Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Masakan Apa Ini?


__ADS_3

Happy Reading


Rania menghampiri Irsyad yang membuka snelinya dan meletakkan tas kerjanya.


"Mas," Rania menyalami tangan Irsyad.


Irsyad tersenyum dan mengulurkan tangannya, Rania membantu Irsyad melepas sepatunya.


"Sudah masak?" tanya Irsyad.


"Udah, semuanya sudah siap di meja makan." Jawab Rania, melangkah ke rak sepatu. Menaruh sepatunya, besok akan dia bersihkan kalau Irsyad memintanya untuk membersihkan sepatunya.


"Oke kalau gitu, aku juga lapar. Tadi, di kantin cuma beli minuman aja."


Rania menerima snelinya dan meletakkan di kamar mandi, biar nanti ada sneli cadangan yang bisa di pakai besok.


Irsyad berjalan ke dapur, melihat matanya menengok mbak Nurul dan mas Onyon meringis.


"Kenapa kalian, sakitkah atau ada sesuatu yang mau di sampaikan?" mas Onyon menggeleng pelan ke arah mbak Nurul, agar tidak mengadu ke Pak bosnya.


"Nggak papa Pak, yaudah kalau gitu kami ke belakang dulu."


"Kalian nggak makan dulu?"

__ADS_1


"Nggak usah Pak, kami sudah kenyang. Di masjid tadi di kasih kotak makanan." Jawab mas Onyon dengan melangkah pergi.


"Mas, kamu ini. Kasian itu Pak Irsyad-nya, nanti kalau orangnya darah tingginya kumat apa nggak diabetes, yang salah siapa? Kita yang ada." Ujar mbak Nurul, ingat kalau Pak Irsyad tidak suka dengan makanan asin, pedas, dan manis. Bisa jadi, beberapa jam akan mengalami kejadian penyakitnya kambuh.


Padahal dokter, yes... Benar, Irsyad memang menjaga pola makannya dari memakan makanan gizi dan seimbang, seperti biasa setiap hari pada jam pagi Irsyad melakukan olahraga.


Dengan di bantu oleh alat-alat buat olahraga setiap hari, yang di letakkan di lapangan basket. Irsyad suka main basket kadang sore dia juga melakukan sepak bola sendiri dengan mas Onyon terkadang, apa nggak sama Papa-nya.


\*\*\*\*


"Mau apa mas?" Tanya Rania dengan mengambilkan nasi putih.


"Mau apa aja, yang penting enak dimakan." Jawab Irsyad memegang handphone, memeriksa pekerjaannya di grup. Apakah ada pemberitahuan atau tidak.


Rania mengambilkan telor ceplok balado dan sayur sopnya, bersama ada sayur tumis kangkung.


"Wah, enak ini." Ucap Irsyad, memuji Rania.


"Di coba dulu. Nanti kalau nggak sesuai gimana? Apa kurang apa gitu?"


"Hem, iya. Tolong buatkan ini jus wortel ya, kasih madunya seperti biasa sama kayak di teh, dan gulanya sedikit saja!" Ucap Irsyad yang mematikan handponennya.


"Aku akan buatkan sesuai pesanan."

__ADS_1


Rania berjalan ke dapur, mengambil wortel di kulkas dan ia ambil pisau.


Sedangkan Irsyad yang mulai mencoba makan, malah mbak Nurul tiba-tiba di hadapan Irsyad.


"Kenapa? Kamu ini dari tadi ada apa sebenarnya kalian berdua ini." Irsyad kesal dengan pembantunya ini, di tanya malah pergi. Jadinya, Irsyad membiarkan saja.


Sekarang malah ke hadapan Irsyad.


"Anu.. Anu Pak, jangan di makan! Ini udah asin, terus manis, sama kecut Pak." mbak Nurul mengadu ini, mas Onyon di belakang gigit jari atas semua kelakuan si istrinya satu ini.


Mengurus satu istri saja susah apalagi mau cari lagi perempuan. Yang tiap saat ganjen sama tetangga sebelah, janda, kaya lagi. Warisan dari suaminya banyak, itulah yang ada di pikiran mas Onyon.


\*\*\*\*


Perkataan mbak Nurul hanya angin saja baginya Irsyad, dia tetap makan dengan begitu benar kata mbak Nurul.


"Mas..."


Wah, istrinya yang selesai membuat jus sesuai pesanan. Terkejut dengan Irsyad yang melepehkan makanan dari mulutnya dengan tisu dan Irsyad juga dengan cepat membuang tisunya.


Bersambung...


Jangan lupa Like dan Komennya yah 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2