
Abi menggebrak meja dan meninggalkan Umi yang terkaget karena kejadian yang kadang tidak dilakukan.
“ Astagfirullahalazim, abi. Ya Allah. ” Umi pun duduk terlemas dan Rania keluar dari kamar,
“ Astagfirullah, Umi. ” Rania pun membantu Umi berdiri dan membantu untuk duduk di kursi.
“ Umi kenapa? ” Tanya Rania sambil menarik kursi rotan tersebut dan mendudukinya.
“ Maaf Umi tadi nggak sengaja begitu sama abimu. ” Jawab Umi dan Rania bingung, sebab Rania tidak tau kejadian yang sebelumnya terjadi.
“ Astagfirullahalazim umi, ” Ucap Rania dengan mengelus-elus punggung umi.
“ Kalau begitu umi susul abi di kamar, minta maaf baik-baik mi. Mudah-mudahan abi punya hati untuk memaafkan umi, semangat umi. ”
Akhirnya umi menuruti perkataan Rania, Umi membuka pintu kamar. Ternyata Abi melamun dan duduk di ranjang. Umi melangkah masuk ke kamar,
“ Assalamu'alaikum Abi. ” Ucap lembut Umi, Umi mendekati Abi.
“ Waalaikumsalam, ”
Ucap Abi dengan singkat.
__ADS_1
Umi pun mendekat dan berduduk di lantai dengan menopang tubuhnya menggunakan kaki.
“ Bi maafkan umi, ya bi. Umi salah tadi, umi nggak menjawab salam Abi. Maafkan umi ya bi, emang kalau Abi nggak mau maafkan. Tidak apa-apa bagi umi, umi akan cium kaki Abi. Sampai Abi mau memaafkan umi, ” Abi pun menghela napas panjang dan membantu Umi untuk berdiri ke ranjang.
“ Umi, abi udah maafkan Umi. Umi nggak usah begitu, abi nggak suka kalau Umi sampai begitu. ” Ucap Abi dan Abi mengelap air mata Umi,
“ Iya, tapi maafkan umi ya bi. Emang umi salah, maaf banget bi. ” Ucap Umi dan Abi tersenyum kembali.
********
Rania pun duduk di meja makan dan mengingat kalau yang menolong Rania sendiri adalah Irsyad. “ Kenapa aku memikirkan laki-laki itu ya, astagfirullahalazim. Jangan gitu nia! ” Rania pun mengaduk-aduk gula di dalam gelas yang berisi air teh hangat.
Akhirnya selesai, Rania mengambil teri dan dia rebus. Selanjutnya, Rania mengulek bumbunya.
“ Hah, sabar ni. Jangan terlalu marah untuk yang nggak berguna! ” Rania pun mengambil wajan dan sutil.
Rania meletakkan wajan di atas kompor yang sudah dia nyalakan, lalu dia menuangkan minyak untuk menggoreng teri dan bumbunya
“ Jadinya begini, kalau umi udah lengket sama abi. Nggak mau lepas seharian full, ”
Rania mencuci kangkungnya dan mencuci terinya. Akhirnya sudah selesai, Rania menggoreng terinya sampai benar-benar matang. Akhirnya Rania mengambil wadah untuk teri yang sudah matang dan Rania mengangkat terinya.
__ADS_1
Rania menggoreng bumbunya dan akhirnya bumbunya sudah matang, Rania cemplungkan kangkungnya dan terinya.
“ Hm, sekarang waktunya coba dulu. Asin apa nggaknya ini? ” Rania mencelupkan sendok ke dalam wajan dan dia rasa dengan lidahnya.
“ Sedikit lagi garamnya kayaknya, ” Rania menambahkan garamnya dan Rayhan masuk ke dapur.
“ Assalamu'alaikum dek, ” sapa Rayhan dengan mengambil piring dan membuka tudung saji.
“ Waalaikumsalam, bang. Eh, abang ini ya. Belum juga mateng, udah main ke dapur saja, bang. Nasinya, masih di kuali itu. Belum adek, angkat. Tadinya mau adek angkat, tapi adek mau masak juga. ” Rania membuat bumbu untuk menggoreng tempe,
“ Ya, udah. Abang angkat dulu, eh abi sama umi kemana? Kok dari tadi nggak kelihatan, ” Rayhan mengangkat nasinya di kuali dan di letakkan di wadah nasi.
**Bersambung
InsyaAllah author selanjutnya akan rajin update sekitar 2 hari sekali, ya. Biar cepet tamat, juga. Author akan bertanggung jawab atas novel author sendiri. Author nggak akan gantung ceritanya, ya. Sebenarnya, author ingin sekali bertanggung jawab atas novel yang di buat author sendiri.
Jangan lupa tinggalkan jejak!
Mampir ke instagram:
@dindafitriani0911**
__ADS_1