
Happy Reading
“ Hm, kalau gitu Umi nggak bisa tanggung jawab. Itu juga salah kalian sendiri, Umi tadi udah kena marah. Sekarang tinggal kalian aja, umi nggak bisa kendalikan amarah abi kalian. ”
Rania semakin menangis dengan sejadi-jadinya dan membuat Rayhan gemetaran takut.
“ Udah kalau gitu, umi mau buatkan abimu kopi dulu. Kalian nyusul, jangan kelamaan mikir nanti malah hukumannya di tambah lagi! ”
Umi pun mengambil panci dan merebus air di kompor. Rania dan Rayhan keringatnya semakin merembes.
“ Gimana ini bang? ”
“ Udah hadapi sama-sama. Nggak usah takut dek, masa abi mau hukum kita berat-berat. ”
“ Yaudah kalau gitu, yuk kita hadapi sama-sama! ”
Akhirnya mereka pun keluar dan agak sedikit menaruh hati yang dalam. Karena gugup dan lidahnya terasa kelu.
Mereka keluar di pintu belakang rumah, dengan melangkah yang pelan.
“ Bang kok adek merinding ya, bang. ”
“ Tapi abang juga dek, udah nggak usah berpikiran negatif dek. ”
Akhirnya sampailah mereka di lapangan, Rania menempel di Rayhan. Sampai mereka mengikat tangannya dengan erat.
“ Hm, gimana ini bang? ”
__ADS_1
“ Nggak tau dek, abang takut ini. ”
“ Abang, ”
Suara desiran angin mulai berhembus kencang membuat bulu halus di leher mereka mengangkat semua.
“ Assalamu'alaikum, ”
Suara yang begitu mereka takutkan, benar saja dugaan mereka. Suara itu adalah suara abi mereka.
“ Waalaikumsalam, abi. ” Jawab mereka dengan ketakutan.
“ Hm, abi boleh dengar suara kalian yang jelas. Soalnya abi tidak kedengeran, ”
Rania mencubit tangan Rayhan dengan pelan dan akhirnya Rayhan buka suara.
“ Waalaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh, abi. ” Ucap Rayhan yang begitu lantang dan membuat Rania menggelengkan kepalanya.
“ Hu.. Hu... Abi maafkan nia bi, nia salah bi. Maafkan nia bi, ” Ucap Rania dan membuat Abi menghela napasnya. Abi membantu untuk mengangkat tubuh Rania supaya berdiri. Rania pun tidak mau,
“ Nia berhenti menangis, abi tidak akan hukum kalian. Jika kalian bisa memenuhi yang syarat abi mau, ” Ucap Abi dan Rania pun berdiri, dengan menopang tubuhnya yang tidak kuat untuk berdiri.
“ Abi mau kalian bisa menghadiri acara abi nanti, dengarkan abi baik-baik. Jika kalian tidak bisa mendengarkan abi baik-baik, maka siap-siap kalian mendapatkan hukuman. Hukumannya, enak sekali. Kalian mau pilih yang mana? ” Tanya Abi dengan senyum smirk nya.
“ Gimana ini dek? ”
Rayhan mulai bertanya dan Rania tidak menjawabnya.
__ADS_1
“ Bagaimana? ” Tanya abi sekali lagi.
“ Oke, bi. Abang mau pilih hukuman saja bi, ”
Jawab Rayhan dengan memberanikan diri.
“ Kamu gimana dek? ” Tanya Abi, melihat keadaan Rania yang begitu kasihan. Abi semakin memberatkan hukumannya.
“ Berdiri kamu, nggak usah pura-pura lemes. Abi tau kamu cuma akting aja, kalau gitu abi tambah hukuman untuk nia. Supaya nggak menjadi perempuan lemah dan nggak berdaya seperti itu, ” Ucap Abi membuat Rayhan dan Rania tertohok dengan ucapan abi mereka.
“ Iya bi, ” Ucap Rania dengan pelan.
“ Oke, abi akan menghukum kalian. Silakan kalian pilih antara menhapal juz satu sampe lima belas dalam kurun waktu dua hari atau kalian bisa ambil kerupuk tadi dengan mulut kalian. ” Ucap Abi membuat Rayhan dan Rania ketakutan.
Sungguh hatinya berdesir sekarang, karena ucapan abinya yang tidak masuk akal.
“ Eh bi, aku nggak mau ya. Apa-apaan itu menghapal juz satu sampe lima belas dalam kurun waktu dua hari? Emang kita orang cerdas gitu bi, abi aja belum tentu bisa hapal dalam dua hari. ” Ucap Rayhan dengan tidak terima.
“ Hm, baiklah. Kalian bisa pilih yang lain, ”
“ Abi mau kalian bisa belajar silat dan beladiri. Abi nggak mau kalian lemah dan tidak berdaya,
abi udah menyuruh dua orang untuk mengajarkan kalian beladiri, ”
“ Ha apa? ” Ucap mereka berdua dengan serempak.
“ Gimana ini bang? Bi aku nggak mau, badanku sakit semua kalau belajar silat bi. ” Ucap Rania, karena dia sudah pernah di belajari untuk belajar silat.
__ADS_1
“ Hm, oke. Abi mau kalian terima, kalau kalian tidak terima, silakan syarat pertama kalian lakukan. ”
Bersambung...