
"Kamu mimpi buruk, ya?"
Hampir Deva meloncat saking kagetnya mendapati Gege yang berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Kakak?!?! Ngapain berdiri depan pintu?" teriaknya spontan.
"Ish, kamu ini latahan! Persis nenek-nenek!"
"Aku latahan kayak nenek-nenek itu wajar. Tapi kalo kamu itu nyinyiran kayak nenek-nenek, gak wajar!" semprot Devana membuat Gege menahan tawa.
"Kenapa aku nyinyiran kayak nenek-nenek?"
"Iya, itu... ngapain kepo tengah malem berdiri kayak zombie di depan pintu toilet. Nyinyir kayak nenek-nenek penasaran tanya aku mimpi buruk!"
"Aku memang mau ke toilet! Dan aku dengar kamu tadi nangis setelah teriak dan terbangun tiba-tiba! Aku cuma tanya, masa' gitu aja dibilang kepo, nyinyiran...! Kalau aku diam saja dianggap tak peduli! Sebenarnya mau kamu itu apa? Aku harus bagaimana?"
"Lah? Kenapa jadi marah? Kenapa malah beneran mau ngajak ribut lagi?"
"Ya ampun, Tuhaaan!!! Ini makhluk ciptaan-Mu yang satu ini begini banget sih? Bisa-bisanya di depan keluargaku wajah imutnya manis sekali, tapi di depanku justru kebalikannya!"
"Aduh! Aduuuh, perutku sakit!"
Devana tak pedulikan ocehan kekesalan Georgino. Ia kembali masuk ke toilet kamar. Tapi semenit kemudian..., kepalanya menyembul.
"Kakak! Boleh minta tolong gak?" katanya dengan suara bergetar. Tentu saja Gege kaget dan sedikit risau.
"Kenapa, Dev?" tanyanya cemas.
"Tolong,... ambilin mmmh..."
"Ambil apa?"
"Itu..., mmm...!"
"Am em am em apaan sih? Ada apa?"
"Itu, Kak! Mmm... punya..., soft*x gak?"
"Hah???"
Devana langsung menutup pintu kamar mandi lagi. Malu sekali dengan pertanyaan yang dilontarkannya pada Georgino.
Dan pria yang ditanyanya pun tampak lebih merah memanas wajahnya.
Soft*x??? Hiks...! Seumur-umur gue baru ditanya cewek pertanyaan aneh! "Punya soft*x engga'?" . Hadeeeh...! Sejak kapan burung garuda pakai pembalut? Ish ish, dasar Devana!!!
Gege celingak-celinguk.
Ia nampak kebingungan setelah seperkian detik otaknya menguap sesaat. Blank.
Kemudian ia mencoba membuka lemari pakaian tempat pakaian Devana berada.
Gege mengambil satu celana d*l*m milik perempuan itu. Kemudian mencoba mencari sesuatu yang sekiranya bisa dipakai untuk penyumpal. Tapi..., ia kembali bingung.
Sumpal?!? Memangnya kran bocor ya, harus di sumpal? Hhh... Apa aku ke kamar Ericko aja ya? Bangunkan bi Fani minta pembalut untuk Devana?
__ADS_1
"Dev, aku bangunkan bi Fani ya?" kata Gege di balik pintu kamar mandi.
"Jangan! Jangan, Kak!" teriak Deva, respn cepat menjawab. Kini kepala kembali tersembul.
"Jangan! Hari ini bi Fani agak kurang sehat! Tadi curhat sama aku kalau badannya sedikit gak enak gitu. Jangan ganggu tidurnya! Kasihan bi Fani! Sudah capek juga ngurus Ericko seharian!"
Gege menghela nafas.
"Terus? Ini... underw*ar kamu!"
"Kakak, boleh minta tolong lagi gak?" bisik Deva lagi.
"Apa?"
"Tolong ambilkan satu lagi! Please, maaf!"
"Mau pakai dua piece?"
"I-iya. Kakak! Tolong kapas pembersih wajah yang ada di atas meja rias itu juga ya? Please..."
"Hadeeuh! Koq..., pakai kapas?"
"Ada deh pokoknya! Buat penahan sementara!"
"Penahan sementara?"
"Iya. Biar gak jebol! Hehehe..."
"Haish...! Dasar, deh!"
Tok tok tok
"Nih!"
"Makasih banyak, Kak!"
Deva kembali mengunci pintu kamar mandi. Cukup lama ia sibuk dengan urusannya yang membuat Gege garuk-garuk kepala sendiri.
Ceklek
"Udah?"
"Yap. Hehehe...! Makasih banyak, Kak!"
"Ya udah, tidur sini disamping aku! Sudah pukul dua kurang. Sebentar lagi pagi menjelang. Sini!"
Deva mengatupkan kedua bibirnya. Tangan Gege menarik pelan jemarinya. Menuntun Deva menaiki ranjang, dan tidur di atas bantal ranjang Gege.
Pria itu juga mengambil selimut serta bantalnya yang ada di atas sofa.
Gege menyelimutinya sampai dada. Membuat jantung Deva berdesir halus.
"Tidurlah!" tutur Gege lembut sembari ikut merebahkan tubuh atletisnya di samping Deva.
Hiks...! Kenapa pria ini jadi lembut begini?! Hhh... semoga ini bukan akting seperti biasanya! gumam hati kecil Devana.
__ADS_1
Devana akhirnya tertidur disamping Gege, dengan tubuh menyamping ke arah suami kontraknya itu.
Gege tersenyum simpul. Hatinya terasa penuh. Entah mengapa, kini ruang kosong yang dulu selalu membuatnya merasa kesepian seperti menghilang.
Dulu ia merasa hampa walaupun berada diantara riuh ramainya keluarga Gunawan yang baik hati.
Kini, ia seperti merasakan kenikmatan yang tak bisa diartikan dengan kata-kata.
Matanya yang pura-pura terpejam sesekali melirik wajah Deva yang polos tidur dengan lelapnya.
Gege tak merasa mengantuk sama sekali. Justru matanya tak berkedip menatap visual milik wanita muda yang dikontraknya menjadi istri.
Ia tak habis pikir dengan perasaannya yang seperti sekarang ini. Jika disebut ia jatuh cinta, Gege tak bisa menilainya. Karena ia memang tidak merasa seperti orang yang berbunga-bunga, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Jika dibilang ia menyukai Deva, rasanya semua orang di rumah ini sangat menyukai perempuan polos itu termasuk Demian dan Surya Abdi. Gege bisa melihat sendiri tatapan kedua sepupunya itu dengan riak bola mata yang bersinar indah.
Wanita ini memang cantik. Manis, sederhana. Rasanya wajar saja jika semua orang menyukainya, termasuk aku juga. Tetapi..., ada satu perasaan di sudut hati ini yang menginginkan kedamaian dengan melihatnya terus tersenyum bahagia. Itu apa artinya?
Gege menatap penuh wajah Deva.
Kulit wajahnya tampak halus lembut walau tanpa dempulan bedak yang banyak. Bulu matanya sederhana saja, tapi terlihat pas di atas kelopak matanya yang bulat besar.
Pipinya, tidak tirus juga tidak chubby. Hidungnya, tak sebangir cewek-cewek blasteran diluaran sana. Tapi terlihat manis dan pas sempurna melengkapi semua indera di wajahnya.
Bibirnya mungil tapi padat berisi dan menggairahkan. Terlebih ketika Deva memanyunkannya hingga mencucut naik bibir atasnya. Gemas sekali, sampai...
Gege bergetar... jari telunjuknya perlahan menyentuh bibir bawah Deva yang padat kenyal. Dan...
Cup.
Sebuah kecupan mendarat diiringi debaran jantungnya yang bertalu-talu saking gugupnya.
Gege membalikkan tubuhnya, memunggungi Devana.
Khawatir tingkahnya kebablasan dan Deva bangun menyadari kekurang-ajarannya itu.
Jangan! Jangan sampai Deva bangun dan melihat tingkahku yang konyol ini, Tuhan! Tolong jaga aibku, ya Tuhanku! Please...
Gege memejamkan matanya. Mengambil nafas panjang sampai perlahan terlelap juga akhirnya.
..............
Devana shock mendapati tubuhnya menempel erat di atas dada Gege. Wajahnya seketika memanas dan jantungnya berpacu dengan sangat cepat.
Segera ia bangkit pelan-pelan sebelum ketahuan yang punya badan.
Deva malu setengah mati melihat kelakuannya yang agak bar-bar terlihat genit merapat tubuh tegap pria yang masih mendengkur halus di sampingnya.
Syukurlah, aman! Georgino sepertinya masih pulas tidurnya sehingga aku tidak terlalu malu hati ketauan menemplok di dada bidangnya!
Ia bergegas kekamar mandi. Memeriksa pembalut buatannya semalam, apakah aman atau tembus sampai ke pakaian. Ternyata lumayan aman.
Deva segera mandi, berganti pakaian dan keluar untuk melihat sang buah hati. Ia juga ingin meminta pembalut bi Fani untuk sementara sebelum membelinya ke minimarket terdekat sekitar istana Gunawan.
๐TO BE CONTINUE
__ADS_1