SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Pertemuan Akila Dan Georgino Gunawan


__ADS_3

"Jadi kamu beneran gak ambil hapeku tempo hari?" desak Gege pada Akila.


"Dih? Sumpah demi Allah, mas! Saya berani cium Al-Qur'an! Lha memang saya gak nyuri koq! Justru saya yang rugi besar waktu itu! Gara-gara Mas pingsan, saya harus ganti rugi dagangan saya yang habis diambil orang tak bertanggung jawab! Saya juga harus jadi jaminan di rumah sakit sampai nunggu keluarga Mas datang! Bisa Mas bayangkan, darimana saya cari uang lima ratus ribu waktu itu? Saya sampai bolos sekolah buat jualan seminggu tanpa digaji!"


Gege menatap bola mata Akila yang berkilauan. Gadis itu bercerita dengan gaya nge-gasnya tapi terkesan santai menyenangkan. Sangat polos dengan ketulusannya ditambah sifatnya yang cerah ceria.


Surya terus tergelak sementara Demian mulai intens memperhatikan gadis muda itu. Kini ia juga menatap wajah Akila dengan tatapan serius.


Gadis ini bisa kumanfaatkan untuk membuat Gege berpaling dari Devana! Dan mungkinkah, kedekatan mereka bukan kedekatan biasa? Dilihat dari tingkah Akila yang berbeda dengan tingkahnya beberapa hari lalu ketika Aku dan Surya Abdi menginterviewnya dengan canda.


Demian melirik Surya Abdi. Sepupunya itu justru terlihat sangat menikmati interaksi Akila dan Gege dengan bahasa gaul mereka, seolah memiliki chamistry lain yang tak ia fahami.


...Sur...


Ketiknya menchat Surya Abdi.


...Oi...


Hadeh! Hanya jawaban singkat!


...Ada yg janggal!...


Ketik Demian lagi.


...Aku tahu! Take it easy! Nti aku ceritakan!...


Berbinar mata Demian. Rupanya Surya juga punya penglihatan yang sama dengannya.


...O.K...


Jawaban singkatnya hanya diread oleh Surya.


Demian kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara Surya tetap terpesona dengan wajah imut Akila yang tanpa sadar membiusnnya.


"Jadi, kamu ini anak temannya Nenekku!" ujar Gege.


"Nenek kami!" suara Demian dan Surya kompak berbarengan. Membuat Gege tertawa lepas dan segera meralat.


"Hahaha...!Iya. Nenek kita!"


"Mana saya tahu, bu Widia itu Nenek kalian!" jawaban Akila yang membuat Surya kembali tergelak dan Demian tersedak.


"Ck ck ck...! Kamu masih ingusan seperti tiga tahun yang lalu!" Gege merubah suara dan gaya bahasanya. Tersadar kini Akila sedang berbincang dengan siapa.


"Astaghfirullah! Maaf, maaf! Maaf, Pak CEO Georgino Gunawan, CEO Demian dan CEO Surya Matahari eh Surya Abadi maksudnya. Eh? Salah lagi, Surya Abdi maksud saya. Hiks..."


"Hahaha... Kacau ni anak! Gege kamu temukan gadis ini dimana? Hahaha..., boleh kubawa pulang ya? Benar-benar mirip Arafah!"


"Hahaha... masih aja nge-fans sama Arafah? Bukannya sempet ngambek pas si Arafah sering kontens mesra bareng Bintang Emon?"


"Itu dulu! Sekarang Bintang Emon udah married!"


Gege dan Demian tertawakan Surya Abdi.


Kini mereka bertiga kembali melebur setelah Akila datang dan membawa keceriaan diantara mereka.


"Kil! Makan siang bareng yok nanti?" ajak Surya tiba-tiba.


"Jangan pecicilan, Sur! Ingat pesan Nenek!" tegur Gege. Surya Abdi merengut.


"Ingat-ingat pesan Nenek!" Entah mengapa Akila bisa seberani itu mencandai para atasannya dengan menyanyikan lagu jadul Oppie Andaresta itu.

__ADS_1


"Yassalam...! Hahaha..., sudah sana, Akila! Lama-lama kau disini Surya bisa bengek dan masuk ruang ICCU minta bantuan pernafasan!" perintah Gege setelah puas tertawa bersama karyawan barunya.


"Oiya. Terima kasih ya Akila, kamu sudah menolongku membawa ke rumah sakit tiga tahun yang lalu! Terima kasih!"


Akila tersenyum dan mengangguk. Ia pamit permisi pada ketiga atasan gantengnya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda di lantai lima.


Setelah keluar dari kandang macan (dulu julukan Akila untuk ruang kantor para CEO), gadis itu justru berjingkrak-jingkrak dengan wajah bersemburat pink.


"Kyaaa...!!! Bisa-bisanya aku becanda sama para macan! Huhuhu, diembat bisa modar aku!"


Ia menoleh kanan dan kiri. Tapi tiba-tiba,


"Heh? Ngapain kamu masih disini? Baca jampi-jampi?"


"Copot copot, pala ayam copot!!!"


Hampir melompat tubuh mungil Akila karena kaget dan terkejut. Surya Abdi muncul tiba-tiba dan menegurnya.


"Hahaha...! Ya ampuuun, ini adiknya si Satria! Lucu menggemaskan ternyata juga latahan!"


"Ma-maaf!"


"Ayo, ayo kerja! Hehehe..."


"Iya, Pak!"


"Oiya, minta nomor ponselmu!"


"Hah?!?"


"Sini cepat hapemu!"


Akila tanpa sadar menyodorkan ponselnya dengan mulut menganga.


"Nanti kita chattan, Oke?"


"I-iya, Pak! Permisi, Pak!"


Akila yang sempat pucat langsung bergegas meninggalkan Surya Abdi yang berjalan ke arah yang berlawanan.


Surya tersenyum sendiri. Ia sudah punya rencana untuk membuka siapa Gege sebenarnya. Papanya sudah ia beritahu, kalau Gege memiliki banyak rahasia tersembunyi.


Ajudan sang Papa sedang bergerak mencari bukti-bukti tentang Indra, Nani dan juga Georgino.


Tiara sendiri sang Kakak juga kini mau diajak kerja sama seiring ia sedang berada di kota K.


Surya Abdi diam-diam mengirimkan Kakaknya foto masa kecil Georgino pada Tiara. Tugasnya adalah menyambangi panti asuhan alamat rumah Akila dan mencari tahu tentang Gege yang foto kecilnya juga ada di foto kecil Akila.


Surya agak bingung. Ternyata Akila sama sekali tak mengenal Gege meskipun ia sudah bertemu Gege sejak tiga tahun yang lalu.


Memang sih, setiap orang akan berubah dari waktu ke waktu. Sama seperti dia, Demian dan juga Georgino Gunawan.


Atau, mereka memang beda orang? Atau, kembar? Argh...Pusing juga lama-lama kepalaku mencoba menjadi detektif jadi-jadian!


Surya hanya bisa menghela nafas panjang.


Ia senang, nomor ponsel Akila sudah didapatinya. Setidaknya, penyelidikannya tentang Georgino perlahan-lahan akan membawa hasil walau hanya secuil.


Itu harapannya.


.............

__ADS_1


"Kakek, hik hik hiks...! Maaf! Deva tak mengerti keadaan Nenek! Sungguh, Deva tam faham! Niat Deva hanyalah ingin menghibur Nenek! Siapa tahu dengan menjenguk beliau diam-diam, Nenek akan senang!"


Devana mencurahkan isi hatinya pada Gunawan.


Pria tua itu memeluk Deva sebentar, lalu mengusap-usap punggungnya pelan.


"Maafkan Nenek ya, Deva?! Kakek juga tak faham, apa yang membuat Nenek jadi seperti ini! Bahkan Nenek mengatakan sesuatu yang diluar jangkau fikir Kakek sebelum dia anfal."


"Hhh...! Apa ada cara pengobatan lain yang bisa buat Nenek kembali normal?"


Gunawan hanya menelan saliva dengan sorot mata sayu pada Devana. Ia meragu. Penyakit Widia memang sudah tahunan. Ditambah lagi umur yang sudah uzur. Membuat Gunawan tak berani pastikan jawabannya pada Deva.


"Istirahatlah! Jangan terlalu banyak fikiran, Dev!"


Hanya kalimat itu yang bisa Gunawan sampaikan pada Devana.


Sementara di kota K, pencarian Tiara telah pada tujuannya.


Karena desakan sang adik yang terus menerus ditambah keluhan Papa Mamanya perihal makin susahnya mereka mencairkan dana perusahaan, akhirnya Tiara mau juga berkontribusi pada persekongkolan ini.


Tok tok tok


"Permisiii! Apa ini rumah panti Bunda Anne?"


Seorang gadis cilik keluar dan mengangguk menjawab pertanyaan Tiara.


"Bunda Anne-nya ada?" tanya Tiara dengan lembut.


"Bunda sedang ke pasar, Kak!"


"Oh, gitu ya? Kapan ya kira-kira Bunda pulang, Dek?"


"Kurang tahu, Kak! Soalnya Bunda baru saja jalan!"


"Hm...! Wah, kayaknya bakal lama, ya? Dek, boleh gak Kakak minta segelas air putih. Kakak haus, perjalanan dari Jakarta. Cari rumahnya Kakak Akila."


"Kakak Akila? Khan, sudah kerja di Jakarta? Sudah mau seminggu malah beberapa hari lagi! Bentar ya, Kak... Ani ambilkan minumnya dulu!"


"Iya. Terima kasih ya Dek!"


Tiara lalu menghela nafas pendek. Ia masuk ke dalam rumah sederhana namun cukup luas itu. Ada banyak foto-foto terpajang di dinding ruangan.


Matanya mencari-cari foto Georgino kecil. Berharap tebakan Surya benar adanya. Kalau Gege juga adalah anak yatim piatu dari panti asuhan itu.


Namun, ada satu foto yang membuat Tiara nyaris tak berkedip.


Tiara tak percaya pada apa yang dilihatnya kini.



Ini khan, fotonya Devana? Kenapa bisa ada di sini?


Tiara tersekat. Bibirnya membiru, lidahnya kelu. Tak menyangka kalau ternyata ada lingkaran persekongkolan yang lumayan besar yang dimainkan Om, Tante serta Gege dan Devana. Kini bertambah lagi satu orang baru, yakni Akila. Begitu fikirnya.


Untuk apa mereka semua bersekongkol? Untuk sebuah tahta? Harta warisan dan jabatan yang kini Gege pegang?


Tiara segera mengambil ponselnya.


Cekrek, cekrek...


"Kak! Ini minumannya!"

__ADS_1


Nyaris terjatuh ponsel Tiara. Ia menoleh pada gadis cilik yang bernama Ani itu. Dan tersenyum manis berusaha menetralisir jantungnya yang berdebar-debar tak karuan.


...๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE...


__ADS_2