
Devana membawa Ericko pergi ke minimarket terdekat untuk belanja keperluan mendesaknya.
Dengan berjalan beberapa ratus meter, ia akhirnya tiba di Alfa.
Ternyata di sana juga ada Demian yang sedang membeli beberapa kebutuhan hariannya.
"Deva?"
"Demian?"
"Sini, Ericko aku yang pangku! Kamu tadi jalan kaki ke sini? Si Gege kemana? Kenapa ga minta anter dia? Itu tuh keringatmu, di-lap dulu!"
Devana tersenyum mendengar perhatian Demian yang tulus tanpa banyak fikir panjang meskipun para karyawan Alfa diam-diam memperhatikan interaksi manis diantara mereka.
Demian melap keringat Deva, membuat wanita muda itu menjadi serba salah. Demian juga mengambil Ericko dari gendongannya.
"Mau beli susu ya? Ayo, sini Om belikan!" katanya sembari meninggalkan Deva yang masih merona wajahnya karena malu atas perlakuan sepupu dari suami kontraknya itu.
"Susunya Ericko apa, Dev?"
Devana tergagap. Ia menolak halus dan mengatakan kalau stok susu formula Ericko masih banyak.
"Jangan sungkan! Ericko itu khan keponakanku. Dan kamu adalah istri sepupuku. Jadi, wajar saja kalau aku ada perhatian pada kalian. Jangan hiraukan ocehan deterjen yang suka berbusa karena ghibah!"
Ucapan Demian membuat beberapa perempuan yang tadi kasak-kusuk seketika terdiam.
Deva hanya bisa menanggapinya dengan senyuman tipis segaris.
"Hahaha..., takut ya sama Gege? Dia cemburuan ya orangnya?" tutur Demian lagi dengan suara agak berbisik.
Deva lagi-lagi hanya tersenyum. Kini senyumnya lebih lebar karena Ericko teriak kegirangan sembari menunjuk ke arah rak mainan.
"Waaah, anak pintar! Ericko mau mainan? Oke, kita beli! Yang ini? Kamu mau yang ini, ya?... Hei! Hati-hati, jangan bercanda terlalu heboh, anak muda! Bahaya!!!"
Tiba-tiba Demian menarik tungkai lengan Deva hingga merapat ke tubuhnya karena ada dua anak SMP yang sedang berkelakar saling pukul sampai hampir menabrak Devana.
"Maaf, maaf Bang! Maaf!"
Anak lelaki tanggung itu cengengesan sambil merunduk meminta maaf, kemudian kabur keluar melihat wajah Demian yang kaku serius.
"Dem, jangan terlalu tegang! Mereka gak sengaja koq!" ucap Deva sembari mengusap punggung Demian dengan lembut. Berusaha meredam emosi Demian yang nampak terlihat dari pelototan matanya. Membuat Deva takut, apalagi kedua bocah tanggung tadi.
Demian menghela nafas pelan.
"Bukan apa-apa! Tingkah mereka bisa membahayakan orang lain! Kalau kamu tertabrak dan mental kena pinggiran rak ini, bagaimana coba?!"
"Iya, iya. Mereka sudah minta maaf, Dem! Hehehe...! Terima kasih kamu melindungiku tadi!"
Kini Demian yang tersadar. Wajahnya memerah mengetahui tingkahnya.
Dia berusaha menetralisir keadaan yang sempat membuat Deva dan dirinya kuranh nyaman.
Mereka sibuk memilih belanjaan masing-masing ke dalam keranjang yang mereka bawa.
"Sudah selesai?" tanya Demian.
Deva mengangguk. Keduanya berjalan beriringan menuju meja kasir. Menghitung barang belanjaan.
__ADS_1
Deva lebih dahulu, namun Demian telah siaga dan sigap membayarkan belanjaan ibu muda beranak satu ini.
"Dem!?"
"Ssttt...! Jangan komentar! Ini Mbak, uangnya!"
Meskipun hanya sembilan puluh ribu lebih, tapi Devana tak enak hati. Demian mengeluarkan uang untuk semua barang yang dibelinya.
"Ayo!"
"Mmm, Aku mau jalan kaki aja! Boleh ya?"
"Ga boleh! Ericko bisa kepanasan! Ayo naik!" perintah Demian yang sudah siap di atas skuter aeroxnya.
Mau tak mau Deva akhirnya menurut.
Demian juga sigap mengambil belanjaan Deva, dan langsung mengikat di depan dashboard motor skuticnya.
Ia juga memakaikan helm ke kepala Deva yang kesulitan karena sebelah tangannya menggendong Ericko dengan kain gendongan.
"Sudah siap?" tanyanya pada Deva.
"Iya!"
"Pegangan ya?"
Deva seperti terhipnotis dan langsung menarik kaos oblong yang Demian pakai.
"Ya ampun, Dev...! Jangan kayak naik ojek dong! Pegangan pinggang aku yang benar! Nyawa Ericko jadi taruhan lho kalau kamu gak duduk dengan benar!"
"Iih, aku turun aja deh!" pekik Deva ketakutan.
Demian tertawa sambil menarik tangan Deva yang hendak melompat turun.
"Canda Deva, kamu ini orangnya serius banget ya? Hahaha...! Duduk diam, pegangan pinggangku. Kita jalan sekarang!"
Deva tersenyum kecut.
Ini adalah kali pertama dirinya diboncengi motor setelah Chandra meninggal dunia.
Dulu, setiap minggu sore ia dan Chandra sering sekali jalan-jalan keliling kota. Melihat pemandangan sekitar dengan hati yang penuh cinta.
Sampai Chandra pernah mencandainya untuk belajar bawa motor agar bisa mengendarainya sendiri. Tapi kala itu Deva menjawab tak mau. Dia lebih suka duduk dibelakang dengan tangan memeluk erat tubuh Chandra. Hingga ia bisa mencium harumnya rambut sang suami serta aroma sabun wangi serta parfum dari leher Chandra.
"Deva, Deva...! Kita main dulu yuk sebentar?"
Deva terlalu sibuk dengan fikirannya di masa lalu. Hingga tak mendengar suara Demian yang mengajaknya bicara.
Suasana siang menjelang sore membuatnya bisa merasakan harumnya tanah dan aspal jalanan yang mengebul panas.
Devana benar-benar menikmati perjalanan itu. Matanya kosong memandang ke depan. Seperti rendevous dan de javu mengingat Chandra serta aroma tubuh Demian yang nyaris sama.
Deva tanpa sadar mengecup tengkuk Demian dan menyandarkan kepalanya pada punggung belakang sepupu Gege.
Ericko sepertinya juga menikmati perjalanan sampai terlelap tidur didalam gendongan.
Demian sendiri tak lagi bersuara. Ia merasakan sesuatu yang lain dari biasanya. Entah rasa apa. Nyamankah? Atau rasa tenteram dari perasaan keingintahuannya yang begitu besar mendalam untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang kepribadian Devana. Seluruhnya.
__ADS_1
Hingga tanpa sadar motornya telah memasuki sebuah taman mini yang indah, wangi dan asri, penuh kuncup bunga mawar yang siap bermekaran.
"Kita ada dimana ini?" tanya Devana. Baru tersadar ia kalau telah jauh keluar dari kompleks perumahan mewah Gunawan Wicaksono.
Demian memarkirkan motornya dengan lihai. Mengangkat tubuh Ericko dari gendongan Deva.
"Kita naik kereta itu yuk!?"
Taman yang indah. Ada beberapa wahana permainan anak-anak balita yang menarik hati dan mata karena warnanya.
"Emang boleh orang dewasa naik juga?" bisik Deva pada Demian.
"Tenang aja, yang punya taman ini temanku!" jawab Demian juga dengan berbisik.
"Oh!"
Mereka mengantri dengan beberapa bocil yang berdiri di depan. Menunggu kereta datang dan naik serta duduk manis di atas kursi penumpang.
Deva terkekeh melihat Demian yang terlihat agak membungkuk karena tinggi dan postur tubuhnya melebihi kapasitas.
Walaupun sedikit kurang nyaman, namun demi bisa naik kereta api berdampingan dengan Deva juga Ericko, Demian memaksakan diri.
Ericko terlihat begitu senang. Bayi imut itu tertawa juga teriak kegirangan. Membuat Deva tak menyesal ikut dengan Demian.
Bahkan untuk beberapa saat Deva lupa pada status dan keadaan dirinya saat ini.
"Beli es krim dulu, yuk?" ajak Demian.
Mereka menikmati es krim cup ukuran sedang. Demian menyuapi Ericko satu suap kecil.
"Ga papa koq! Es krim baik untuk pertumbuhan! Asal jangan kebanyakan, ya Er?"
Perkataan Demian mengingatkan dirinya pada ucapan Chandra yang nyaris sama persis satu bulan yang lalu, sebelum Chandra meninggal dunia.
Saat itu Ia dan Ericko sedang menjenguknya di rumah sakit. Tapi berhubung bayi tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan ICCU yang steril, akhirnya Chandra yang ngotot minta izin keluar kamar. Mereka bertemu di taman, menikmati se cup kecil es krim yang sama merk-nya dengan es yang saat ini ia makan.
Setitik air mata jatuh dari pelupuknya.
Demian terpaku tapi tak bertanya tentang kesedihannya itu. Tetapi setelah es krim yang Deva makan habis, Demian langsung mengajaknya pulang.
"Sudah selesai, mari kita pulang!" ucap Demian sembari mengambil Ericko dari gendongan Deva.
Ini pertama kalinya, Deva jalan sampai meneteskan air mata tetapi tidak ditanya ini itu kenapa ia sedih dan menangis.
Tapi diamnya Demian justru membuat Deva makin respek. Pertanda pria itu memahami dirinya yang tak terlalu nyaman jika ditanya sebab musabab rasa sedihnya muncul.
Perlahan hatinya mulai terbuka. Menerima pertemanannya dengan Demian secara tulus tanpa ada maksud tertentu.
Demian juga tak banyak berkata sepanjang perjalanan pulang. Hingga motornya memasuki gerbang istana besar Gunawan Wicaksono.
"Kalau kamu butuh bantuan apapun, jangan sungkan untuk cari aku!" Hanya satu kalimat itu yang terlontar dari bibir Demian setelah Deva mengucapkan terima kasih padanya.
Demian juga seolah menjaga privasi Deva dengan meninggalkan wanita itu, lalu masuk pintu utama paviliun sang Kakek terlebih dahulu.
Membuat Devana hanya bisa tersenyum simpul kemudian berjalan dengan kepala menunduk.
Apakah akan jadi masalah nanti karena aku pulang dibonceng motor Demian?
__ADS_1
๐TO BE CONTINUE