SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)

SUDDEN MARRIAGE CONTRACT (Mendadak Nikah Kontrak)
Devana Bingung Memilih


__ADS_3

Dokter Rusli Sp.N memeriksa kondisi kepala Georgino dengan teliti. Indra, Nani dan Deva ikut serta masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


"Apa kamu yang fikirkan, Ge? Jangan terlalu mendalam untuk mengingat masa lalu. Semua sel syaraf akan merewind apa saja yang hati dan fikiranmu tolak, hingga imbasnya pada susunan syaraf anggota tubuh lainnya jadi terganggu fungsionalnya. Termasuk sel-sel syaraf otakmu!"


Gege segera mendapatkan penanganan seperti biasa. Dokter Rusli dengan cekatan memberi Gege tindakan medis.


"Jangan dipaksakan untuk mengingat! Karena efeknya justru membuat memori ingatanmu yang sudah kembali, bisa menghilang lagi!"


Gege tak berani mengeluarkan sepatah katapun. Ia berusaha mendengarkan semua ucapan dari Dokter Spesial Saraf dan Neurologis yang sudah menangani masalah sakitnya selama tujuh tahun terakhir. Menggantikan dokter Purba Sp.N yang sudah pensiun.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?"


Dokter Rusli menatap pada Deva. Mengangguk lalu menjawab kalau keadaan Gege hanyalah karena terlalu berusaha mengingat dengan sangat keras.


Devana sejujurnya tak begitu faham maksud penjelasan sang Dokter. Tapi pagi itu Gege terpaksa harus rehat dihari pertamanya bekerja karena harus diinfus cairan vitamin untuk syaraf otaknya yang lemah.


Georgino dipindahkan dari ruang IGD ke ruangan umum.


Indra dan Nani juga masih setia menemani Gege serta Deva.


"Deva...! Saya minta maaf karena membuat kamu ikut terbawa permasalahan keluarga besar kami. Saya dan istri saya memohon maaf dari hati kami yang tulus!"


"Papa...!"


"Ge, Papa tidak mau kalian berada dalam keadaan yang simpang siur. Devana harus tahu semua permasalahan keluarga besar kita, sampai akhirnya kamu mengajaknya nikah kontrak."


Devana termangu. Ucapan Indra membuatnya sadar, kalau ternyata Papa dan Mama Gege telah mengetahui status hubungan mereka yang sebenarnya.


"Biar Gege nanti yang cerita sama Dev, Pa!"

__ADS_1


"Ge! Jangan kamu tanggung deritamu sendirian! Papa Mama akan selalu ada untukmu!"


Kini Nani pun ikut menenangkan Georgino. Semakin membuat Deva kebingungan.


"Devana! Maafkan Gege, yang setengah memaksamu untuk ikut berperan menjadi istri kontrak. Gege putra kami sedang bingung dan mencoba mencari jalan keluar dari permasalahan pelik keluarga kami! Satu hal yang kini kami minta, agar supaya Deva berhati-hati dan menjaga diri!"


"Maksud Mama apa?"


"Kini semua mulai bersiap-siap dengan segala kemungkinan. Termasuk hal-hal yang tidak diinginkan. Dan sebelum semua itu kejadian, ada baiknya kami menceritakan dahulu pangkal pokok permasalahannya." Kata Nani mencoba menjelaskan.


"Deva! Gege kini telah menerima semua yang Kakek Gunawan limpahkan padanya. Jabatan CEO, juga aset-aset penting lainnya berupa saham perusahaan. Mulai hari ini, gerak-gerik kita akan ada yang memantau. Dan sekali kita salah langkah, akan fatal akibatnya! Dan tolong Deva dengar baik-baik, jangan terlalu jujur terbuka ketika siapapun itu mengajakmu berbincang. Walaupun dari kerabat kita sendiri."


"Ada apa, Pa Ma?"


"Jangan sampai perjanjian nikah kontrak kalian bisa diketahui orang lain termasuk anggota keluarga kita sendiri."


"Apa yang akan terjadi seandainya hubungan Dev dan Kak Gege sampai terbongkar, Pa? Apakah harta yang telah Kakek beri akan dicabut kembali? Seperti itu?"


"Sebenarnya kita belum tahu akan terjadi apa jika sampai mereka tahu. Tapi, kemungkinan terjadinya huru-hara yang membuat Kakek Nenek shock mendengarnya!"


"Kami dengar kabar, di hari keempat kalian sudah buat keributan sampai Devana berniat ingin pergi meninggalkan rumah. Benar begitu, Deva?" tanya Nani membuat Deva menunduk.


"Tolong, bantu Gege, Sayang! Enam bulan, bertahanlah sesuai dengan kontrak perjanjian!"


Deva menghela nafasnya.


"Jujur saya bingung, sebegitu fatalnya kah jika saya harus menyudahi perjanjian kontrak yang saya anggap sefihak dan berat sebelah ini?"


"Apa Kamu ingin konvensasi dua kali lipat dari surat perjanjian?"

__ADS_1


"Kenapa ucapan Mama sama persis dengan ucapan Kak Gege semalam? Apakah uang bisa membeli segalanya termasuk kebahagiaan? Apakah saya sampai segitunya bertahan dalam kubangan dosa dan persekongkolan kotor hanya demi sebuah jabatan, tahta, dan harta warisan?"


"Devana masih belum mengerti, Ma! Jangan tuntut dia untuk hal yang ia yakini salah! Ada baiknya sebelum semua terlanjur jauh terperosok kubangan kotor, seperti yang Deva kata, Gege akan membebaskan Deva untuk memilih sendiri pilihannya. Apakah ingin lanjutkan kontrak nikah kita, atau Deva ingin pergi dan membatalkan perjanjian yang kita buat!" Kini Gege mengambil alih pembicaraan yang terdengar alot itu.


"Kalau aku membatalkan perjanjian, apa sanksinya?" tanya Deva pelan. Fikiran dan hatinya tak mampu mencerna dengan baik semua perkataan pasangan suami istri dan anak tunggalnya itu.


Deva teringat perkataan pak Hadi Yuslan. Bahwa Deva terlalu berani mengambil resiko besar dengan menerima tawaran nikah kontrak meskipun mendapat imbalan yang besar.


Ucapan pak Hadi tempo hari membuat Deva menyadari kekeliruannya.


Devana berusaha berfikir jernih. Dan ia sangat ingin pulang segera ke rumah Bunda Anne untuk menceritakan kisah hidupnya yang getir.


Deva tak sepatutnya kabur dari kenyataan. Justru ia harusnya pulang ke rumah dengan kepala tegak, karena bukan Deva yang melakukan kesalahan tetapi kedua orangtua Chandra yang telah tega mengusirnya.


Bunda Anne berhak tahu keadaan Deva yang sebenarnya. Deva wajib meminta saran serta doa dari ibu asuhnya itu. Untuk kelancaran hidupnya ke depan sehingga menjadi lebih baik lagi nasibnya.


"Pergilah, Deva! Pergilah! Aku membebaskanmu dari semua tuntutan. Dan surat perjanjian nikah kontrak kita, semuanya batal!" jawab Gege setelah cukup lama berfikir ketika Deva mengajukan pertanyaan.


"Gege!!!" sela Nani cemas.


"Biar, Ma! Deva berhak memilih apapun yang jadi pilihannya. Gege terlalu naif dan percaya diri akan bisa membuat semua berjalan sesuai harapan! Devana punya kehidupannya sendiri!" ujar Gege mencoba memberi pengertian pada Mamanya.


"Tapi Ge, bagaimana nanti omongan orang dan situasi terkini jika Deva pergi dari rumah?"


"Gege akan antar Deva besok ke kota kelahirannya! Satu yang Gege minta dari Deva, tolong jangan pamitan dengan siapapun termasuk Kakek dan Nenek! Jangan katakan apapun kalau kamu akan pergi tinggalkan paviliun besok pagi! Ingat pesanku, Dev!"


Kenapa semua jadi begini? Mengapa aku seperti jadi orang yang jahat sekali saat ini? Apakah keputusan yang kuambil ini salah? Ya Tuhan...! Aku butuh bimbingan-Mu, Tuhan!


Devana tak tahu lagi harus berkata apa. Antara memilih untuk pergi dari lingkaran hubungan kekeluargaan yang tak Deva fahami, atau melanjutkan sandiwara perjanjian nikah kontraknya dengan Georgino Gunawan. Dan pulang ke Yayasan Bunda Anne enam bulan kemudian dengan uang seratus juta di tangan. Apalagi baik Gege maupun Nina sama-sama mengiming-iminginya tambahan dua kali lipat jika ia mau bertahan sesuai rencana dan kesepakatan.

__ADS_1


Hhh... Pilihan yang sulit sekali!


๐Ÿ’ŒTO BE CONTINUE


__ADS_2