
Rania balik dari rumah sakit, dia diam-diam perginya tanpa izin atau dia bisa menelepon Irsyad, untuk mengizinkan dia pergi. Tidak...
"Assalamu'alaikum," ucap Rania dengan membuka pintunya. Untung tidak ada siapa-siapa, Rania menaruh belanjaannya dan melepas penat yang menempel di tubuhnya.
"Kemana dua orang itu? Dari tadi kok nggak ada, bukannya di suruh beli sayuran ke pasar malah kemana perginya?" Rania mengeluarkan barang-barang yang ia beli dari pasar tradisional.
"Hem, bukannya ini ya... Ya Allah, sampai lupa aku. Ada acara di masjid, makanya mas Onyon dan mbak Nurul membantu kegiatan di masjid. Ya udah lah, aku mau buatkan masakan buat mas Irsyad pulang nanti." Rania membawa tas belanjanya ke dapur, kulkas juga sudah terisi dengan penuh.
Berarti semuanya sudah ada yang mengatur, Rania tinggal masak atau melakukan itu-itu sudah tersedia di rumah ini.
***
Irsyad di rumah sakit sedang beristirahat di ruangannya. "Apa aku pulang saja ya?" Gumam Irsyad dengan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ehm, suster nanti apa ada pasien lain untuk di tangani atau ada kegiatan yang lain?" Tanya Irsyad, suster yang membantu Irsyad menangani pasiennya sedang merapikan ruangan.
"Sepertinya tidak dokter, semua pasien 'kan sudah di tangani oleh dokter, kalau dokter mau pulang. Silakan!" Ujar suster, Irsyad mengangguk mantap dan membereskan berkas pasien-pasien yang penting di dalam tas kerjanya.
"Oke, saya pulang. Nanti kalau kamu mau pulang, jangan lupa kunci ruangan ini ya!"
"Baik dokter." Irsyad keluar dari ruangannya, tapi dokter Fadli memanggilnya.
"Dokter Irsyad... Dok," dengan berlari-lari dan penuh keringat. Fadli pun berhenti dengan membuang napasnya.
"Kenapa dokter?" Tanya dokter Irsyad
__ADS_1
"Anu apa, boleh saya berbicara sebentar dengan dokter di kantin? Sebentar saja, kiranya dokter ada urusan pribadi, saya akan batalkan kalau gitu." Ucap dokter Fadli melepas snelinya dan Irsyad tersenyum, mengangguk.
"Baiklah kalau gitu mari dok!"
Mereka pun melangkah pergi ke kantin agar lebih enak dan leluasa untuk membicarakan masalah pasien atau bagaimana?
Fadli duduk dan menatap kantin yang tidak ramai, ini kesempatan dia untuk berbicara banyak sama dokter Irsyad.
"Dokter Irsyad yang terhormat, boleh ya aku minta ilmu sama kamu. Soalnya ada pasien yang sudah mengalami kanker otak stadium dua, nah aku nggak ngerti kalau masalah operasi. Dan sebentar lagi pasien ini menentukan operasinya jadi atau nggak, kalau jadi saya akan melakukan operasinya bersama dokter Irsyad, itu dia dokter Irsyad mau membantu saya?" Irsyad menerima minumannya, kapan pesannya kok sudah ada yang mengantarkan minuman kesukaannya.
"Iya nanti saya akan bantu, emangnya siapa kok pasien kamu itu udah mengalami kanker otak gitu, ini masalahnya juga rumit. Umurnya muda apa udah lanjut usia?" Ucap Irsyad dengan mengaduk minumannya.
"Hemm, gimana yah? Nanti juga kamu tau. Ini privasi katanya pasien ku, nggak boleh ngomong-ngomong, yang penting dia di do'akan sehat udah gitu, tapi ini anak cantik juga pakai kerudung terus ramah lagi. Nggak pernah aku itu menerima pasien seramah ini, sangat beruntung... Apa lagi penampilannya dari luar dan dalam, fiuhhh... Cakep dan baik." Ucap Fadli, Irsyad menertawakan Fadli.
"Emang lu nggak pernah ketemu pasien yang baik Fad? Bukannya setiap saat pasti ada orang yang baik, apalagi kamu dokter khusus kanker dan pasien penderita kanker itu orangnya akan merubah perbuatannya maupun di luar dan di dalam." Fadli menggeleng, dia saja tidak pernah dan selama bekerja di rumah sakit ini, tidak pernah namanya pasien baik yang ada brutal semua.
"Ketawa terus, emang sih kamu di sini dokter terbaik sampai gajimu saja melebihi gaji ku. Padahal sesama dokter, tapi lebih lah pokoknya kamu itu. Eeh iya, aku belum di kenalin sama istri mu itu. Katanya orangnya baik terus cantik lagi, kapan-kapan boleh lah ajak istrimu itu ke hadapan ku." Goda Fadli
"Kamu ini ada apa hari ini? Apa istrimu di rumah marah-marah sampai kamu tertarik dengan perempuan lain? Terus kamu tanya-tanya istriku kenapa? 'Kan di rumah udah punya istri, anak. Masa iya kamu nggak bersyukur sih." Ucap Irsyad, Fadli tertawa sarkas.
"Ssttt... Hati-hati nanti petinggi rumah sakit lewat, yang ada kamu di pecat nanti."
***
"Kok asin, padahal tadi kurang asin. Giliran di tambahi garem sedikit saja asin." Ucap Rania dengan mengaduk-aduk sayur sopnya.
__ADS_1
"Hm tambahi gula, air, terus kasih bubuk kaldu. Biar lebih sedap." Rania mengambil bubuk kaldu, gula, dan garam.
"Assalamu'alaikum..." Ucap pembantu Rania yang masuk ke dalam dan mereka berdua meletakkan dua kotak nasi yang mereka dapat dari masjid.
"Wa'alaikumsalam..." Jawab Rania dengan memberikan gula dan garamnya kebanyakan.
"Wah, mbak Nurul sama mas Onyon udah pulang. Ini di coba dulu, buatan ala chef Rania." Rania memberikan mangkuk yang sudah ia isi sayur sopnya.
"Aduh tapi ibu ini kebanyakan."
"Enak kok, di coba dulu."
Satu... Dua... Tiga...
"Ueeenakkk bu..." Jawab serempak mereka, padahal rasanya di kerongkongan mau muntah.
"Assalamu'alaikum..." Ucap Irsyad yang pulang dari rumah sakit.
"Wa'alaikumsalam, oh iya mbak tolong ini siapkan di meja makan. Biar saya jemput suami saya untuk segera makan." Mereka mengangguk, Rania pergi.
"Mati rasanya, ini ya Allah Pak..."
"Bisa darah tinggi bapak kumat ini bu." Jawab mas onyon.
Bersambung...
__ADS_1
Hihihi allhamdulilah... Novel yang di lapak sebelah udah selesai, aku balik kampung lagi yah. Karena di sini aku bisa menuangkan karya pertama dan bisa membagi ilmu untuk kalian semua.
Terimakasih 🙏💕