
Treeet... treeet... treeet
Treeet... treeet... treeet
Handphone Widia berdering beberapa kali.
"Hallo, Viona! Apa kabar? Lama kita tak bertemu, ya?"
...[Hallo, Mbak Wid! Apa kabar? Kabarku baik. Mbak, aku kaget... kemaren Mas Gun menginterogasiku!]...
"Ada apa? Soal apa sampai Mas Gun mencarimu dan tanya-tanya gitu?"
...[Soal almarhumah Claudia! Mas Fikri keceplosan menceritakan soal Claudia dan anaknya yang telah lahir!]...
"Apa??? Viona? Viona, bisa kita ketemuan secepatnya?"
Widia cemas. Gunawan telah mengetahui soal Claudia dan putrinya kini.
Seketika ia seperti merasakan nafasnya sesak. Didorongnya roda kursi yang didudukinya untuk mengambil oksigen tabung kecil yang ada di atas ranjang tidurnya.
Widia nyaris terjatuh, untungnya tangan kirinya bergerak cepat dengan menarik ujung sprei panjangnya yang terjuntai.
Alat bantu pernafasannya itu membuatnya sedikit lega. Ia tak mau mati cepat. Sehingga harus segera menenteramkan hati dan fikirannya.
"Tami, Utami...!" teriaknya memanggil suster perawat.
"Iya Nyonya Besar!"
"Saya mau istirahat, Tami! Saya mau tidur!" katanya memberitahu kalau ia butuh bantuan untuk pindah ke atas ranjang.
"Baik, Nyonya!"
Utami membantunya berpindah tempat dari kursi roda ke ranjang kayu besar di kamarnya.
Sang suami kini sedang asyik dengan kegiatan baru, yaitu bermain bersama putra Devana yang menggemaskan.
Ericko memang sangat imut dan tampan. Anak itu juga cerdas, mampu menghipnotis semua orang karena kepandaiannya yang alami.
Seperti kali ini, Gunawan selalu membawa cucu buyutnya mengelilingi paviliun-paviliun yang ditempati anak-anak serta cucu-cucunya dengan stroller.
"Kakek, kalau Danira nikah nanti...apa Kakek juga akan sayang sama anak Danira?" tanya Adik Demian itu dengan kalimat sedikit menyindir.
Danira yang sudah 24 tahun bulan kemarin itu sudah mengetahui kalau Ericko bukanlah putra kandung Gege.
"Makanya, kamu cepet nikah. Biar kakek juga masih bisa menggendong anakmu nanti seperti ini! Kalau kamu belum juga menikah, bagaimana mungkin punya anak?!"
"Siapa tahu saja tiba-tiba ada yang mau nikah sama aku, duda anak satu. Gimana nih Kek?"
"Waduh? Kamu mau nikah sama duda anak satu, Danira?" Gunawan hanya tersenyum kecut. Teringat pada dirinya dimasa lalu, yang pernah bercinta dengan Claudia yang seumuran Indra putranya.
Claudia!... Benarkah kamu sudah tiada? Benarkah aku memiliki satu putri dari kamu? Claudia..., Claudia! Aku... merindukanmu!
__ADS_1
Gunawan yang dulu sangar dan sangat mengatur jodoh juga pergaulan putra-putrinya menjadi lebih santai setelah bersama Claudia yang notabenenya masih berumur 25 tahun kala itu.
Claudia membuatnya melihat dunia dan menikmatinya dengan kondisi serta kacamata yang berbeda.
"Om...! Kenapa harus mengatur perjodohan seperti manusia tempo dulu? Apa Om tidak punya perasaan? Hiduplah dengan cinta, maka kau akan bahagia?"
"Apa cinta benar-benar bisa membuat seseorang bahagia dalam hidupnya?"
"Bagaimana pendapat Om sendiri? Apa itu cinta? Dan seperti apa rasanya dicinta?"
Gunawan hanya bisa menatap wajah Claudia yang indah. Gadis itu berwajah campuran yang unik. Cantik, kulit kuning langsat, hidung mungil bangir, mata sipit dengan bulu yang lentik. Rambutnya hitam pekat ikal asli, bukan karena roll-an ataupun catokan.
"Om?..."
"Claudia, apa kamu punya cinta? Bagaimana cinta menurutmu?"
"Cinta? Aku gak tahu apa itu cinta. Yang kutahu, aku senang sekali melihat orang yang kusuka bahagia. Tapi... Tapi ternyata rasa senang yang ini teramat menyakitkan, Om! Hik hiks...! Clau gak ngerti...bagaimana caranya menghentikan rasa sakit di dada ini! Hik hiks... Hik hiks...!"
Gunawan memeluk tubuh Claudia yang menangis sedih. Ia tahu, Claudia sedang terluka hatinya. Sama seperti dirinya, yang saat itu tengah merana kesepian tanpa Widia disisinya. Dan juga diantara ketidakpedulian putri-putri serta menantunya.
Tetapi Gunawan tak tahu, Claudia sangat mencintai Indra. Putra pertama Gunawan itu sangat menawan hati putri adik iparnya dari istri sirinya.
Claudia diam-diam mendamba Indra.
Pertemuan pertama mereka membuat percikan-percikan asmara di hatinya yang terus meletup semakin berkembang indah.
"Sini Clau! Sini, masuk!" kata Tante Widia pada Claudia saat itu.
Saat itu, usia mereka baru 17 tahun. Indra lebih tua satu tahun darinya, tetapi masih sekolah di SMA seangkatan dengannya.
Disekolahkan di tempat yang sama, dan kebetulan juga di kelas yang sama. Membuat Claudia memiliki kesempatan untuk dekat dengan Indra.
Pulang sekolah berbarengan dengan dibonceng motornya Indra. Kerja kelompok belajar pun kadang Claudia lebih sering bersama Indra. Hingga menghabiskan waktu dimalam hari dengan bernyanyi dan Indra memetik dawai gitarnya pun Claudia sering lakukan.
Saat itu, semua terasa indah. Sangat indah bagi Claudia. Sampai-sampai ia dan Indra memilih kuliah pun dijurusan yang sama dan sama-sama bertekad lulus sarjana dengan nilai cumlaude.
Mereka seperti pasangan kekasih, begitu teman-teman kata. Terlihat mesra, kompak dan care satu sama lain.
Diam-diam Claudia menyukai semua itu dan mendamba hati Indra suatu hari nanti akan benar-benar menjadi miliknya.
Semester pertama kuliah, semester kedua... semua aman. Hanya keributan kecil dan saling debat kusir sudah biasa terjadi diantara mereka. Semester ketiga, keempat juga semua masih baik-baik saja.
Tapi di semester kelima dan keenam, circle pertemanan Indra ternyata mulai melebar kearah yang Claudia tidak suka.
Indra sering berkumpul dengan teman barunya untuk mabar, touring dari satu kota ke kota lain hampir tiap bulannya.
Indra mulai jarang bersama Claudia. Dia lebih suka bergaul bersama geng motor dan teman-teman prianya sampai lupakan pelajaran kampus serta lupa janji mereka akan nilai bagus.
Semester tujuh mereka mulai sibuk menyusun skripsi dan juga magang (KKN) untuk mendedikasikan ilmu yang mereka dapatkan dikelas.
Lagi-lagi mereka berbeda tempat KKNnya. Ternyata, Indra memilih KKN disebuah desa terpencil dan tinggal disana untuk tiga bulan kedepan. Sementara Claudia justru memilih magang di perusahaan Gunawan. Claudia salah pemikiran dan tak bertanya dahulu pada Indra. Dikiranya Indra akan magang diperusahaan keluarganya sendiri. Ternyata tidak.
__ADS_1
Indra jatuh cinta dengan gadis yang berasal dari desa itu. Nani Wijaya Sukma. Istrinya yang ternyata membuat Indra jatuh cinta kelimpungan.
Indra berubah total ketika kembali ke istana Gunawan. Jadi lebih pendiam dan misterius. Claudia sendiri tidak mengetahui keadaan Indra yang sebenarnya sedang menjalin hubungan dengan gadis kampung dari kota A.
Mereka semakin terlihat dingin dan perlahan makin sibuk seiring menjelang ujian skripsi.
Indra dan Claudia akhirnya lulus dan mendapatkan gelar sarjana ekonomi setelah acara wisuda kampus yang menobatkan mereka menjadi Raja dan Ratu Kampus angkatan tahun itu.
Claudia sangat senang. Dibayangannya, dandanan mereka ini akan berlanjut pula sampai pelaminan. Ternyata, lagi-lagi khayalannya hanya sekedar impian di siang bolong.
Indra membawa seorang gadis manis ke rumah dan memperkenalkannya sebagai calon istri.
Dunia seakan runtuh bagi Claudia. Matahari seakan menghilang sinarnya dan hanya gelap yang ia rasa.
Claudia terpuruk diatas keagungan cinta Indra dan Nani, rivalnya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, Indra memilih keluar dari rumah daripada harus putus dengan Nani.
Mereka menikah di kota A tanpa reztu kedua orangtua dan sanak keluarga.
Benar-benar membuat hati Claudia hancur saat itu.
Pelampiasannya adalah dunia gemerlap dari satu diskotik ke diskotik yang lain, serta minuman keras dan obat-obatan terlarang.
Claudia terperosok sangat dalam ke lubang ke hancuran. Hari demi hari, bulan demi bulan bahkan sampai berganti tahun, kehidupannya seperti tak lagi berwarna. Hanya hitam dan gelap. Bahkan warna putih pun seperti enggan menghiasi sedikit harinya.
Claudia membuat siang bagaikan malam dan malam laksana siang.
Ia seperti kelelawar yang tidur disiang hari dan keluar bersenang-senang mencari hiburan di malam hari.
Siang tidur dengan mengkonsumsi obat psikotropika, malam menenggak cairan memabukkan.
Hingga ternyata di istana itu bukan hanya dia seorang yang tengah dalam keadaan setengah gila. Gunawan, sang Om rupanya juga mengalami goncangan dalam hidupnya.
Widia, sering sakit-sakitan. Perusahaannya kian hari kian mengalami kerugian. Anak-anaknya juga tak ada yang bisa diandalkan. Teman serta koleganya satu persatu menjauhinya karena takut dimintai bantuan.
Dunia terasa berat dipundak Gunawan.
Hingga, Gunawan ingin berusaha melepaskan tekanan hidupnya dan memilih untuk masuk ke satu night club. Minum-minuman keras hingga mabuk.
Saat itu istrinya sudah terbang ke Jerman untuk operasi jantung. Ia yang kesepian, pulang kerumah dengan sempoyongan. Dan Gunawan salah masuk kamar.
Terjadilah hal yang dilaknat Tuhan.
Malam itu, Gunawan menggagahi Claudia.
Alih-alih menyesal pada perbuatannya yang kebablasan, mereka justru semakin dekat satu sama lain. Selain sering berdua-duaan, ternyata curhatan keduanya membawa titik kebahagiaan semu yang terlarang.
Keduanya saling jatuh cinta.
Apakah cinta yang salah? Atau memang cinta itu tak bermata dan berhati?
Yang pasti mereka berdua telah jatuh ke dalam lubang yang salah.
__ADS_1
๐TO BE CONTINUE