Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Menyembunyikan Penyakit


__ADS_3

Happy Reading


Rania membayar obatnya dan dia terkejut, semuanya sekitar dua ratus ribu rupiah obatnya saja. Pantes Ibu tadi pergi meninggalkannya, karena biayanya cukup mengeluarkan uang banyak.


“ Ya Allah, kalau pulang. Cuma bawa uang seratus ribu, apa cukup buat itu semua? ”


Rania melangkah keluar dari rumah sakit dan membawa paper bag yang berisi obat.


“ Aku harus kemana? Apa aku pulang aja daripada nanti bikin rumit. ”


Akhirnya Rania memutuskan untuk memberhentikan mobil taksi dan taksinya pun berhenti.


Rania pun masuk ke dalam taksi dan meletakkan paper bagnya di sampingnya.


“ Pak boleh ke pondok pesantren Darunnajah Pak? ”


“ Boleh mbak, kemanapun juga saya antar. ”


Sampai beberapa jam kemudian, akhirnya sampai di pondok pesantren. Sesampainya di sana, Rania di pertonton oleh santri lain.


“ Berapa Pak? ”


“ Seratus ribu, mbak. ”


Akhirnya Rania membayarnya dan Rania pun masuk ke pondok pesantren.


“ Allhamdulilah sampai juga, untung tadi uangnya pas. Tapi, gimana nanti kalau di marah sama abi sama abang lagi? ”


Rania melangkah ke rumah abinya dan uminya.


“ Assalamu'alaikum umi, ”


Rania mengetuk pintunya dan akhirnya di buka pintunya dengan abi.


“ Waalaikumsalam, ya Allah nak. ”


Abi langsung memeluk Rania dengan tubuh yang kaku dan gemetar.


“ Maafkan Abi, ya nak. ”


“ Iya abi, udahlah bi. Itu juga kesalahanku, ”


“ Nggak nak, itu salah abi. Kamu kemana saja? Abi sama abang cari kamu kemana-mana, tetap saja nggak ada hasilnya. ”


“ Maaf bi, tadi abi ke masjid, terus nggak tau jalan pulang, jadinya kesasar. Untung saja ada taksi lewat tadi, ”


Abi sebenarnya tau dan Abi tidak mau mencari masalah lagi, sebenarnya dia ingin membuka mata batinnya dan hatinya.


Tapi itu tidak mudah, Abi pun menggandeng Rania.

__ADS_1


“ Masuk yuk! ”


“ Untung saja umi belum pulang dari pengajian, oh iya abi sama umi nanti ada tamu. ”


Rania pun tersenyum dan Abi heran dengan Rania yang membawa paper bag.


“ Nak itu apa? ”


“ Ini tadi aku beli makanan, tapi nggak aku makan, jadi aku buat besok. Soalnya kenyang, ”


Abi tersenyum dan mengelus pelan kepala Rania.


“ Yaudah nak kamu istirahat dulu. Takutnya capek, ”


“ Nggak kok bi. Aku mau buatkan makanan dulu buat nanti malam, aku mau belanja ke warung. Oh iya bi, lupa. Maaf sekali bi, uang pesantren yang buat SPP, lima ratus ribu itu buat bantu orang tadi bi, di jalan. Maaf bi, ”


Rania meminta maaf dan abi memeluk Rania.


“ Anak abi cantik dan putri abi yang abi sayangi, abi nggak marah kok. Abi malah bangga sama anak abi ini, karena membantu orang lain yang kesulitan. ”


“ Sebenarnya aku mau ngomong yang sejujurnya, tetapi aku tidak mau menjadi beban keluarga. ” Ucap Rania di dalam hati dengan sedih dan terluka.


“ Kalau gitu, aku mau letakkan ini dulu ya bi. Terus langsung ke warung, ”


“ Iya nak, hati-hati. Ini uangnya, ”


Rania meletakkan paper bagnya di kamar dan keluar dari kamar, mengunci kamarnya terlebih dahulu. Karena dia tidak mau kalau abinya curiga dengannya.


Rania keluar dengan langkah pelan-pelan, dia ingat kalau dia nggak boleh kerja berat terus bawa barang yang berat.


Sampailah di warung Cak Min,


“ Assalamu'alaikum Cak. ”


“ Waalaikumsalam, neng. Mau beli apa neng? ”


“ Mau beli ayamnya satu kilo sama itu kangkungnya satu ikat ya, Cak. ”


“ Baik, neng. Di pilih saja, Cak mau ambilkan ayamnya dulu. ”


“ Eh nak, kamu ngapa di sini? ”


Umi yang membawa tas dan bajunya sudah kusut seperti uwel-uwelan.


“ Umi, ”


Rania langsung menyalami uminya dan uminya pun menerimanya.


“ Tadi, katanya abi nanti malam ada tamu. Jadinya Nia ke warung umi, ”

__ADS_1


“ Oalah, umi lupa. Untung saja di ingatkan sama anak umi yang baik ini. ”


“ Alah umi itu sama saja kayak abi. ”


“ Bener lho sayang, kok gitu. ”


Rania pun tersenyum dan memilih kembali sayurannya dengan umi.


Setelah semua selesai, akhirnya umi dan Rania pulang ke pondok pesantren.


“ Umi mau bikin kue, kamu yang bikin sayur sama lauknya, ya nak. Soalnya umi nggak jago masak sayur sama lauk, ”


“ Hah... Kok aku umi, bukannya umi yang paling jago di rumah, sampe abi saja nggak berpaling Umi. ”


*******


Irsyad di telepon dengan papahnya, akhirnya dia pulang juga. Akibat itu semua, papahnya mengancamnya kalau tidak pulang. Akhirnya Irsyad pulang dan menuruti perkataan papahnya.


“ Assalamu'alaikum Pah. ”


“ Waalaikumsalam, pulang juga kamu. ”


Irsyad menyalami papahnya dan mamahnya.


“ Emang ada apa pah? Papah suruh aku pulang, bukannya mamah lagi di surabaya, kok langsung pulang saja. ”


Irsyad meletakkan tas kerjanya di meja dan menghempaskan bokongnya di kursi sofa.


“ Ehm... Mamah udah selesai proyeknya di sana, semuanya udah di urus sama sekretaris mamah. ” Ucap mamahnya dengan meletakkan 2 gelas yang berisi jus jeruk.


“ Papah udah siapkan semua, nanti kamu tinggal pakai baju yang bagus karena papah sama mamah mau ke rumah temen papah, ”


“ Hah kok tiba-tiba Pah, ”


“ Udah nurut saja nak, timbang papahmu marah-marah nanti. ” Ucap mamah Amirah dengan mengelus-elus pundak Irsyad.


“ Boleh lah kalau begitu, aku mau ke kamar dulu. Mau kerjakan ini semua, masih banyak kerjaannya. ”


Irsyad pun ke kamarnya dan mamah Amirah melangkah ke dapur, mencari camilan.


“ Ah buat pisang goreng aja kali ya, soalnya udah lama nggak makan. ”


Bersambung....


-Jangan lupa like dan komen ya ❤️❤❤


-Jangan lupa mampir ke instagram, boleh follow instagram author.


@dindafitriani0911

__ADS_1


__ADS_2