Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Telat Meminum Obat


__ADS_3

Happy Reading


Rania sebenarnya pusing dan tercetak jelas wajahnya sekarang, berubah menjadi pucat. Untung saja suaminya ada di kamar mandi, bisa dia minum obatnya sekarang. Karena waktu pagi tadi Rania belum sempat meminum obatnya.


"Ya Allah jangan sampai mas Irsyad tau, aku harus minum obatnya dengan cepat. Kalau tidak bisa bahaya." Ucap Rania dengan membongkar tasnya dan mencari obatnya.


"Kok nggak ada, perasaan tadi udah di masukin. Gimana ini?" Ucap Rania dengan memegang kepalanya dan pemandangan sudah kabur.


"Yaudah lah, minum aja. Mudah-mudahan ini sudah menjadi obat." Rania pun minum dengan air putih yang sudah di sediakan.


"Allhamdulilah, mudah-mudahan nggak ketauan sama mas Irsyad. Bissmillah...." Rania mengelap bibirnya, jangan sampai Irsyad benar-benar tau dan khawatir.


Irsyad keluar dari kamar mandi dan melepaskan handuk yang menempel di pundaknya.

__ADS_1


"Mas, aku mau keluar bentar dulu ya. Aku mau buatkan teh buat kamu."


"Iya, sekalian ambilkan roti kering di toples." Ucap Irsyad dengan mencari baju yang ingin dia pakai. Sebelumnya dia memakai kaos oblong bewarna putih.


Rania melangkah keluar dari kamar dan melangkah ke dapur yang dekat dengan kamarnya.


"Bu, mau apa? Kok ke dapur, kita kan bisa bantu ibu kalau butuh apa-apa." Ucap mbak Nurul, mbak Nurul sukanya main tangan ke mana-mana dan mas Onyon nggak marah, yang terpenting dia cinta sama mas Onyon.


"Kalian ini dari tadi mainnya tangan terus ya, jadi pasangan lucu-lucu gimana gitu." Ucap Rania dengan memuji mereka, mbak Nurul malu kucing.


"Baik bu, kalau begitu saya permisi dulu." Mbak Nurul dan mas Onyon pergi dari pandangan Rania.


"Ya Allah aku harus gimana ini? Kalau setiap saat telat minum obat yang pasti pusingnya akan bertahan lama, itu pun kalau nggak minum obat. Minum obat kadang saja kepalanya sakit. Terus, ini? Nggak minum obat nanti efeknya gimana?" Rania mengaduk-aduk tehnya dan mengambil roti kering yang sudah ada di toples.

__ADS_1


"Sudahlah, aku hari ini nggak minum obat dulu nggak papa ya. Kali ini saja, terus besok aku pergi ke rumah sakit buat nebus obatnya lagi. Tapi, kan rumah sakitnya jauh dari sini. Apa aku harus pindah rumah sakit? Yang dekat sama daerah sini." Gumam Rania dengan membawa nampannya dan melangkah ke kamar.


"Assalamu'alaikum mas, ini tehnya. Mau di letakkan dimana?"


"Wa'alaikumsalam, letak di meja saja. Nanti aku minum, aku mau ambil beberapa barang dulu yang ada di kardus. Soalnya ada yang penting mau di bicarakan di rumah sakit nanti." Ucap Irsyad, Rania mengangguk dan merenungkan diri, supaya lebih rileks.


Irsyad keluar dari kamar, mengambil beberapa berkas di kardus yang belum dia bongkar.


"Kenapa ya, setiap kali aku merenung, ingat sama seseorang yang pingin aku temui? Tapi orang itu nggak pernah memberitahukan namanya, apa orang yang aku renungkan itu ada maknanya di balik ini semua?" Rania bingung, akhir-akhir ini dia mempunyai filling ada seseorang yang ingin bertemu dengannya, entah yang di pikirannya benar atau tidak. Yang terpenting bukan orang jahat.


Rania berdiri, membereskan beberapa baju yang belum di masukkan di lemari, karena Irsyad lagi sibuk dengan berkasnya. Katanya penting untuk membahas rapat esok hari, padahal masih beberapa hari dia menikah tetapi sudah ada tumpukan berkas kerjanya yang semakin banyak.


"Astagfirullahalazim, akhirnya ketemu juga. Untung saja nggak di temu mas Irsyad, kalau di temu bisa gawat tujuh turunan nanti." Rania menemukan obatnya yang ada di dalam tas besarnya.

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2