SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Ada Kegaduhan


__ADS_3

"Pak Hadi?"


"Kamu..., Devana Wandira, putri Anne khan? Bukankah..."


Gege melihat wajah Devana yang pucat pias seketika ia mendekt dan menggandeng pinggang istri kontraknya dengan sigap.


"Selamat pagi, Pak! Oiya, saya Georgino Gunawan dan ini istri saya Devana. Sepertinya Anda kenal dengan istri saya! Oiya, boleh minta kartu nama Bapak? Saya ingin sekali mengajak ketemuan setelah acara ini usai. Bisakah?"


"Ah ya, pak CEO Georgino. Nama saya Hadi Yuslan. Saya sangat senang atas undangan pak CEO! Ini kartu nama saya. Hubungi saya kapan saja pak CEO mau! Saya permisi!"


Hadi sepertinya juga shock dan kaget bertemu Devana di acara pelantikan Geogino Gunawan, cucu atasannya. Orang yang telah 23 tahun menjadi bossnya sejak Hadi masih sebagai supir pribadi hingga menjadi staf manager di wilayah selatan kota A.


"Deva, kamu kenal bapak itu?" bisik Gege menyadarkan Deva yang pucat pasi.


Deva mengangguk pelan.


Gege menggandeng tangan istri kontraknya. Berjalan menjauh ke tempat yang jauh lebih lengang, yakni di luar ruangan pesta.


"Siapa dia?" tanya Gege serius.


"Dia adalah pak Hadi. Beliau donatur tetap di panti asuhan tempatku tinggal dulu, Kak! Beliau tahu, aku sudah menikah dengan Kak Chandra, cucu Tuan Sukoharjo pengusaha kota K!"


Gege memicingkan matanya. Ia diam merapatkan bibirnya rapat, tanda fikirannya sedang berputar keras.


"Kita harus gerak cepat untuk bertemu pak Hadi itu sebelum rumor dirimu merebak di perusahaan!"


Deva hanya bisa mengangguk. Ia tak tahu harus berkata apa, kecuali menurut saja pada apa yang akan Gege lakukan.


Diam-diam Gege melakukan pergerakan dengan memanggil ajudan rahasianya. Asisten pribadi yang merangkap juga sebagai spionase.


"Tolong, cari informasi tentang pria ini! Segera!" bisiknya pada Miracle Candil, nama asisten pribadi Gege.


Namun pergerakan tipisnya ternyata juga dalam pantauan mata elang milik Demian.


Pria itu yang kebetulan berada di luar ruangan pesta untuk merokok, secara tidak sengaja mendengar percakapan singkat Deva dan Gege dari tempat duduknya yang tersembunyi.


Demian semakin penasaran pada Gege serta Deva. Gerak-gerik keduanya terlihat mencurigakan meskipun tidak berbahaya menurut pandangannya.


Gunawan Wicaksono sendiri masih berada di aula ruangan pesta.


Ada seseorang kawan yang menggelitiknya untuk mengajak ngobrol di sudut kursi tamu tanpa melibatkan Widia yang kembali ke ruang istirahatnya di lantai tiga.


"Fikri!"


"Gunawan...! Selamat, kau benar-benar pengusaha hebat!"


"Hahaha..., kau salah jika menyelamati aku! Harusnya Gege, Demian dan Surya yang kau beri ucapan selamat itu. Bukan aku! By the way apa kabar, bro?"

__ADS_1


"Seperti yang kau lihat, Gun! Fisik tua menjadi penghalang jiwa mudaku! Hahaha..."


"Hahaha...! Dasar kau! Ingat, kita ini sudah bau bangkai. Tinggal menunggu panggilan malaikat maut untuk cabut dari muka bumi ini! Hehehe..."


"Begitulah! Tapi, aku masih tetap merasa muda. Istriku justru baru saja melahirkan!"


"What? Are you crazy? Hahaha...! Istrimu yang keberapa, Fik?"


"Yang kelima. Hahaha..."


"Hahaha..., hadeeuh! Untung Widia sudah kembali ke lantai tiga. Kalau tidak, bisa seharian aku tak ditegurnya gara-gara obrolan ngasalmu ini!"


"Ck...! Istrimu itu masih seperti yang dulu. Pencemburu berat, ya!?"


"Tidak juga. Widia adalah segalanya bagiku! Dan aku tak berani macam-macam setelah kejadian 23 tahun lalu. Hhh...! Sudah ah, jangan bahas itu lagi!"


"Maaf, Gun! Aku tak bermaksud membuatmu sedih! Aku turut berduka, Claudia meninggal dunia setelah melahirkan putrimu!"


"Apa kau bilang?"


Gunawan membelalakkan matanya.


"Hei, Fik!? Apa katamu tadi?"


"Hah? Apa?... Apa kau tak tahu, kalau Claudia..."


"Hei! Cepat ceritakan padaku! Darimana kau dapat kabar itu? Hei, Fikri! Hei..."


Fikri, teman Gunawan sedari muda langsung melesat pergi. Tak dipedulikannya teriakan Gunawan yang memanggil namanya berkali-kali.


"Ringgo! Bawa aku ke kantor Fikri! Cepat!!!"


Gunawan sangat penasaran pada ucapan Fikri yang belum tuntas itu. Ia benar-benar dibuat gila oleh keterangan separuh dari teman lamanya yang seorang Don Yuan sejak muda.


Treeet... treeet... treeet


"Fikri! Dimana kau? Hei! Kau tak akan bisa kabur dariku! Ceritakan apa yang kau ketahui! Kalau tidak, aku akan datangi Viona dan menceritakan simpanan-simpananmu pada istrimu itu!"


...Klik....


Gunawan menyeringai. Fikri akhirnya memberi alamat kafe tempat mereka bisa bicara sekarang ini.


..................


"Kau mau kabur dari aku?"


"Hehehe...! Sorry, Gun! Bukan maksudku seperti itu!"

__ADS_1


"Fikri! Aku tak pernah tahu Claudia melahirkan putriku dan meninggal dunia setelahnya. Dari mana kabar itu kau dapat?"


"Dari Viona, sekitar sepuluh tahun lalu. Kukira kau tahu kenyataan itu!"


Gunawan menarik kerah kemeja Fikri. Usia tua tak menghalanginya untuk gertak sambal.


"Viona? Istrimu? Tahu darimana dia?"


"Hei?! Tahu darimana lagi istriku kalau bukan dari istrimu sendiri?"


"Dari...Widia? Tidak mungkin! Widia dan Aku sama-sama tidak tahu! Bahkan beberapa tahun lalu kami masih mencari keberadaan Claudia, keponakannya itu!"


"Hah? Mana mungkin istriku mengarang cerita serius seperti itu?"


Kini kedua pria tua itu saling bertatapan serius, cukup lama.


"Apa..., apakah ini memang permainan Widia?" tebak Fikri membuat Gunawan menghempaskan kepalannya.


"Mana mungkin! Istriku justru berkata, aku boleh menikahi ponakannya jika aku menemukan dan Claudia bersedia menjadi yang kedua!"


Kini keduanya kembali terdiam.


Sibuk dengan fikiran masing-masing.


Mencari pembenaran dan kebenaran dari apa yang mereka hadapi kini.


"Aku ingin menemui Viona! Sekarang!"


Gunawan mengambil keputusan. Dan tekadnya mutlak tak bisa diganggu gugat. Fikri telah mengetahui tabiat sang teman sejak dulu kala. Hingga ia hanya bisa menarik nafas panjang. Dan memastikan kalau perkara ini akan panjang.


Dihadapan Gunawan, Viona yang tergagap dengan wajah pucat seperti murid yang ketahuan menyontek.


"Mungkin..., mungkin waktu itu aku hanya bercanda saja Mas Gun! Bercanda pada Mas Fikri! Maaf..."


"Kamu mencandai rumah tangga orang dengan suamimu? Apa itu hal yang pantas untuk dicandai, Viona?" semprot Gunawan marah pada istri Fikri.


"Hei, Gunawan! Istriku salah dalam bercanda, tetapi bukan berarti kau juga bisa seenaknya memarahinya seperti ini!" Fikri balik menyerang. Ia tak terima Gunawan memaki Viona dihadapannya.


"Kau masih bisa seperti itu? Padahal kau baru saja menyambut kelahiran anak kesebelasmu, Fikri?"


"Hah?"


"Apa maksud Mas Gun? Mas Fikri punya anak kesebelas? Dari perempuan mana lagi? Hah?"


Kini wajah Fikri yang pucat pasi. Netranya menatap Gunawan, minta bantuan.


"Cih! Urus sendiri keluargamu yang penuh candaan!"

__ADS_1


Kini Gunawan melenggang kesal meninggalkan pasutri basi yang kini terlibat percekcokan.


๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE


__ADS_2