Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Takdir Mubram


__ADS_3

Sesuatu yang berharga adalah keluarga, Abi dan Umi maafkan Rania kalau ada salah.


–Rania Adiba Saira–


Happy Reading


Rania mandi, sedangkan Rayhan, dia memotong-motong rumput yang ada di sekitar belakang rumah dengan cangkul.


"Abang apa kabar ih?" Tanya perempuan yang melewati Rayhan dengan sengaja dan perempuan itu tidak tau malu.


"Allhamdulilah kabarnya baik, jangan dekat-dekat ya nanti kalau ada orang liat bisa jadi fitnah!" Ucap Rayhan dengan menaruh cangkulnya dan melangkah masuk ke dalam rumah, mengunci pintu belakang rumah.


"Astagfirullah Abang..." Rania terkejut ketika abangnya mengunci pintu dengan cepat dan memeluk Rania.


"Maaf dek, tadi ada mbak Sarah yang lewat jadinya abang milih masuk aja ketimbang nanti jadi fitnah kan." Ucap Rayhan, melangkah masuk ke kamar mandi.


Rania masuk ke dalam rumah, uminya yang memijat-mijat punggung abi dengan pelan-pelan dan tertawa, gembira.


"Melihat kalian bahagia, Nia juga bahagia." Rania membawa beberapa pakaian yang sudah kering di ruang setrikaan dan mendekati mereka berdua.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Abi, Umi."


"Waalaikumsalam nak. Oh iya nanti malam ada setoran ayat kan, kamu hafalkan dulu kalau nanti nggak hafal maka Abi akan memberikan hukuman." Ucap Abi dengan memendam amarah yang tadi siang, amarahnya masih bersarang di hatinya.


"Iya bi, kalau begitu Rania ke kamar dulu ya."


"Hm..." Jawaban mereka berdua, membuat Rania menaruh luka dan menarik napasnya dalam-dalam.


Rania masuk ke dalam kamar, memandang kamar yang sederhana, membuatnya nyaman, tetapi sekarang hatinya belum nyaman. Sepertinya Abi dan Umi belum bisa memaafkannya. Padahal mereka sama-sama menjadi pengajar dan pemilik pondok pesantren, kenapa masih juga memendam amarah?


Selain, itu kenapa anak yang selalu terkena amarahnya bukan muridnya, muridnya kalau marahan saja di suruh memaafkan, kalau ini?


"Ya Allah, kenapa Abi dan Umi belum bisa memaafkan anaknya sendiri? Apa aku tadi udah keterlaluan?" Rania menutup jendela dan hordeng, karena sebentar lagi mau maghrib.


"Yaudah lah, aku mau wudhu dulu... Siap-siap ke masjid terlebih dahulu." Rania mengambil mukena di cantolan dan mengambil sajadahnya.


Rania melangkah keluar, ternyata Abi dan Uminya sudah tidak ada, "emang mereka berdua adalah pasangan sejati, tetapi nggak sejati di anaknya sendiri." Rayhan yang menatap adeknya dengan heran dan menghampiri adeknya.


"Assalamu'alaikum dek."

__ADS_1


"Waalaikumsalam bang," jawab Rania dengan menyalimi abangnya.


"Kenapa dek? Ada yang sakit atau pusing? Kalau sakit lagi, nggak usah di paksain buat ke masjid dek. Kamu sholat di rumah saja!"


Rania menggeleng dan tersenyum kepada abangnya, "nggak papa bang. Adek juga udah mendingan kok. Daripada tadi siang," Rayhan memeluk adeknya dan mengecup kepala adeknya. Karena tingginya Rayhan dan Rania jauh berbeda, Rayhan tinggi sedangkan Rania sekitar di bahu Rayhan.


"Adek, abang pingin kamu sembuh... Jangan sampai kamu sakit lagi dek, abang sedih liat kamu sakit dek. Abang nggak bisa apa-apa, kecuali abang menyemangati kamu dek."


"Iya bang. Adek pasti sembuh, kalau Allah memberikan jalan kesempatan untuk sembuh, InsyaAllah adek sembuh. Kalau Allah SWT memberikan jalan untuk adek nggak bisa sembuh, berarti adek akan pergi dan meninggalkan dunia ini selamanya. Itulah yang di namakan taqdir murah bang, kematian, kelahiran, dan menentukan jodoh. Semuanya kehendak Allah bang." Rayhan mengangguk dan mengecup beberapa kali kening adeknya.


"Yuk berangkat ke masjid! Nanti bisa ketinggalan sholat berjamaah lho."


"Iya bang." Mereka berdua pun berjalan ke masjid bersama.


Bersambung...


Jangan lupa Like dan Komentar positif☺❤️🤗


Terima kasih semua🙏💕

__ADS_1


__ADS_2