
Devana duduk dikursi yang tersedia disamping ranjang besi rumah sakit ruang ICCU tempat Gege dirawat.
Airmatanya tak henti berderai.
Doanya tak putus diuntai. Berharap suami kontraknya itu segera siuman dan sadar.
Devana tak mampu berkata apa-apa. Hanya sesekali menyusut pipinya yang basah oleh linangan air mata. Bibirnya terasa kelu. Meskipun bergetar, namun tak satu patah katapun keluar dari dalam mulutnya. Hingga akhirnya, dengan paksaan kuat pada hati kecilnya, Devana bisa bicara juga.
"Kak! Kak Gege...! Apa kamu masih lelah dan ingin terus tidur seperti ini? Tidurlah, Kak! Jika itu membuat dirimu menjadi lebih kuat dan bangun dengan segar serta semangat! Tapi jangan terlalu lama, Kak! Tugasmu masih sangat banyak! Termasuk tugasmu mengurus aku dan Ericko! Masih belum tuntas, Kak Gege!" bisik Devana lirih ditelinga kanan sang suami kontraknya.
Tiba-tiba jemari Georgino bergerak.
Devana langsung senang bukan kepalang. Senyumnya pun langsung mengembang.
Dua hari dua malam Gege tak sadarkan diri. Tentu saja membuat Devana sedih hati.
Kini, ia bisa bernafas lega sembari menghapus airmatanya.
"Kakak! Wellcome to the jungle!" godanya membuat Gege menyeringai tapi berganti dengan ringisan kesakitan.
"Apa kabar Devana?"
"Kenarin tidak baik-baik saja, tapi kini... kabarku luar biasa!"
Tanpa sadar Deva menaruh telapak tangan Gege di pipinya.
"Terima kasih, sudah mengkhawatirkan hidupku!" gumam Gege lirih.
"Ish, jangan ge'er deh! Aku mengkhawatirkan uang seratus jutaku, Kak! Hehehe..."
Gege tertawa kecil mendengar candaan Devana yang garing tapi menyenangkan hatinya.
"Mana yang sakit?" tanya Deva membuat Gege menghela nafas.
"Seluruh badan!"
"Itu tandanya Tuhan inginkan Kakak istirahat dulu karena terlalu sibuk bekerja!"
"Baru seminggu, masa' jagoan tepar!" jawab Gege pelan.
"Ya, namanya musibah... manalah ada yang tahu!"
"Iya sih!"
"Hehehe...!"
__ADS_1
Gege senang, meskipun sekujur tubuhnya terasa nyeri, namun perhatian Deva membuatnya menjadi orang yang paling berbahagia.
Deva menemaninya bahkan sampai pindah ke kamar ruang rawat inap umum.
Wanita itu bahkan setia menungguinya sampai malam kembali menjelang. Menyuapinya makan, hingga minum obat dengan penuh perhatian hingga Gege nyaris lupa kalau mereka hanyalah suami istri kontrak saja.
"Devana...! Terima kasih banyak!" tutur Gege dengan tangan kanan menggenggam jemari Devana.
Keduanya sama-sama tersipu. Ada getaran halus yang tak bisa mereka artikan. Getaran itu semakin membuat Gege serta Devana terbuai dan berharap semua akan indah pada waktunya.
Widia dan Gunawan senang mendengar kabar Gege telah siuman. Widia bermaksud mengabari Anne kalau Gege cucunya sudah sadar dan tak perlu lagi memikirkan keadaannya saat ini.
Anne menchat dirinya dengan balasan kata "AAMIIN" setelah membaca curhatan hati Widia lewat status What'sAppnya yang bertuliskan "Tuhan, tolong sembuhkanlah cucuku! Sehatkanlah kembali dia seperti sedia kala!"
Tetapi, Widia malah shock melihat status WA yang Anne buat di beranda pembaharuan terkininya.
Widia shock dengan gambar foto yang diposting Anne di status WA nya. Disana foto terbaru Devana berdiri dengan menggendong Ericko, yang diambilnya hari minggu lalu ketika pulang ke rumah yayasannya.
"SEMOGA KALIAN BISA MELEWATI SEMUA UJIAN INI, ANAKKU SAYANG! PUTRI PERTAMAKU 'DEVANA WANDIRA'!"
Nyaris jatuh ponsel Widia karena terlepas dari genggamannya.
Devana Wandira, putri pertama Anne??? Berarti... Devana..., Devana anaknya Gunawan???
Widia kembali tersekat kerongkongannya.
Ia baru sadar, kalau pernikahan Devanadan Gege harus segera ia hentikan karena masih ada hubungan darah yang cukup kental diantara keduanya.
Widia seketika berteriak memanggil Sang suami.
"Ada apa, Nyonya?" Utami yang berada di ruang sebelah tergopoh-gopoh mendengar teriakan sang Nyonya yang menyebut-nyebut Gunawan.
"Tolong panggilkan suami saya!" perintahnya dengan mata berlinang.
"Nyonya, tidak apa-apa saya tinggal khan?" tanya Utami cemas. Tetapi justru mendapatkan bentakan kasar sang nyonya yang mengatainya lamban.
Utami bergegas keluar mencari Tuan Besarnya. Entah mengapa, ia merasa akhir-akhir ini Nyonya Besarnya sangat aneh dan sensitif sekali.
Terkadang Nyonyanya terlihat rapuh dan sembab kelopak matanya seperti banyak menumpahkan air dari dalamnya.
Namun tak jarang sang Nyonya nampak baik hati sekali, bahkan pada orang-orang yang baru dikenalnya, sampai rela memberikan apa saja yang Utami anggap itu tidak biasa. Salah satunya pada Anne dan Keluarganya termasuk Akila.
"Ada apa, Sayang? Utami bilang, kamu memanggilku?"
"Mas, Mas! Bilang Gege untuk segera menceraikan Devana!"
__ADS_1
Gunawan langsung terperanjat mendengar perintah Widia yang lain dari biasanya.
"Apa???"
"Cepat telepon Indra dan Nani! Katakan, pulang kerja nanti suruh mereka menemuiku!" kata Widia lagi. Bahkan kali ini suaranya terdengar panik dan keras karena Widia begitu histeris.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu sampai menyuruh Gege dan Devana bercerai?"
Gunawan masih bingung dengan perubahan sikap sang istri yang nampak aneh.
"Mereka tidak boleh bersama dalam ikatan rumah tangga! Tidak boleh, Mas! Tidak boleh!!!"
Kini Widia menangis keras dengan mata menatap tajam ke arah Gunawan.
"Ya kenapa? Pasti ada alasannya sampai kamu memisahkan mereka berdua, Widia? Apalagi ada Ericko ditengah-tengah keluarga kecil mereka!"
Widia panik. Ia tak tahu lagi harus menjelaskan apa pada sang suami. Sampai akhirnya ia membanting gelas keramik yang ada di atas meja kamar ke lantai. Membuat Gunawan tersentak kaget dan hanya bisa mengusap dada.
Widia tiba-tiba anfal. Tubuhnya bergetar hebat, dadanya tersengal cepat.
"Utami, Utami!!!"
Gunawan berteriak.
Utami datang membantu Gunawan yang sibuk menangani tubuh istrinya yang tiba-tiba terkena serangan jantung.
Suasana panik seketika. Demian dan Surya Abdi yang baru saja pulang dari kantor ikut turun tangan membantu Sang Kakek.
Mereka membawa Widia segera ke rumah sakit khusus jantung langganannya.
Widia, terkena serangan jantung dan stroke sedang secara bersamaan. Dokter menyebutnya gejala iskemia.
"Apa istri saya tidak apa-apa, Dok?" tanya Gunawan cemas pada keadaan Widia.
"Nyonya terserang stroke yang cukup parah. Bahkan kemungkinan akan kesulitan untuk bicara juga dan menggerakkan seluruh anggota tubuhnya."
Gunawan berkaca-kaca mendengar keterangan Dokter yang membuatnya makin khawatir.
Sebenarnya ia sudah siap menerima segala kemungkinan di akhir sisa umurnya. Tubuh mereka kian renta, seiring usia yang makin menua. Otomatis segala penyakit jadi lebih mudah datang dan menyerang ketahanan tubuh mereka.
Usia 73 dan 78 tahun bukanlah usia yang aman. Tapi Gunawan selalu berdoa, Tuhan mengambil nyawanya serta nyawa Widia dalam keadaan sehat dan tak menderita sakit berat. Itu harapannya.
Tapi semua terserah Tuhan Yang Punya Kuasa. Gunawan hanya bisa pasrah dan meminta pada Sang Pencipta, agar meringankan sakit yang diderita sang istri. Walau mereka harus dicabut nyawanya oleh Tuhan saat ini juga.
๐TO BE CONTINUE
__ADS_1