Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Jiplak tanda tangan.


__ADS_3

Mbak Nurul setelah tenang dan bisa di ajak damai hatinya, luruh seketika. Mbak Nurul pun membuka pintunya, kemudian ia tutup lagi.


"Assalamu'alaikum bu... Maaf tadi di tinggal sebentar tanpa izin dulu sama ibu, soalnya penting dengan kesehatan ibu juga. Tadi, mbak ngobrol sebentar sama dokter, dan sebaiknya sih bu bisa juga ibu obrolkan sama bapak baik-baik dan bapak bisa mengerti kok sama kondisi ibu yang sebenarnya, kalau ibu nggak jujur nanti siapa yang akan menanggung semuanya bu? Ibu tau 'kan biaya operasi itu nggak murah bu, nggak seperti kita beli tempe goreng. Mahalnya itu melebihi kita beli satu motor bu, coba bayangkan ibu bisa emangnya?" Tanya mbak Nurul, lalu Rania terkekeh.


"Wa'alaikumsalam... Kan belum jawab, mbak langsung ke intinya aja. Biasanya?" Tertawa pelan.


"Eh kok ibu malah ketawa, 'kan benar... Bu, mau cepat sembuh apa sakit-sakitan kayak gini?" tanyanya sekali lagi.


"Iya mau sembuh, tapi mau gimana lagi mbak... Nggak gitu-gitu juga kali, udah tenang saja nanti aku akan minta sedikit bantuan sama temenku apa nggak bohong sama mas Irsyad, buat pembayaran utang itu, pokoknya utang temenku. Tapi, aku nggak akan sebut nama." Balas Rania, ia duduk mengambil makanan yang ada di nakas.


"Mau mbak kupasin bu?" tawar mbak Nurul.


"Nggak usah mbak, ini juga udah kok." Rania mengambil jeruk, dan ia kupas dengan sendirinya.

__ADS_1


"Bu gimana kalau besok aja operasinya, biar segera dapat waktunya buat operasi. Katanya dokter tadi 'kan minimal segera besok untuk mendapatkan izinnya, ya udah besok aja." Ucap mbak Nurul, Rania menggeleng.


"Soalnya suratnya itu berisi nama suami ku sendiri mbak, apa mbak mau tanggung jawab dengan tanda tangannya?" tanya Rania dengan mengunyah jeruknya.


"Ya nggaklah masa mbak mau jiplak tanda tangan, itu juga membuat hati mbak nggak merasa aman selalu di hantui gituan, tanda tangan harus sesuai dengan peraturannya, nggak boleh melanggar. " Ucap mbak Nurul.


Ia hempaskan seluruh tubuhnya ke sofa, dan menyenderkan punggungnya ke sofa.


"Udahlah nanti-nanti saja bahasnya," Handphone Rania berdering seketika. Mereka kaget, dan sampai mbak Nurul mau kejengkang ke belakang.


"Pak Irsyad bu," balas mbak Nurul dengan mengasihkan handphonenya ke genggaman Rania.


"Gimana ini mbak? Mau ngomong apaan?" tanya Rania demen serius.

__ADS_1


"Sudah tenang, tarik napas... Hembuskan!" Mencoba nada ritme yang ada suaranya, ia luruskan. Jangan sampai Irsyad curiga, ia memencet ikon telepon dan Rania mengangkatnya!


"Assalamu'alaikum mas..." Sapa Rania dengan terlebih dahulu.


"Wa'alaikumsalam, kamu kemana saja kok dari tadi si telepon nggak diangkat? Aku cemas di sini, kamu gimana keadaannya?" tanya Irsyad yang di seberang telepon.


"Iya maaf tadi aku ada urusan sebentar, jadinya nggak ngecek handphone mas." Jawab Rania.


Dirinya tidak mau membuat jantung Irsyad copot. Karena penyakit yang di derita Rania.


"Oh gitu, ya sudah... Yang terpenting sekarang kamu nggak kenapa-napa! Oh iyaa aku mau tranfer uang buat kamu, kehidupan kamu untuk hari ke depan. Mbak Nurul suruh masak yang enak, nggak mau tau pokoknya kalau nggak enak, auto pecat langsung saja. Kalau kamu mau," Ujar Irsyad.


Bersambung...

__ADS_1


Entah typo atau nggak, bisa baca besok lagi kalau dah di bebenahi. Aku ngantuk, lanjut besok!


😊😊😊


__ADS_2