
"Ngomong-ngomong, kamu udah sembuh nak? Apa ini kamu tutupin lagi," kekeh Abi yang memecahkan keheningan. Rania tersenyum ke arah Abinya, Umi hanya menggelengkan kepala.
"Ya, nggak lah bi. Apa kata suami ku semuanya benar kok, nggak ada yang salah. Coba tanya sama dokter ku, kalau nggak percaya!" Rania membalasnya, dan Abi hanya mengucapkan istighfar berkali-kali.
"Sembuh pokoknya, dan berikan Abi sama Umi cucu ya, biar ada penerus di keluarga kita." Abi menginginkan anak-anaknya nanti, ada pewaris di pondok, jika tidak ada boleh nanti di wariskan oleh sang kakak, yang bernama Rayhan.
Rania hanya mengangguk, dan tersenyum. Umi mengelus-elus lengan Rania.
"Kok anehnya suamimu itu nggak bilang sama umi dan abi, umi heran sama kalian berdua." Tuturnya, Rania hanya berdiam dan menatap sudut tepi mata umi yang membendung air mata yang akan keluar.
Rania memeluk uminya.
"Maaf umi, suami ku pun baru tahu beberapa bulan ini. Kurang lebih aku pun mengetahui penyakit ini, masih bulanan mi baru merasakannya..." Sahut Rania.
"Oalah, ya Allah kamu ini nak... Benar-benar hebat amat, kalau umi palingan ini ya... Yang ada abi nggak bisa tidur semalaman," Sindir umi dan Abi terjengkit kaget, tidak biasanya umi berbicara dengan sindiran.
"Assalamu'alaikum," Irsyad tersenyum, dan membawakan makanan di tote bag.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, nak kamu ini kok bawa banyak amat... Nggak usah repot-repot, ini abi sama umi tadi di jalan udah makan kok." Tolak umi dengan halus, karena Irsyad membawa makanan dengan serius, umi pun merepotkan masalah itu.
Entah siapa yang mau makan, 'kan nanti ada. Kok repot, hahaha... Abi membatin, hanya bersua di dalam hati. Rania malu dengan suaminya, atas tingkah laku uminya tersebut.
"Emh, nggak papa umi. Ini makanan ringan aja kok, tapi ini insyaallah sehat kok." Ujar Irsyad, umi baru menerima pemberiannya.
Rania sekali lagi ingin berteriak kepada siapapun di rumah sakit ini, aduh ingin ia maki-maki, tapi orang tua tidak boleh seharusnya begitu.
Ajarannya siapa?
Yang pasti abi mikirnya ke situ.
Ya, malam serasa badan meriang dan nggak bisa tidur. Rania hanya mengangguk, dan celingak-celinguk. Dengan mata menyipit, Irsyad tidak mengerti apa isi hati istrinya.
"Kamu ngapa?"
"Nggak kok, aku cuman kasian aja sama kamu... Maaf tadi, atas kelakuan umi." Irsyad hanya terkekeh, mengangguk ia dan memainkan pipi istrinya.
__ADS_1
"Belum mandi, masih aja nempel kayak cicak gini, udahlah... Malu nanti sama mereka," Irsyad hanya menggelengkan kepalanya dan masih fokus kayak anak kecil saja.
"Kangen,"
"Panas kamu mah, mas... Ini lagi keadaan gini, kamunya kangen. Emang kangen sama perempuan lain, huh dasar, udah nggak sayang lagi sama aku. Pertamanya kamu cinta sama sayang nggak waktu nikah itu?" Irsyad mengeryit.
"Heh, kok ngambek..."
"Ya lah... Orang kamu ngomong kangen, kangen sama siapa, hayoo?" Cecar Rania, Irsyad mendusel-ndusel, sampai ngendus-endus seperti kambing tetangganya itu.
"Kampret, asem lah... Kamu belum mandi? Tapi, masih tetap wangi kok." Puji Irsyad, Rania pun menjambak rambut Irsyad sampai rontok.
"Wah jahat kamu, ini sakit tau. Emangnya rambut perempuan, rambut laki-laki beda. Cabutannya susah, perempuan tinggal sisir aja rontok." Si punya rambut kagak nerima, dan Rania mengelus-elus rambut Irsyad, yang kepalanya sekarang sudah berada di atas paha Rania.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komennya yah🤗
__ADS_1
Makasih banyak ❤️