SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Informasi Baru Yang Anton Lee Dapatkan


__ADS_3

Anton Lee mendatangi kembali Ibu asuh Devana di panti asuhan.


Bunda Anne kini terlihat berseri-seri wajahnya.


"Mas! Devana sudah Bunda temukan!" serunya dengan sumringah.


Kini Anton Lee justru yang terlihat kaget dan pucat pias.


"Dimana Bunda menemukan Devana dan putranya?" tanya Anton.


"Mereka justru pulang seminggu lalu! Maaf, Bunda lupa menyimpan nomor Mas, jadi tak bisa kirim kabar!"


"Devana pulang? Sekarang dimana, Dev?"


"Dia kembali lagi ke Ibukota. Mereka untuk sementara waktu tinggal disana! Devana meminta waktu tiga bulan lagi. Dan mereka akan pulang dan tinggal disini setelah urusan selesai!"


"Urusan apa, Bun?"


"Bunda tak bisa ceritakan detilnya pada Mas Anton! Tapi,... bolehkah Bunda bertanya soal keadaan Devana sewaktu masih tinggal di keluarga mendiang Chandra?"


Anton merapikan letak duduknya. Kini ia bersiap menjelaskan masalah yang sebenarnya pada ibu asuh Devana itu. Kemungkinan beliau akan membela sang putri. Tapi Anton berjanji akan menceritakan yang sebenarnya pada Bunda Anne.


"Mereka hidup bahagia, itu yang saya lihat dan saya rasa!" jawaban Anton membuat Bunda Anne terdiam.


"Devana memang tak menceritakan hal yang buruk tentang Chandra. Tetapi, orangtua Chandra ternyata tidak menyukainya sejak semula! Bahkan setelah Ericko lahir."


Anton masih diam. Dia menyimak dahulu apa yang bunda Anne akan sampaikan sehingga ia bisa menebak alur cerita yang Devana buat dalam kisah hidupnya.


"Uncle dan Untie memang terkesan dingin pada Devana! Tapi mereka biasa saja!"


"Mereka..., mengganti akta kelahiran Ericko dan membuang nama Ayahnya dari akta terdahulu. Ericko hanya tercatat sebagai anak Devana saja!"


Kini Anton tersentak, kaget.


Apakah seperti itu?


Anton tak percaya begitu saja.


"Apa, Bunda punya bukti? Melihat langsung akta Ericko yang berganti?"


"Saya memang tidak melihat. Karena dokumen itu ada di Ibukota tempat Devana tinggal."


"Saya tahu tempat tinggal Devana! Dia kini berstatus sebagai istri dari seorang pengusaha muda cucu konglomerat Gunawan Wicaksono. Apa Bunda mengetahuinya? Apa Devana menceritakan semuanya pada Bunda?"


Anne mengambil nafas panjang.

__ADS_1


Ternyata Anton mengetahui kisah Devana yang menikah kontrak dengan Georgino Gunawan.


"Nak Anton,... Mama dan Papa Chandra mengusir Devana setelah hari kedua Chandra tiada!"


Anton tak berkedip menatap wajah Anne.


"Devana telah membohongi Bunda sepertinya!"


"Devana tidak pernah sekalipun membohongi Bunda dalam hidupnya. Dia lebih baik diam, menyimpan kisah sedihnya sendirian ketimbang harus berbohong. Itu prinsip hidupnya dari ia kecil. Maaf, bukan Bunda membelanya!"


Bunda Anne menyusut setitik airmata yang jatuh dari sudut kelopak mata kirinya.


"Sedari kecil, ia tidak pernah mau menceritakan kejahatan orang lain pada Bunda. Dia lebih menahan dan menyimpannya dalam hati. Dia bukan orang yang mudah menceritakan aib orang dengan sembarang!"


Anton masih tak bergeming. Kini hatinya mulai bimbang.


"Devana bingung, harus melangkah kemana. Dia..., tidak mau membuat Bunda sedih dan dia juga merasa butuh waktu untuk mengobati luka hatinya yang parah. Ibu Mertuanya mengusir Deva dan memberikan sepucuk amplop berisi uang lima juta. Mereka ingin Deva melupakan kisah kehidupannya dengan almarhum. Jujur, Bunda juga tidak percaya pada cerita Devana. Karena, tidak mungkin ada seorang Ibu yang tega mengusir menantu dan cucunya sedangkan mereka baru saja kehilangan putra tunggal mereka. Tapi, begitulah kenyataannya. Devana mengatakan saksi hidupnya adalah bi Asih, asisten rumah tangga mereka yang sudah puluhan tahun bekerja."


Anton langsung teringat pada wanita paruh baya itu. Bi Asih, ia baru sadar tak melihat wanita itu di rumah Xian Lee dan Lalita.


"Bi Asih..." gumamnya pelan.


"Iya. Devana sendiri mendapat ancaman dari kedua orangtua Chandra, akan menghabisi putra kecilnya jika ia sampai melaporkan mereka dan menyebarluaskan perlakuan jahat itu."


Anton menarik nafas pendek. Semua cerita bunda Anne sama sekali tak masuk akal menurutnya.


"Ini juga sebenarnya rahasia yang harus Bunda jaga! Tapi mengingat Nak Anton juga berhak tahu akan kenyataan yang sebenarnya, saya akan ceritakan semuanya!"


Anton menggigit bibir bawahnya agak cemas.


"Devana dan Georgino Gunawan melakukan perjanjian nikah kontrak. Ditengah perjalanan naik kereta api menuju Ibukota, Devana bertemu Georgino. Gege tanpa sengaja mendengar percakapan serius Devana dengan bi Asih lewat ponsel. Gege langsung menawarkan perjanjian itu dengan imbalan seratus juta selama enam bulan menikah dengan Gege. Gege dikejar deadline menikah segera dan akan mendapatkan separuh perusahaan sang Kakek jika dia menikah dan naik jabatan menjadi CEO."


Kini Anton mulai mendapat titik terang.


"Seratus juta? Hanya demi uang Devana rela melakukan hubungan laknat seperti itu?"


"Mereka hanya nikah diatas kertas saja. Baik Gege apalagi Devana sama sekali tak punya ketertarikan satu sama lain. Mereka mengatakan kalau ini murni hanyalah urusan pekerjaan yang profesional. Setelah enam bulan dan Gege mendapatkan apa yang ia inginkan, mereka akan berpisah dan Devana sudah pastikan akan kembali ke rumah ini. Tinggal tiga bulan lagi, Nak Anton!"


"Apa benar Uncle dan Untie saya berbuat setega itu pada Devana juga Ericko?"


Anne mengangguk lemah.


"Silakan tanyakan langsung pada bi Asih! Moga Nak Anton bisa temukan kebenarannya! Maaf, kalau bunda terkesan lebih memihak Devana! Bukan karena Bunda tak punya empati pada Nak Anton dan keluarga almarhum Chandra!"


Anton merasa tubuhnya seperti tak punya tenaga. Cerita Bunda Anne diluar espektasinya. Dan kisah Devana kini semakin membuyarkan niatnya untuk menarik wanita itu sampai masuk sel tahanan.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Uncle dan Untie bisa mengusir Devana bahkan Ericko keluar dari rumah? Tetapi mereka malah mendorongku untuk menikah secepatnya dan mempunyai keturunan agar perusahaan mendapatkan regenerasi. Hhh...


Anton pamit pulang ke kota K.


Dia ingin menenangkan diri sebentar dan juga ingin menanyakan kebenaran cerita bunda Anne dengan sang Paman dan Bibinya yang sudah ia anggap orangtua sendiri.


.............


Gunawan sedang mengurus sang istri yang sakit stroke. Berkat terapi dengan seorang dokter ahli syaraf yang direkomendasikan sahabatnya, keadaan Widia kini agak membaik.


Widia sudah mulai bisa menggerakkan tangannya. Dan mulai bisa mengucapkan sepatah dua patah kata walau masih sangat terbatas kemampuannya.


"Ha-di!... Ha-di! Ha-di!" kata Widia beberapa kali kepada Gunawan.


"Apa, Sayang? Apa maksud perkataanmu? Ha-di? Hadi? Hadi siapa?"


Widia menunjuk kearah Utami. Wanita berusia 30 tahunan itu lalu mendekat pada Widia.


"Tuan Hadi Manager Pemasaran PT Cipta Makmur yang kini dipegang Tuan Rendy, Tuan Besar!"


Gunawan menerawang. Mencoba mengingat-ingat siapa itu Hadi yang dimaksud Widia yang diterjemahkan Utami barusan.


"Hadi..."


"Hadi Yuslan? Mantan supri ku dua puluh tiga tahun yang lalu? Itukah, Widia? Orang itu, maksudmu?"


Widia mengerjap. Kepalanya masih sulit digerakkan, tetapi bola matanya bisa menjawab pertanyaan Gunawan dengan isyarat.


"Ada apa dengan Hadi Yuslan, Widia?"


"Ah ah...ak... ngin te-mu!"


"Nyonya Besar ingin bertemu katanya, Tuan!"


Gunawan menatap Widia. Kini Widia menghela nafas dahulu sebelum mengerjapkan dua bola matanya.


Ada apa Widia ingin bertemu Hadi? Apa ada rahasia diantara mereka berdua? Sedangkan rahasiaku sendiri cukup banyak disimpan orang itu selama dia masih menjadi supir pribadiku!


Gunawan hanya bisa menggumam dalam hati.


"Ha-di, Hadi,...ak-ku ma-u Ha-di!" teriak Widia lebih keras.


"Iya, Sayang iya! Kita call Rendy dan menyuruhnya menyampaikan pesan agar Hadi besok ke sini menemuimu!"


Akhirnya Widia mendengar jawaban Gunawan dengan perasaan tenang. Widia kini diam. Perlahan matanya tertutup, bibirnya terkatup. Ia tertidur, membuat Gunawan hanya bisa memperhatikan Widia dalam diam.

__ADS_1


...๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE...


__ADS_2