
"Ah, nggak bisa ngapa-ngapain. Ya udah, masa iya orangnya galak sih. Katanya 'kan yang gantiin anaknya," batinnya. Ia bolak-balik sampai di ghibahin para suster yang ada di sana.
"Dok..." Sapa suster yang lewat dengan ramah, hanya balasan anggukan sepertinya lagi kurang sehat ini dokter.
"Hahhhh..." Ia pun menggusak semua rambutnya dan acak-acakkan membuat suster yang ada di sana melongo, terpana dengan ketampanan yang di buat Irsyad.
"Woow, benar-benar dokter ganteng..." Desas-desus yang mereka buat, Irsyad melirik ke arah mereka.
"Kalian emangnya nggak ada kerjaan apa?" Dinginnya dan suster itu ketakutan sendiri, mereka pada melarikan diri. Irsyad membatin kembali, bergumam sendiri seperti orang gila.
"Benar-benar, kinerja ku sekarang makin anjlok ini. Bagian management ini nggak ngurus apa? Kok ya, sempet-sempetnya mereka pada melongo dan ghibah. Nanti, kalau direktur tau pasti ia akan marah samaku dan bagian management pasti di pecat. Fiuhh," Desahnya dengan berat.
Suster pada lari-lari, entah kayak di kejar apa? Dan para dokter pun melarikan dari ruangannya, "Pak, maaf ada siapa kok pada lari-lari gitu?" Irsyad mencegah dokter yang mendekat ke arahnya.
"Ini, anu apa... Ada direktur datang katanya sama pemilik rumah sakit, udah ada di depan." Sahut dokter yang di cegah oleh Irsyad itu, dengan cepat mereka masuk ke dalam lift sampai ada kegaduhan di tangga. Suara sepatu pantofel yang bersautan, membuat Irsyad bergidik ngeri.
"Weh direksi anaknya dari pemilik rumah sakit, benar-benar menguras nafas terus ini." Ucap Irsyad, ada suara telepon yang berbunyi di nurse station. Karena tidak ada yang menjaga, Irsyad pun mengambil langkah untuk menerima telepon tersebut.
"Srttt, ehem... Ini siapa?" Ucap Irsyad dengan gugup.
"Tolong kalian yang ada di sana, untuk memanggil semua dokter spesialis dan tolong suruh mereka ke ruang rapat." Jawab orang yang menelepon itu.
__ADS_1
Lah, bener. Ini jadwal dokter pada padet, kenapa jadinya seperti ini? Apalagi dokter spesialis, ada jadwal untuk melakukan operasi.
Kok sampai rapat segala.
Telepon sudah mati, baru nyadar Irsyad.
"Aduh, aku harus ke sana berarti. Sebentar, izin nggak ya... Izin nggak ya?" Irsyad berpikir sejenak, dan melangkah akhirnya.
Ia memutuskan untuk ke ruang rapat sekarang, batinnya kenapa dirinya nggak sekalian bawa istrinya ke luar negeri. Kan nggak ada alasan lagi yang ia buat, tapi mau gimana lagi?
Ia sudah izin menemani istrinya yang sakit, dan tidak bisa di ganggu gugat dengan pekerjaannya.
Cuti sekitar setengah bulanan.
"Assalamu'alaikum, selamat siang Pak..." Dengan wajah tanpa dosa dan tanpa akhlak, ia langsung mengambil tempat duduk.
"Siang," dengan wajah tersenyum, pemilik rumah sakit memang baik tapi anaknya itu?
Pemilik wajah arogan, tapi kayaknya dalamnya baik. Eh, nggak... Irsyad sampai menduga-duga.
"Siapa itu Pak?" Direktur rumah sakit bertanya dengan bapaknya.
__ADS_1
"Wakil kamu, nak." Hanya mengangguk dan memilih untuk menjauh, Irsyad mendekat dan menyalami tangan pemilik rumah sakit.
"Pak Hendra apa kabar?"
"Allhamdulilah baik, gimana istri mu? Semuanya berjalan normal 'kan?"
"Eh kok tau Pak, istri saya operasinya normal kok. Tapi, saya izin sama bapak mau ke luar kota tapi nggak jadi, maaf ya Pak kalau berbohong." Ia tidak enak, dan Pak Hendra alias pemilik rumah sakit hanya menggelengkan kepala.
Sudah berumur, makanya anaknya yang menggantikan beliau.
"Kamu ini, sama siapa aja kali... Bapak sudah percaya, yang penting nggak melakukan di luar kendali, ya nggak papa apalagi istri mu yang sakit. Allhamdulilah kalau gitu, berarti dokter Fadli sudah berhasil ya." Irsyad hanya cengar-cengir, puji terus. Sampai sukses, hahaha... Irsyad lagi cemburu nih kayaknya.
"Emh, rapat bisa kita mulai?" Direktur melakukan aba-aba untuk memulai rapat kali ini. Irsyad kembali ke kursinya dan menatap serius mata dari direktur yang tetap menuju ke arahnya. Ada dendam kesumat ini mah.
"Silakan kalian perkenalan!" Hah, bukannya dirinya yang harus perkenalan. Segini banyaknya dokter harus perkenalan. Irsyad hanya menggelengkan kepala.
"Kenapa bapak wakil direktur?" tanyanya dengan nada agak sedikit tertawa mengejek. Hanya termangu dalam lautan, pikirannya hari ini buyar semua.
...Bersambung... ...
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA 🤗
__ADS_1
Maturnuwun ❤️