
“Kamu ngapain dek?” Melihat Kirana yang menangis sesegukan, dan Kirana langsung mengelap air matanya, berubah ia menyunggingkan senyuman ke arah kakaknya itu.
“Nggak usah nangis, dek! Kamu itu harus kuat, nggak usah denger kata-katanya kakak! Hempaskan yang membuatmu kesal dengan keputusan itu, dan tidak menerimanya maka kamu boleh memperbaikinya! Petiklah dari beberapa kata! Kemungkinan kamu bisa sukses dengan caramu sendiri...” Irsyad menasehati nya dan menepuk bahunya.
Kirana meraih tangan Irsyad.
“Makasih kak, sudah bersedia untuk semuanya. Karena kakak aku bisa ngelewatin ini semua, walaupun kuliahku terputus di negeri yang aku sayangi, tapi aku bisa melanjutkan kuliahku di sini. Aku tetap akan pertahanan untuk tidak goyah, karena aku mempunyai cita-cita yang tinggi sebelum mamah dan papah tiada di dunia ini, aku sudah berjanji. Karena janji itu nazar, harus di tepati di bayar dan semuanya terekam jelas.” Rania terharu dengan penuturan sangat adek ipar, sehabis mandi mereka berdamai di kolam renang. Memulai kehidupan yang nyaman, bukan untuk bermain-main kali ini.
Karena ia harus menentukan jodoh pilihan yang paling tepat untuk Kirana, Kirana bukan perempuan yang bertipe suka laki-laki yang begitu banyak dan tidak bisa ia memilih pasangan yang sekaligus pertama kali menembaknya langsung ia terima.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, halah ganggu aja kamu sayang.... Lagi gini-gini," cetus Irsyad dan Kirana hanya menggelengkan kepalanya.
"Ingat! Ia perempuan yang bisa menerima keadaan kakak yang sebenarnya, kalau aku ya... Mungkin udah aku tendang ke samudera kak, ya udah sana mending kalian ke kamar deh. Bikinin aku ponakan yang banyak ya," Rania mendekat dan tersenyum.
"Si onggok lagi datang, jadinya ke tunda sampek seminggu." Gusar Irsyad, dan Irsyad beralih pergi meninggalkan mereka berdua.
"Uluh-uluh kasian ya, kak... Sini kak, emh... Kakak dulu ngerasain gimana kalau nikah?" tanya Kirana dan Rania naik ke ranjang.
__ADS_1
"Belum cukup umur kamu, nanti aku di marah sama mas Irsyad kalau cerita."
"Hah, kok bisa?"
"Ya bisa aja, karena ia nggak mau privasi kita terbongkar begitu aja." Dengan gemas ia mencubit pipi adik iparnya tersebut.
"Rana, biduk rumah tangga sama-sama di pikul, dengan peribahasa yang itu juga harus di ingat! Dan bisa di pahami, allhamdulilah sejauh ini kakak nggak pernah liat kalau mas Irsyad, menjauh ataupun memalingkan wajahnya untuk berpaling di kehidupan kami. Walupun, ujian yang kita lewati nggak ada apa-apa nya sih, kalau udah di jalanin." Jelas Rania, Irsyad tiba-tiba nongol begitu saja dengan membawakan makan malam untuk adiknya.
"Nggak, ini aja udah membuatku mati kena jantung. Kamu, sih... Say---" Membuat Rania melotot sampai tajam seperti pisau yang habis di pasah, hahaha.... Kirana hanya tersenyum, menatap bingung mereka.
"Udah, ini di makan ya dek! Nggak usah kemana-mana, kita mau diskusi dulu sama keluarga." Ucap Irsyad yang mengumpulkan tenaganya dalam-dalam, untuk membela adeknya satu ini. Kirana menatap makanan tersebut, makanan yang ia tak sukai tapi mau gimana lagi makanan tersebut sudah tersaji di mejanya.
"Yuk sayang! Kita ke ruang makan, di sana udah di tunggu papah sama mamah." Rania mengangguk dan menggeser tubuhnya agak sedikit susah untuk bergerak.
Mereka pun ke ruang makan, di sana sudah ada papah yang masih romantis dengan mamah. Padahal, sudah tua tapi tetap saja romantis. Beda dengan umi dan abi, mereka hanya berdiam dan berjalan ke dapur lalu ke ruang makan.
"Ehm..." Deheman yang membuat papah menghentikan aksinya dan menengok tajam ke arah Irsyad.
"Sudah lama di tunggu, kalian ngapain di kamar? Apa jangan-jangan!" Mamah membekap mulut papah.
__ADS_1
"Ish-ish, yang ada papah sama mamah tu! Nggak punya rasa malu di depan besan, dan anak sendiri." Desis Irsyad, ia menarik kursi untuk di duduki istrinya.
"Mana bang Yahya? Kok belum datang-datang juga. Emangnya aku mau nunggu sampe ia dateng gitu? Ini udah malem, jatahnya orang tidur lah..." Irsyad mendesah berat dan papah pun melemparkan koran ke arah Irsyad.
"Makanya matanya itu melek! Nggak melulu ke Rania terus, papah nih udah tua tapi masih terjaga stamina tubuhnya karena ada mamah yang di samping papah!" Melirik, dan tersenyum lebar ke arah mamah.
Hanya membuat mamah melengos, dan berdiri. Pergi, menyiapkan beberapa makanan untuk camilan.
"Udah lah mas! Nggak usah ribut sama papah, kasian nanti papah, jantungnya kumat lagi gimana? Terus itu tremor, papah gampangan sakit sekarang. Mamah yang kewalahan sendiri, nggak kasian apa?" Rania menyetop suaminya agar tidak berdebat dengan papahnya.
Irsyad mengangguk, dan memilih untuk membaca koran yang di lemparkan papahnya tadi. "Ada seorang bapack yang tega memukuli, anaknya sampek baback belur... Wuishh, benar-benar kejam ini. Nggak ada rasa tanggung jawabnya sebagai orang tua." Ia mengarang sendiri ceritanya, papahnya hanya melirik dan apa benar yang di katakan oleh anaknya itu?
"Kepo yah pah?"
"Nggak, silakan lanjut aja! Biar nggak hening." Sahut Papah, Rania hanya menatap papahnya yang masih merudung amarahnya.
Bersambung...
Maaf telat update, ataupun libor... Bolong-bolong yah? Hahaha iya, besok kayaknya aku usahakan untuk update 🤭.
__ADS_1
Aku nggak #janji lho.
Makasih 🤗