
"Ya Allah mudah-mudahan ibu cepet sembuh iya, biar nggak ada rahasia seperti ini. Ibu juga membuat jantungku kumat lagi, ibu pulang ke rumah dan nanti nggak akan di curigai sama bapak. Habis kemana batinnya?" Ucap mbak Nurul dengan meratapi pintu yang malang itu belum kunjung di buka lebar-lebar.
Dokter dengan penuh keringat dan berusaha untuk menangani Rania, akhirnya Allah memberikan jalan untuk kesembuhan walaupun keadaannya masih lemah.
"Allhamdulilah dokter keluar, bagaimana keadaan majikan saya dok?" tanya mbak Nurul dengan napas terengah-engah dan membuatnya hampir kehilangan napas.
"Apakah ada suaminya bu? Dengan ibu siapanya ya, boleh saya tau." Tanya sang dokter melepaskan stetoskopnya.
"Saya pembantu rumah dok, emangnya ada apa ya dengan majikan saya? Apakah ada gejala berat maupun penyakitnya?" tanya mbak Nurul dengan khawatir dan jantungnya disko sejak tadi.
Pinginnya muter-muter terus.
"Begini, saya butuhnya sama suaminya bu. Mohon maaf sekali, boleh di panggilkan suaminya sekarang juga bu?" Mbak Nurul memikirkan soal yang tadi. Perkataannya harus ia pegang dan kunci rapat-rapat, agar tidak bocor ke sana. Dan bisa jadi terdengar oleh suaminya sendiri.
"Tapi dok, suaminya juga sekarang ada di luar kota jadinya tidak bisa langsung ke sini. Saya juga akan bisa menjaga penyakit majikan saya dok, dan saya akan bertanggung jawab bila di kaitkan dengan hal yang berat." Janji mbak Nurul, walaupun kadang omongannya bisa kebalik membuatnya bingung dan dokter melamun, memikirkan gimana ini? Jika tidak ada suami juga apa sembuh dan kalau ada suaminya juga?
Yang terpenting sekarang keselamatan untuk seluruh pasiennya, apalagi dia masih ingin mengejar nilai-nilai yang ketinggalan.
"Ya sudah, begini bu saya mau menyampaikan ini walau berat hati saya terlalu ingin menceritakan hal ini kepada suaminya sendiri. Ya sudah kalau tidak ada suami juga tidak apa-apa." Ucap bapak dokter itu dan mbak Nurul mengangguk, akhirnya sang dokter mengajaknya untuk di ruangannya sekarang.
"Bagaimana Pak?" tanya mbak Nurul dengan menilik dokternya yang aneh.
"Maaf saya bukan dokter yang di khususkan begini, tapi sebelumnya saya mau tanya itu yang merawat pasien dokternya siapa ya sebelumnya? Biar saya rekomendasikan kembali, soalnya di sini ada dua orang yang menangani seperti ini. Apalagi dengan penyakit yang tidak bisa di perhitungkan kembali hidupnya." Ucap si dokter dengan blak-blak'an.
__ADS_1
"Lah maksudnya gimana dok? Saya nggak paham, apa dokter nggak bisa menjelaskan?" tanya mbak Nurul, dan dokter bingung. Biasanya yang dekat juga tau tentang riwayat maupun apa yang di derita oleh si pasien.
Nyatanya ini tidak!
"Maaf emang ibu tidak tau jika penyakit pasien itu sudah tingkat tiga, dan seharusnya ini sudah di operasi maupun di lanjutkan penanganan yang lebih intensif bu." Ucap dokter membuat mbak Nurul bingung dengan kata-kata sang dokter, dari tadi dokternya tidak menjelaskan.
"Dok, saya tanya baik-baik. Apa penyakit yang di derita oleh majikan saya, dok? Dari tadi dokter tidak menjelaskan jadinya saya yang bingung." Ujar mbak Nurul yang mau membuang napasnya. Karena dokter ini, mbak Nurul sesak.
"Ini ya bu. Pasien mengalami kanker otak stadium tiga, dan itu seharusnya harus di tindak lanjuti dengan operasi. Kemungkinan besarnya jika tidak di operasi si pasien sudah mengalami stadium empat. Dan itu sudah berbahaya buat tubuhnya, kemungkinan kecil juga nyawanya akan berpengaruh bu." Jelas dokter, dan napas mbak Nurul nggak bisa di katakan lagi. Mau pingsan, tapi nggak pusing.
Cuma kaget saja. Mbak Nurul menelan ludahnya dan kepekaan sang dokter menjalar, mbak Nurul di ambilkan segelas air minum.
"Di minum dulu bu! Pasti kaget," ucap Dokter dengan membetulkan snelinya. Mbak Nurul mengangguk, dan menegak segelas air minum tanpa ada yang tersisa.
"Eh jangan nangis di sini bu! Takutnya nanti saya ngapa-ngapain ibu lagi." Ujar sang dokter, mbak Nurul pun melangkah keluar dari ruangan dokter itu yang masih muda dan umurnya jauh dengan umur mbak Nurul.
"Aduh kok nggak permisi dulu apa gimana gitu? Kan nggak seharusnya di omongin," gumam dokter.
***
Redup sekali pandangan Rania, sampai sekitar ruangan rasanya pingin menutup mata terus dan pusing sekali melihat ruangan yang di mana ia tempati sekarang.
"Ya Allah, Abi... Umi," panggil Rania dengan memanggil nama orang tua yang ia sayangi dan sekarang rasanya pingin Rania rangkul bersama-sama untuk kesembuhannya.
__ADS_1
"Di mana ini?" Ucap Rania dengan memandang sekitar dan ada suster yang menjaganya di sana.
"Eh ibu," sapa Suster dengan ramah.
"Ada di mana ini?"
"Ini ada di rumah sakit ibu, ibu lagi sakit dan harus di tangani oleh dokter bu." Suster pun memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Rania.
Mbak Nurul berjalan ke ruangan Rania di rawat. "Aduh gimana ini? Pasti bapak juga nggak tau ini, cuma ibu aja yang nggak mau kalau semuanya tau tentang penyakitnya." Ucap mbak Nurul dan melihat suster yang melenggang keluar masuk dari ruangan Rania di rawat sekarang.
"Eh gimana Sus keadaannya sekarang?" tanya mbak Nurul dengan memberhentikan suster yang lewat.
"Ibu siapa?" tanya suster.
"Saya pembantunya suster, gimana keadaannya? Apakah saya boleh masuk ke dalam?" Mbak Nurul ingin mendengar apa alasan yang akan di buat oleh Rania, jika dirinya bertanya tentang penyakitnya.
Bersambung...
Lanjut lagi nih...
Maaf ya 😊😊😊
Jangan lupa like dan komennya ❤️
__ADS_1