Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Dokter Rujukan


__ADS_3

Happy Reading


Rania diam-diam mengamati pemandangan sekitar, alangkah baiknya sekarang dia minum obat ketimbang nanti ketauan sama pembantu ataupun Pak Onyon.


"Allhamdulilah, sudah minum obat sekarang waktunya kerja."


Rania membersihkan dapurnya dan mengelap tiap sudut dapur, karena sudah di pakai. Dia harus membersihkannya dan tanggung jawab untuk masalah dapur.


"Ibu,"


"iya, ada apa Pak? Kok cemberut gitu."


Mas Onyon dan mbak Nurul lagi membersihkan kebun, mas Onyon sepertinya kebanyakan ilmu jadinya nggak bisa di tuangkan. Haha...


"Sepertinya di sini, bapak kurang nyaman buk... Bapak itu nggak pernah yang namanya dapat majikan kayak gini. Heran aku tuh buk..."


"Bapak, kita itu udah untung di terima kerja di sini. Coba bapak bayangkan, sekarang itu masalahnya susah kalau cari pekerjaan, untung-untungan Bapak sama Ibu mau gaji kita besar Pak. Gaji lima juta per bulan Pak, apa nggak menggiurkan?"


Mbak Nurul mencabuti tanamannya dan menyiram bunganya.


"Ibuk, bapak itu kalau di majikan yang lain itu nggak dingin begini. Selalu hangat dan nyaman liat majikan bapak itu."


"Pak, bapak mintanya seperti itu? Kalau begitu bapak mengundurkan diri saja, bapak kan nggak betah di sini. Ibuk sih maunya di sini, gaji segitu apanya coba yang kurang? Huh, dasar laki-laki itu matanya kemana-mana." Mbak Nurul pergi meninggalkan mas Onyon yang melamun.


***


Setelah semuanya sudah siap, Rania ingin berkonsultasi dengan dokter sebentar lagi. Obatnya sudah mau habis, dia nggak mau kalau nanti gelagapan mencari obat.


"Sekarang berangkat aja dulu ya." Rania menyelempangkan tasnya dan melangkah menuju depan rumah, di sana mas Onyon lagi mencuci mobil.


"Eh, ibu mau kemana?" Tanya mas Onyon dengan berlari dan mendekati Rania, yang bajunya basah terkena cipratan air.

__ADS_1


"Saya mau pergi dulu sebentar, saya sudah izin sama suami saya tadi. Kamu lanjutkan pekerjaan kamu saja, saya pergi naik taksi."


"Tapi bu, nanti kalau bapak marah gimana bu?"


"Nggak, saya udah izin. Yang penting kamu nggak ngomong kalau saya perginya naik taksi!"


"Baiklah kalau begitu." Ucap mas Onyon dengan nada pelan dan menundukkan kepala.


"Kalau begitu saya carikan taksinya dulu bu."


"Ooh iya, silakan!" Rania tersenyum dan mas onyon pun pergi, memberhentikan taksi dalam waktu satu menit saja. Taksi pun masuk ke dalam, Rania mendekati taksinya, pintu taksinya di bukakan. "Makasih Pak."


"Sama-sama Bu,"


"Berangkat bro!" Lanjut mas Onyon dengan sapaan 'Bro', supirnya sepertinya nggak terima.


"Udah Pak nggak usah di ambil emosi, nanti takutnya malah bapak emosi lagi." Ucap Rania dengan membetulkan perkataan mas Onyon.


"Oh iya Pak, saya mau ke rumah sakit dekat sini ada Pak?" Rania memilih yang dekat saja, karena kalau di rumah sakit yang dekat rumahnya bersama Abi dan Uminya, bisa kejauhan.


Tapi, kemarin ada surat kalau Rania sudah meminta rujukan kepada rumah sakit itu lewat Rayhan, untungnya saja Rayhan mau.


"Baik bu, emangnya ibu ada penyakit apa kok ke rumah sakit?" Tanya Pak supirnya dengan mengemudi taksinya.


"Nggak apa-apa kok, saya cuma mau jenguk temen saya yang ada di rumah sakit."


"Oalah gitu, adanya rumah sakit M. bu."


"Iya itu, saya lupa sampe'an, ininya kemarin itu saya lewat chat kan, terus sekarang lupa."


Taksi pun melaju ke rumah sakit yang di tuju, sesampainya di sana. Rania membayar ongkosnya dan memasuki rumah sakit.

__ADS_1


Rania menanyakan dokter spesialis bedah saraf di sini, ternyata katanya ada surat rujukan dari rumah sakit sebelumnya.


Rania pun langsung berjalan ke ruangan dokternya dan di antarkan oleh suster yang bersangkutan di rumah sakit ini.


"Maaf Bu sebenarnya ada dua dokter yang menangani bedah saraf ini bu, tapi katanya ada surat rujukannya itu sama dokter Fadli ya bu."


"Iya sus,"


"baiklah kalau begitu, saya antarkan langsung ke ruangan dokter Fadli. Mari!"


Sampailah di ruangan dokter Fadli, tidak ada siapa-siapa, palingan adanya cuma suster dan dokternya.


"Selamat pagi dok."


"Pagi, ada apa sus?"


Dokter Fadli membenarkan posisi duduknya dan suster pun memberikan surat rujukan Rania.


"Ini ada salah satu pasien dari rumah sakit D, nah pasiennya mau pindah di rumah sakit ini dok. Itu surat rujukannya yang sudah di buatkan oleh dokter di sana."


Dokter Fadli mengangguk-angguk dan tersenyum menatap Rania, "silakan duduk dulu mbak!"


"Terima kasih dok." Rania tersenyum dan duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh rumah sakit.


"Kan bukannya ada dokter Irsyad juga yang bisa menangani, masa iya harus saya? Saya kan belum terlalu handal, dokter Irsyad itu yang paling handal menerima pasien dari segi kekurangan dan kelebihannya." Bisik dokter Fadli, suster pun menggeleng.


Akhirnya mau nggak mau dokter Fadli menangani Rania dari segi kekurangan dan kelebihannya, dokter Fadli terima.


Bersambung....


Jangan lupa Like dan Komentar positifnya😊😊

__ADS_1


__ADS_2