Hills.
Suasana malam yang gelap gulita dan hanya diterangi lampu-lampu penerangan yang temaram di kiri kanan jalan, tak menyurutkan Rendy terus meluncur memasuki gerbang area pemakaman.
Rendy akhirnya mematikan mesin kendaraannya di garasi area parkir. Ia keluar lebih dulu, lalu membukakan pintu mobilnya untuk Devana yang sembab air mata.
Kedua wanita muda itu turun bergantian dengan perlahan. Bahkan Devana sampai bertelanj*ng kaki karena selop tipisnya ia tinggal di jalan tadi.
Kakinya kotor dan dingin.
"Ayo Deva! Semua menunggumu!" ujar Rendy pelan.
Devana teringat pada putra tunggalnya. Ia kembali terisak walaupun dengan suara tertahan.
"Fifie, Gege!!! Devana dan Akila sudah pulang!!!" teriak Rendy mengejutkan semua orang.
Gege langsung menghambur keluar. Ia tak berfikir panjang dan langsung merangkul Deva yang kembali menangis keras.
Surya juga keluar dan pucat melihat Akila yang terlihat tak karuan itu. Ia nyaris berlari menabrak Akila. Tetapi untungnya langsung tersadar dan tak ingin kelakuannya malah menambah banyak pertanyaan keluarga besarnya.
"Nenek! Nenek! Nenek, Mas!?" pekik Devana.
"Nenek sudah tiada, Dev! Nenek sudah berbaring tenang disamping Kakek! Hik hiks..."
Gege merengkuh Devana dan membenamkan wajah wanita itu didada bidangnya.
Semua kembali merasakan kesedihan dan kepahitan.
Nani langsung meraih Devana dari pelukan Gege. Ia melihat dengan tatapan aneh para saudara iparnya yang menatap kedua sejoli itu penuh aneka rasa.
"Mari kita selesaikan semuanya!"
Glen kembali seperti tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia terlihat sangat bernafsu untuk menggayang Indra dan Gege yang telah melakukan penipuan pada kedua orangtua serta saudara-saudaranya.
"Biarkan Deva dan Akila berganti pakaian dulu! Lalu kita makan bersama! Setelah itu, aku akan turuti kemauanmu, Glen!"
Indra akhirnya pasrah. Ia benar-benar harus membuka kedok yang semula begitu ingin ia pakai sampai akhir hayatnya.
Glen mengangguk.
Dalam hati ia tersenyum puas.
Ellie istrinya menggenggam kepalan tangannya. Seolah sudah faham betul bakal terjadi sesuatu yang menguntungkan keluarganya.
Demian harus bersiap-siap! Gege tidak boleh terlalu lama menduduki kursi basah yang memang bukanlah miliknya! Batin Ellie.
Mereka sudah tahu kenyataan sebenarnya tentang Indra, Nani dan Gege dari investigasi Tio dan para anak buahnya.
Uang memang memudahkan semua urusan, termasuk mencari informasi dan keterangan yang bahkan sudah dikubur rapat-rapat belasan tahun lalu.
Kini mereka bersiap dengan pergantian CEO dan tampuk kepemimpinan karena sang CEO serta orang yang mereka tuakan ternyata terbukti melakukan sabotase identitas. Dan itu adalah kesalahan besar yang memang pasangan Ellie Glen, Lisa Tio tunggu-tunggu.
Hanya Fifie yang tak bernafsu mempermasalahkan hal yang baginya tak terlalu penting itu.
Ia hanya memikirkan masalah intern pernikahannya saja dengan Rendy. Pemikirannya tak melulu soal uang.
__ADS_1
...๐TO BE CONTINUE...