Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Epilog


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian, bulan, minggu, hari, jam. Mereka lewati, saat inilah mereka menyaksikan antara adik ipar Rania menikah, dan adik dari Irsyad ini menikah dengan seorang pengusaha, tebakannya salah. Irsyad juga mengira jika adiknya ini ingin menikah dengan Adhi, dan karena itu... Adhi meninggalkan Kirana mendadak, entah mengapa.


Hilang, dan tanpa ada kabar sama sekali. Membuat Kirana frustasi mendadak, dan ia akhirnya dijodohkan dengan pengusaha satu ini. Setelah mantap semuanya, Kirana akhirnya mau dan segera menikah.


“Hai, lagi ngapain di sini?” Irsyad menggendong anaknya yang berumur kurang lebih 1 tahun setengah, dan berkat itu semua. Rania ingin mencoba break setengah tahun.


“Hai, siapa kamu? Kayak pernah kenal,” Ujar Irsyad. Irsyad lupa, karena sudah lama tidak bertemu dengan temannya satu ini.


“Wih, anak kamu lucu ya. Perempuan lagi, gimana kok bisa dapet anak perempuan? Sementara gua, gagal terus. Sampek anak empat yang gua produksi, gagal semuanya. Laki semua,” Curhatnya dengan santai, melihat itu Irsyad tertawa kecil.


“Tanya kok sama aku, ya... Tanya aja sama Allah, bukannya itu suatu rezeki dan titipan. Lo aja yang nggak bersyukur, udah nikmat di dunia dan nanti lo ditagih sama Allah di akhirat. Udah bersyukur aja kali, sebisa mungkin kita menjadi punggung keluarga.” Baru kali ini Irsyad mendapatkan teman yang baik, padahal selama itu kah temannya ada di Belanda sampai Irsyad melupakannya.


Waktu 7 tahun bukan main untuk Irsyad, ia lupa semuanya karena butuh beberapa waktu untuk mengingat memorinya beberapa tahun silam.


“Pikun kali lo ... Gue itu temen lo pada saat itu masuk apa rumah sakit, saat itu lo bikin ulah, terus gue yang ada di garis depan untuk lo. Apa nggak ingat?” Irsyad menggebrak meja, dan anaknya terkejut melihat wajah sang bapak kayak begitu.


“Heh, ingat itu ada anak kecil!” Temannya itu tertawa mengejek, dan Irsyad menoleh.


“Gara-gara lo semuanya!”


Irsyad meninggalkan temannya tersebut, karena ia harus bersiap-siap untuk menjadi saksi nikah atas adiknya yang sebentar lagi acara sakral akad nikah dimulai.


“Ada teman kek gitu,” Temannya itu menggeleng dan meninggalkan tempat tersebut.


Semuanya sudah bersiap-siap, Rania mengobrol dengan kakaknya. Rasa rindunya menggelora, karena kakaknya itu sudah menikah dan tidak pernah bertemu dengannya.


Makanya itu, Irsyad mengajak jalan-jalan Tania di sekitaran taman, eh ketiban apa tadi pagi? Sialnya ia bertemu dengan temannya itu.


Ia sudah ingat, jika temannya itu mengulik setiap apa yang ada di dalam jati dirinya.


“Mas, sini!” Rania tersenyum ke arah suaminya itu, dan Rania ambil alih Tania dari gendongan Irsyad. Irsyad menyapa kakaknya, dan Tania memainkan kerudung Ibunya, dengan menguel-uel.


“Oh iya, ini sebenarnya kok tiba-tiba gini kenapa Syad? Bukannya umur adikmu itu masih di katakan muda banget.” Tanya Rayhan dan Irsyad menggedikan bahunya.


“Sudah jodohnya kak, aku nggak ngelarang. Tapi, papah yang memaksanya untuk menikah.” Benar. Kirana menikah atas keterpaksaan orang tua, awalnya. Dan akhir dari segalanya, Adhi meninggalkannya tanpa ada jejak yang di tinggalkan.


“Em gitu, kasian juga kali adikmu itu dipaksa untuk nikah sama orang tua.”


Irsyad hanya menggeleng.


“Sudah takdirnya mau dirubah, bakalan nggak jadi pokoknya.” Jawabnya.


Ada seseorang yang menghampiri mereka, berkebutuhan untuk menyampaikan pesan dari penghulu yang sudah siap.


“Assalamu’alaikum, Pak... Katanya suruh siap-siap, dan sebentar lagi acaranya mau dimulai.” Ucapnya dengan tegas, mereka mengangguk.


“Wa’alaikumsalam, iya kami akan siap-siap.” Mereka pun bersedia, dan melangkahkan kaki ke ruang tamu, pernikahan ini digelar di rumah keluarga besar Kirana, semua orang sudah berdatangan dan keluarga besar dari calon mempelai laki-laki pun sudah berdatangan sejak tadi, hanya saja mempelai laki-laki nya belum datang.

__ADS_1


Irsyad gugup, cemas, ada rasa ketidaknyamanannya kepada keluarga mempelai laki-laki. Restunya belum sepenuhnya berjalan di hati dengan ikhlas karena adiknya menikah dengan laki-laki itu, ya....


Irsyad berharap tidak banyak, setidaknya laki-laki itu tidak membuat adiknya menangis, dan memainkan tangan, Irsyad tidak masalah. Tapi, jika itu sudah terjadi membuatnya marah. Sungguh keterlaluan, tidak ada kata ma’af di dunianya.


Akad nikah sudah siap, dan mempelai laki-laki sudah ada dihadapan calon mertuanya, tak lain papah dari Kirana yang akan mengijab kobulkan anaknya sekarang.


Di samping itu, ada saksi yang menjadi pendamping di antara mereka.


Papah berkali-kali tersenyum, melihat anak kebanggaannya bisa menikah. Walaupun hati Irsyad masih dongkol sekali jika bertemu dengan papahnya, dan kakaknya yaitu Yahya.


Ada pertentangan antara jodoh ini, sampai mereka rela membiarkan anak dan adiknya ke Madinah dan mendapatkan perlakuan buruk di sana, Kirana di pekerjakan sebagai babu dan sempat wajahnya membekas lebam-lebam biru, dan membuat Irsyad kepalang emosi. Ia menjemput adiknya, pertentangan mereka semakin kuat pada saat itu.


Mamah sampai sakit berhari-hari, Irsyad tetap menyalahkan papahnya dan abangnya.


Ia masih benci jika mengingat itu kembali, Irsyad hanya menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum hangat, memberikan suatu kehangatan untuk adiknya.


“Sudah siap, Pak... Ibu?” Tanya penghulu dengan aba-aba dan Rania yang ada ada di sana, memberikan kenyamanan untuk Irsyad, Irsyad mengode istrinya. Hahaha, kayaknya pasangan ini bakal lengket kayak lem sama kertas, jika lengket. Lengket sekali, jika di sobek maka hati mereka akan terkoyak-koyak sampai ke dalam.


Akad nikah pun di mulai, dari masukkan pak ustaz, memberikan pengarahan dalam berumah tangga dan memberikan do’a, semuanya memberikan do’a agar kedua pasangan bisa bahagia sampai akhir jannah-nya nanti.


“Bagaimana para saksi sah?” Ucapan yang mengudara di telinga para saksi dan teman-teman yang lainnya, menyaksikan acara ini. Menggelora di setiap sudut ruangan, membuat mereka menjawabnya dengan penuh semangat.


“Sah...” Jawaban mereka semua.


Penghulu pun memulai do’a nya dan setelah semua selesai acara akad nikahnya.


 


Irsyad balik ke kamarnya, matanya berbinar ketika istrinya lagi tidur dan bersama anaknya. Mungkin lelah hari ini, karena semalam juga istrinya tidak bisa tidur. Karena acaranya benar-benar melibatkan adat Jawa, khas banget yang namanya nggak boleh tidur. Harus membuka pintu rumah, dan yang laki-laki pula. Wajib untuk berkumpul, menjaga keadaan malamnya untuk tetap bertahan untuk tidak memejamkan matanya.


“Kasian kamu sayang, uhh... Kangen nih kayaknya, semalem ‘kan nggak gempur. Apalagi kelahiran Tania, membuat waktu ku sama kamu hanya sedikit.” Laki-laki itu mengeluh setiap malam, apalagi adanya Tania, setiap malam istrinya tetap mengurus Tania, karena anak perempuan itu tidak mau jauh-jauh dari ibunya.


“Anak abi ternyata sudah tidur, kasian abi nih. Jangan rewel yah! Abi nggak bisa ini-itu,” Rania terusik dengan keberadaan Irsyad, karena membuatnya terkejut saja.


Suaminya ini bisa saja mengganggu anaknya, apalagi dirinya lelah menenangkan sang anak yang menangis selama 2 jam, hanya ingin bertemu abinya, karena abinya menjauh dari keberadaan Rania dan Tania selama ada di bawah, mereka di bawah tidak bertemu. Irsyad sibuk dengan tamu undangan yang begitu banyak.


“Mas,” Walaupun tidak berhijab tetap saja istrinya masih cantik.


“Iya, lelah... Capek? Sini aku pijitin.” Irsyad menawarkan, dan Rania menggeleng.


“Anakmu tadi nangis mas, sampai dua jam. Peluh aku, sampek bingung. Cari kamu, tanya mamah... Nggak tau, terus aku cari di depan... Nggak ada, nih anak kayaknya pingin nempel sama kamu, mas.” Dengusnya, nafasnya masih kentara begitu capek dan lelah tercetak jelas di wajahnya. Irsyad hanya diam, dan menghampiri istrinya.


“Kamu ganti baju dulu gih, sama mandi... Udah bau gini, bentar lagi acara makan-makan ‘kan? Harusnya kamu udah siap dari tadi di sana!” Peringatnya dan Irsyad melangkah ke kamar mandi, menurut apa yang di katakan istrinya.


Irsyad sudah rapi, wangi, dengan baju ala-ala khas tidurnya. Dan Rania heran dengan suaminya, padahal masih ada acara lagi dan ini, kenapa suaminya sudah mau siap tidur saja? Rania bingung, Irsyad terkekeh melihat Rania kayak orang yang nggak paham sifat dari suaminya itu.


“Hem, ibunya untuk anak-anak abi... Sekarang kamu bahagia nggak? Selama menikah denganku? Dan aku selama ini belum bertanya sama kamu, dan sekarang boleh jawab ya? Aku maunya hati ke hati, biar lega rasanya.” Selorohnya dengan tulus, menatap suaminya dengan penuh harapan. Rania bisa apa?

__ADS_1


“Ya, seperti biasa lah... Namanya rumah tangga, kadang seneng, kadang sedih, kadang ada pilu nya juga. Nggak semuanya harus berjalan layaknya orang normal, orang normal aja kadang-kadang udah kayak orang gila jalannya, udahlah biarin aja. Pendem rasa itu, dan bisa di ungkapkan dari mata ke hati.” Irsyad tersenyum, mencubit hidung istrinya. Kepala istrinya, ia letakkan di pahanya.


“Melihat langit yang biru, membuatku memandangmu tak jemu-jemu, cantik sekali kamu... Makasih ibunya untuk anak-anak ku nanti, aku tidak bisa membalas apa-apa... Istri yang tidak biasa, menghadapi kenyataan yang ada. Kamu nggak keberatan ‘kan? Jika aku ingin mempunyai anak lagi?” Rania menggeleng, dan menatap suaminya dari dekat.


Luruh air matanya yang terjerembab keluar dari kelopak mata suaminya, menangis harus dan Rania mengelapnya, “Cengeng...” Dengan tawa kecil, membuat Irsyad gemas sendiri. Mencubit pipi istrinya, dan mencium keningnya.


“Makasih banyak pokoknya, karena kamu hidupku jadi nyata, kembali benar-benar hidup. Allah sudah memberikan istri dan anak yang begitu cantik, dan membuatku hidup terasa nyaman. Bisa di abadikan sampai akhir hayat ku nanti bersamamu, apakah kamu akan ikhlas bila aku memejamkan mata selamanya dari semesta ini?” Rania menggeleng, dan membenarkan perkataan suaminya itu.


“Nggak semestinya orang ikhlas mas, aku nggak akan ikhlas. Sama-sama jika kita pergi meninggalkan dunia ini, walau kita nggak pernah tau kapan kita mati, di gariskan hidup untuk di alam semesta ini, Allah yang mengatur.” Ucap Rania, Rania menangis dalam dekapan Irsyad. Ia bangun, dan memeluk suaminya itu.


Ada rasa takut untuk kehilangan, tapi mau gimanapun jika sudah garis takdirnya untuk berjodoh sampai di situ, apa ia tidak akan menerima kenyataannya? Yang ada semua itu membuat hidupnya semakin tidak terarah, dan merasa tidak berguna untuk hidup.


“Ini untuk kamu Ibu,” Ucap Irsyad dengan mengeluarkan kotak beludru berwarna merah itu, di sana ada kalung liontin yang bernama Rania, membuat Rania terpaku dan tercengang, apa ini? Rania ingin ia berteriak, mengucapkan terima kasih banyak.


Karena tanpa Irsyad, ia tidak bisa hidup pula.


Sudah kah jodoh mereka di situ? Sampai nanti, apa mereka akan selalu bersama?


Rania menutup mulutnya, “Terima kasih abi untuk anak-anak kita nanti.” Irsyad dan Rania memeluk dan menangis, menyatakan keindahan hati mereka. Mereka gengsi untuk menyatakan cinta. Apalagi Irsyad, besar kepala. Sifat mamahnya menurun ke Irsyad, sementara Rania.. Masa iya, perempuan dulu yang menyatakan cinta.


Sekarang pada saat inilah mereka menyatakan cintanya, mungkin jika Tania bangun. Maka akan menjadi obat nyamuk di antara mereka, mereka tidak pandang bulu. Hanya saja merasa ada yang terbebani oleh pikiran mereka, selama ini Irsyad sibuk dengan pekerjaannya. Dan Rania sama-sama ia sibuk menjadi ibu rumah tangga, dengan rumah yang begitu besar dan tidak ada satu pun yang membantunya. Mbak Nurul dengan mas Onyon? Mereka sudah pensiun, benar-benar nyata mereka ingin mengurus bisnis mereka yang ada di kampung dan mereka sudah dikaruniai seorang anak, anak laki-laki.


Rania bersyukur hari ini.


Allhamdulilah...


...End......


Makasih kalian semua, ini benar-benar end yah😂.... Apakah ada yang mau ekstra part-nya?


Jangan yah!


Juahat kamu thor, nggak kok... nggak jahat, ini sudah ya.... Cukup, aku sudah menulis ini kurang lebih serebu tujuh ratus kata lebih kayaknya 😵...


Nggak mungkin kan mau nambah lagi?


Ah angan ya😌.


Tapi, aku mau ngucapin makasih banyak pokoknya ya, sayang kalian semua.


Jaga kesehatan ya pokoknya 💕


^^^4 September 2021^^^


^^^Dinda Fitriani^^^


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2