
Ternyata pertemuan Gege dan Devana memang sengaja telah diatur oleh Surya dan Akila.
"Yakin nih, Kak, rencana kita bakalan berhasil?" tanya Akila pada kekasihnya itu.
"Kamu meragukan keahlianku yang ini?" tanya Surya menatap lekat manik Akila yang berpendar dengan senyuman malunya.
"Bukan gitu, tahu sendiri khan bagaimana sifat Kak Dev sama kak Satria!?"
"Mereka itu cocok. Klop. Menurut penglihatanku, Gege dan Deva bisa saling melengkapi. Cuma sayangnya, gengsi keduanya teramat tinggi."
"Iya, benar! Akila juga pikir begitu! Hehehe..."
Cup.
Seketika Akila membeku. Sang kekasih hati tiba-tiba mengecup bibirnya.
"Kak...,"
"Gemes aku! Hm... Kalau minta izin dulu, kira-kira dikasih izin ga ya?!" gumam Surya membuat gadis muda itu langsung melancarkan serangan cubitan mautnya.
Keduanya tertawa-tawa dengan tubuh saling menggeliat hingga mobil mereka sesekali bergoyang ke kanan dan ke kiri. Hingga...,
Tok tok tok
Tok tok tok
"Permisi! Permisi!"
Seorang sekuriti langsung mengetuk kaca jendela mobilnya yangmenyangka mereka sedang beradegan syur di dalam mobil mewah di basement restaurant tempat Surya dan Akila dating.
"Maaf, Mas!... Sebaiknya langsung chek in di lantai empat saja, Mas Mbak! Kamarnya VVIP fasilitas lengkap. Kalau di sini selain kurang nyaman, ada CCTV dimana-mana! Saya cuma sekedar saran aja!"
Buset!!! Dikira sedang beradegan ranj*ng kali ya kita! rutuk hati kecil Akila. Malu sekali.
Akhirnya Surya menyalakan mesin mobilnya, lalu meluncur pergi meninggalkan TKP dengan wajah bersemu merah.
Akila hanya diam dengan tangan bergerak terus karena grogi, gugup dan gemetar.
Fikirannya tadi sudah berfikir jauh. Hatinya sangat takut kalau sampai ia dan Surya sampai dibawa pihak keamanan dan dimintai keterangan.
Surya akhirnya tak tahan juga. Tawanya meledak melihat Akila yang terlihat sangat pucat karena cemas.
"Tenang aja! Kalau sampai terjadi sesuatu, aku pasti akan langsung nikahin kamu, Sayang! Kalau perlu, sekarang pun aku mau!"
"Ish, Kak Surya! Ih!"
"Hehehe...!"
............
Sementara itu Demian, ia merasa hatinya terluka melihat respon Devana yang dingin setelah pulang dari seratus harinya kepergian sang suami.
Sebenarnya Demian tak terlalu memikirkan perihal sikapnya Deva pada dirinya.
Tetapi entah mengapa, beberapa hari ini kekuatannya melemah. Hatinya sedang turun drastis merasa keadaannya yang kian miris.
Hari demi hari, Demian bukannya merasa makin bahagia sebagai CEO. Justru jabatan tertinggi itu malah membuatnya menanggung banyak beban.
Pekerjaan dan tanggung jawab seolah menumpuk di pundaknya. Setiap saat ia melihat serta mengontrol laporan keuangan dan juga fluktuasi harga saham yang mulai merosot. Itu membuat dirinya cemas dan depresi awal.
__ADS_1
Terlebih kini justru kedua orangtua serta om dan tantenya, bukan membantu, tetapi malah lebih merongrong menggerogoti sedikit demi sedikit harta warisan mendiang Gunawan Wicaksono.
Demian mulai merasakan stres yang dulu Gege rasakan.
Pantas saja! Dulu Si Gege Palsu seringkali marah-marah pada kesalahan yang kuanggap kecil. Aku terlalu meremehkannya. Kini karma ini akhirnya kurasakan juga! Hhh...
Demian keluar paviliunnya. Seperti biasa, menghirup udara segar dengan keliling kompleks perumahan elit yang sepi di waktu malam adalah upaya pelampiasan yang sering dilakukan disaat jam kerja.
Dulu, ketika ia belum menyandang tanggung jawab besar ini, ia lebih suka dugem dan pergi ke night club. Nyaris tiap malam. Bahkan cita-citanya memiliki diskotik sendiri sampai kini masih tersimpan rapi dalam hati.
Kini seiring umurnya yang kian banyak serta tugas rutinitas kantornya yang makin membludak, Demian lebih suka ke taman perumahan yang Dia dan Nabila dekor arsitekturnya.
Motor gedenya diparkirnya sembarang di depan gerbang taman.
Ia memiliki akses sendiri untuk bisa masuk dan menikmati wahana demi wahana walaupun gerbang taman dalam keadaan terkunci.
Demian memang memiliki kunci duplikatnya.
Dengan menghela nafas pendek, pria yang beberapa bulan lagi itu berusia 27 tahun pun mengamati anak kunci yang ia pegang.
Nabila! Apakah kunci pasangannya masih kau simpan dengan rapi? Atau sudah kau buang jauh hingga lupa padaku yang masih sendirian di sini menunggumu?
Hanya suara isi hati yang sedang gegana, gelisah galau merana.
Baru saja ia duduk di tembok tempat biasa, tiba-tiba pintu dapur rumah Nabila terbuka. Dan...
Mata Demian membulat penuh.
Nafasnya seperti berhenti mengirup oksigen segar dari aroma rerumputan dan pohon-pohon rindang serta bunga aneka warna.
Ada yang keluar dari dalam pintu dapurnya.
Seorang wanita mendorong kursi roda yang juga berisikan sesosok tubuh wanita kurus. Disebelah kanannya, ada bocah laki-laki berwajah tampan sekitar berusia delapan tahunan.
Demian tersekat. Dua bola matanya makin membulat. Dia semakin memperjelas penglihatannya dengan memicingkan tatapannya.
"Nabila!!!" teriaknya setelah yakin dan langsung berlari ke arah kursi roda itu.
Tubuhnya langsung jatuh tersungkur.
"Nabi! Nabila!!! Nabila ini aku, Demian Anak Tiri! Kau ingat aku, Nabila?"
Demian memandang wajah tirus wanita kurus yang terlihat pucat.
Keduanya bertatapan lama, lalu bulir-bulir airmata tanpa terasa jatuh perlahan dipipi masing-masing.
"Demian!"
"Ya, ya aku Demian!"
"Demian! Demian!!! Hik hik hiks...! Demian!"
Keduanya berangkulan dengan wajah basah airmata.
Sudah lama mereka tak bersua. Sekitar sembilan tahun, Nabila pergi dan baru kini kembali.
"Nabila,... apakah kau sakit? Kenapa kondisimu seperti ini, Nabila? Kenapa kamu tak mengabariku? Sekedar say hello mengirim email padaku. Apa sebegitu bencinya kamu padaku, Nabila?"
"Maaf, Dem! Maafkan aku! Maafkan atas semua kesalahanku padamu dimasa lalu! Aku, sengaja melarikan diri. Aku..., aku sakit. Itu sebabnya aku tak kuasa berada di dekatmu. Aku tak ingin memberimu kesedihan, Demian!"
__ADS_1
"Kakak, masuk yuk...! Anginnya sangat kencang!"
Demian menoleh pada perempuan yang tadi mendorong kursi roda Nabila.
Eh? Perempuan ini???
Mata Demian melotot saking terkejutnya.
Tubuhnya yang sedari tadi berjongkok seketika terhempas dan jatuh terduduk.
Tubuhnya bergetar dan jantungnya berdebar.
Perempuan ini!!! Perempuan ini yang mengambil keperjakaanku!!!
Airmata Demian makin merebak.
Netranya bergantian memandang dua wanita yang ada dihadapannya dengan rasa tak percaya.
"Si-siapa perempuan ini, Nabi?" tanya Demian dengan suara terbata-bata.
"Dia Zahira sepupuku, Dem!" jawab Nabila dengan suara bergetar.
Sementara kepala Zahira tertunduk dalam sekali.
"Mama...! Ma, ayo masuk! Angin semakin kencang dan Mami bisa menggigil kedinginan!"
Bocah lelaki itu mengingatkan Zahira untuk mendorong masuk kursi roda Nabila.
Demian menatap wajah bocah tanggung itu dengan sorot mata tajam.
"Ada apa? Apa kamu mau melarang? Bagaimana kalau kesehatan Mamiku memburuk karena kecerobohanmu?"
Demian menelan salivanya. Nyaris tak percaya kalau dirinya disentak dan dimarahi seorang pria muda belia.
Akhirnya Demian mengalah. Ia ikut mengekor langkah Zahira dan Nabila tanpa suara.
"Om mau apa?" tanya bocah itu dengan suara lantang ketika Demian ikut melangkah masuk ke dalam dapur rumah Nabila.
"Om akan ikut masuk! Mama dan Mamimu adalah teman Om!"
"Tidak boleh! Tidak boleh seorang pun yang diperbolehkan masuk, apalagi orang asing!"
"Jonathan! Om Demian bukan orang asing, Jo!"
"Aku tidak mengizinkan, Mami! Mami harus istirahat! Selamat malam!"
Bruk!
Demian terkejut. Sikap sinis Jonathan mengingatkannya pada dirinya dimasa muda.
Siapakah anak itu? Putranya Nabila? Atau putra Zahira?
Dok dok dok
"Nabila! Nabila! Buka pintunya, aku masih ingin bicara denganmu!"
Kreeek
"Kembalilah besok pagi! Ini sudah pukul setengah sembilan malam, Om! Mami bisa sakit tambah parah! Besok Om boleh kesini pukul delapan pagi! Sekarang pulanglah!"
__ADS_1
Amboi! Tengilnya bocah cilik ini! Ck ck ck...! Andai saja aku ingin memakai emosi, tak ingin aku beranjak dari tempat ini. Dan bisa habis anak ini ditanganku! Baiklah! Kuturuti perintahmu, Tuan Jonathan!
...๐TO BE CONTINUE...