
Sesampainya di rumah, mereka di sambut baik di depan pintu dan ada hadiah untuk mereka dari mamah Irsyad, yaitu tiket honeymoon di Indonesia. Katanya Irsyad tidak mau jauh-jauh, asalkan tempatnya indah, sejuk, enak di tempati. Mereka akan menghargai, tanpa membuang waktu lagi.
Sebenarnya mamahnya kuat membiayai honeymoon mereka, tapi mereka memilih Indonesia sebagai negara tempat mereka untuk liburan.
Mereka pun mengajak para orang tua, tidak mau ketinggalan semua keluarga di ajak.
"Makasih mah," ucap Rania merangkul mamahnya dengan senang hati.
"Iya, nak. Hitung-hitung itu hadiah mamah buat pernikahan kalian berdua, dulu mamah mau ngasih kalian hadiah. Tapi, ya keadaan yang membuat mamah lupa segalanya." Jawab mamah, Papah sedang mengobrol dengan besannya.
Di sini sudah banyak yang ngumpul, dari abangnya Rania dan abangnya Irsyad.
Terkumpul jadi satu, dari suara celotehan anak kecil. Membuat Irsyad mengambil ponakannya tersebut, "Eh anaknya bang Yahya lucu amat... Gemes pingin cubit, boleh bang?" Kekehnya dan Yahya tersenyum ke arah mereka.
"Gantengan Irsyad apa aku Pah?" Membuat mereka terkikik geli mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Sama-sama keturunan papah kita bang, satu jurus. Hahaha, sama aja..." Sahut Irsyad, Yahya pun tertawa.
"Ya enggak lah Syad... Beda tahun, tanggal, bulan, jam, menit, detik... Beda semua, sama-sama satu jurusan sih. Tapi, ya tetap beda. Gimana Pah, gantengan siapa?" Membuat papah menggeleng, ada saja tingkah laku anaknya satu ini.
Rania tersenyum hangat, mengingat ia pernah di pukuli dengan rotan sama ustaz Yahya, sampai di siram pakai lumpur sawah pernah.
Perjuangan yang dulu, membuat ia mengingat masa lalunya. Sekarang ia melihat, ada keceriaan dan ternyata ustaz Yahya baik dengan keluarga, hangat, sayang dengan keluarganya.
"Rania..." Sapa istri ustaz Yahya, ia menyambut baik dan mereka berjalan menuju dapur. Menyiapkan makanan di dapur.
"Yang ada gantengan papah dong, kalah kalian. Tetap papah Naufal, yang gantengnya tidak ada duanya." Kirana mendekati papah, dan menciumi wajah papah yang sudah berkeriput tersebut.
"Makasih Pah..." Ucapnya dan papah mengangguk.
__ADS_1
"Yealah, kemana aja kamu dek tadi?" tanya Yahya sambil menyeruput tehnya.
"Nggak, tadi aku naik taksi eh tiba-tiba mogok. Ya udah, lah tunggu aja." Jawabnya dengan santai tanpa ada kesalahan pengucapan atau tidak.
"Menganggu saja... Iya, papah tetap papah... Gantengan papah, tapi abang menawari gantengan siapa? Kok yang jawab kamu, tanpa ada rasa bersalah. Kamu langsung nyamber gitu aja, Papah bilangnya." Ucapnya tidak terima.
"Sabar bang! Ingat, adek kita loh bang. Butuh bimbingan," Yahya menengok.
"Yang ada butuh ilmu yang lebih kuat, untuk menguatkan hatinya yang engga suci itu." Celetuknya.
"Mikir itu kerja dulu, baru nikah! Nggak ada yang namanya pacaran, dunia kerja lebih luas dan jika kamu udah mapan dengan kerjaan mu, hasil keringat mu sendiri baru nikah." Sindiran keras menyikat hati para keluarga yang ada di sana.
Benar, pedas mulutnya.
"Udah! Jangan berantem! Biarin lah bang, itu Kirana mau dia nikah nggak papa... Karena dia udah punya kerjaan sampingan," Kirana menatap kesal ke arah Yahya.
Melihat ada kebencian yang menyoroti mata Kirana, membuat Irsyad menatap kasian kepada adiknya itu.
Seperti ada tekanan yang melandanya sekarang.
"Bang, kamu nggak boleh gitu sama adikmu! Kasian adikmu itu..." Yahya hanya bergidik dan memainkan anaknya.
Sementara Irsyad buru-buru ia memakai sandalnya, dan menuju ke kamar Kirana.
Membujuk Kirana agar tidak salah paham.
Baru bertemu, sudah ada saja pertikaian seperti ini. Ingin ia mengatakan sejujurnya, ada orang yang menerima ada pula yang tidak.
Kakaknya itu suka membuat keputusan bulat, makanya dulu ia tidak terlalu nyaman dengan kakak pertamanya itu.
__ADS_1
Suka mengambil keputusan, yang seharusnya nggak di terima di keadaan kita.
"Kirana..." Serunya dengan lembut.
"Abangggg..." Pekiknya dan memeluk cepat, Irsyad mengelus punggungnya.
Rania menyusul suaminya yang ada di kamar Kirana, ia tersentuh hatinya melihat Kirana dan Irsyad berpelukan seperti itu.
"Udah dek! Nggak usah di pikirin apa yang di omongkan uda Yahya tadi, nggak baik dek. Memusuhi saudara kita, yang seharusnya kita saling menerima kasih sayangnya maupun ini-itunya, semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Adek harus kuat! Seperti abang dulu, abang pernah nentang apa yang di katakan oleh uda, dan sesampai itu abang pun sukses dengan cara abang sendiri. Nggak susah payah, dengan apa yang di putuskan oleh uda Yahya, kamu perempuan kuat sama seperti mamah. Nggak pernah ngerasa lelah, capek, letih, dan uda pasti ngerti kok. Cuman ada kesalahan paham yang terjadi, nggak ada rasa untuk memutuskan bulat-bulat." Ucapnya dengan panjang kali lebar. Dan Kirana tetap menangis, sampai ingus keluar. Basah sudah baju yang di pakai oleh Irsyad, biarkan adeknya menerima keadaan.
"Hikss..." Ingin berucap, tapi sesak dadanya membuat Kirana semakin terisak.
Sampai bunyi nafasnya tidak beraturan, Irsyad hanya menghela nafas dan ia merasa terbalik lagi dengan masa lalunya.
Papah yang di luar, tidak habis fikir dengan Yahya. Ia berdebat kali ini, anak perempuannya tidak boleh sakit cuman gara-gara permasalahan ini. Papah sampai berulang kali mengatakan "Nggak usah terlalu ikut campur dengan apa yang ada di kehidupan adik-adik mu! Papah bicara dengan baik ini, kalau kamu mau. Jika ada yang salah, ya tolong segera bertindak dan tolonglah untuk memberikan ilmu dan teori. Nggak emosi melulu yang kamu keluarkan, kontrol dulu emosi mu! Baru memberikan sedikit ilmu, kamu bisa kok!" Papah menyemangati Yahya, ya, Yahya dari dulu memang kejam tanpa melihat sisi kiri dan kanan.
"Aku ingin yang terbaik saja, Pah!"
Papah menghela nafas kembali, ini anak keras kepala sekali jika di nasehati.
Sudah menjadi ustaz, gunanya apa? Jika tidak bisa mengontrol emosinya.
Bersambung...
Kayaknya kali ini nggak nyambung 🤣, besok aku perbaiki kembali🙏.
Ya udah selamat membaca malam teman-teman, jangan lupa kalian sebagai reader, bijak dalam semuanya 🤗.
Terima aksih
__ADS_1