Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Begadang


__ADS_3

"Kamu nginjek apa, mas?" Irsyad pun berlalu, dan menatap ke arah bawah. Ternyata botol yang kosong menggelinding ke bawah, sampai ia tak sadar menginjaknya.


"Ooh, botol ini..." Irsyad mengambilkan rotinya dan membuatkan air hangat dengan madu, yang ada dan ia ambilkan air hangat di dispenser.


"Ini, di minum..." Rania mengangguk.


"Kamu mikirin apa sih dari tadi, nggak tidur-tidur, pusing amat kayaknya. Udah di puk-puk, tapi nggak tidur-tidur..." Protes Rania, Rania menyampaikan mulutnya dengan roti.


"Mau makan kamu? Apa laper dari tadi?" Tukas Rania, dan Irsyad tetap menggeleng. Hanya pandangan pertama, yaitu lamunannya tadi, ia lanjutkan sampai tidak sadar Rania menangis-nangis, di kira apaan?


Haha...


"Eh kok nangis," ia baru sadar. Mendekati dan mendekap tubuh Rania, menenangkan istrinya.


"Mikirin perempuan lain ini, huh dasar. Kamu pergi sana! Dah lah, aku nggak mau liat wajah kamu lagi..." Irsyad menggeleng, dan mengecup kening istrinya. Memberikan kepercayaan sedikit oleh istrinya, Irsyad mau bicara apa? Ia mikir dulu kata-kata nya.


Jangan sampai ia cuman memikirkan adek iparnya tadi! Apakah akan menjadi bahan candaan Rania? Sepertinya nggak mungkin, karena istrinya pasti menerima adanya.


Tapi, ia jika cerita malam ini. Malah, kebanyakan lebarnya maka Rania mendengarkan tapi tidak masuk ke otaknya, tidak di cerna dengan baik. Macam mendongeng begitu lah.


"Hayoo! Kamu nih, jangan kebanyakan nge-lamun, nggak baik!" Irsyad naik ke ranjang.


"Tidur-tidur! Nggak usah mikir malam-malam, besok aja ceritanya. Udah malam gini," Nah jawaban yang paling di tunggu dari tadi.

__ADS_1


"Kamu nggak mikirin macam-macam 'kan?" Tanya Irsyad, dan Rania menggeleng.


Syukurlah, dirinya saja yang memikirkan hal yang tidak jelas sampai sekarang.


"Tidur ya!" Suara lembut dari Rania, Irsyad berbaring dan Rania mengelus-elus rambut Irsyad dan sampailah dimana mereka tertidur.


***


Di rumah Papah dan Mamahnya Irsyad.


Kirana belum tidur, ia masih nonton drama horor. Sampai bulu kuduknya berdiri semua, palingan ia begadang lagi sampai pagi. Ia saja belum seutuhnya pulih, tapi aman saja karena kamarnya ia tutup rapat-rapat, dan tidak mungkin papahnya akan masuk.


Jendela, angin berhembus. Semilir-semilir, membuat agak sedikit pencahayaan.


Wah, bisa ngamok nih dan loncat dari kamar langsung lari kepirit-pirit sampai kamar orang tuanya, mengganggu rutinitas mereka di kamar.


Sebentar.


Ada apa? Sepertinya ada chat dari dokter pendosa, yaitu dokter Adhi.


Begitulah nama kontak yang tertera di gadget Kirana, Kirana tersenyum dan hatinya berjengkit kaget, ketika ada suara ketukan pintu.


Masa iya papahnya, nggak mungkin 'kan. Serem amat, pingin ia telepon papahnya sekarang.

__ADS_1


"Bissmillah, jangan lah buka! Masa iya, takut... Haha, nggak mungkin lah..." Akhirnya ia membawa pentungan dari takut.


"Heh, nggak mungkin... Nanti kalau bukan papah ya, aku pentung aja!" Ucap Kirana, Kirana membuka pintunya dan di hadapannya sekarang yaitu papahnya yang membawakan selimut.


"Eh, pah..." Serunya sambil cengar-cengir.


"Kamu ini! Papah mau masuk, malah kamar di kunci. Ada apa nih? Patut di curigai, nggak pernah kamu ngunci kamar. Dan kamu?" Melihat anaknya belum mengganti bajunya, dengan baju tidur. Buru-buru papah masuk, dan melihat layar TV yang terang benderang.


Mata papah melotot.


"Kamu begadang nak!" Sentak papah, hanya Kirana membalasnya dengan cengiran.


"Iya, pah... Bosen, tadi ke kamar mandi. Eh, ada rekomendasi film, yah nonton lah masa engga... Papah nggak marah 'kan?" Kirana mendekati papah, dan memeluk papahnya.


Mencium papahnya, pipinya yang sudah berkeriput dan sudah banyak urat-urat hijau yang menyembul keluar, artinya papahnya memendam amarah.


"Dek, kamu ini habis dari rumah sakit bukannya istirahat, bandel sekali kamu... Nggak gitu caranya, biar papah dongeng aja... Kamu cepetan tidur, kalau di dongengin... Masa lalu nggak bisa di lupakan sampai sekarang..." Kekeh Papah yang membuang napasnya kasar.


Papah menggiring Kirana untuk tidur, tetapi ada suara getaran handphone yang membuat papah menyembul kembali amarahnya.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya ❤️

__ADS_1


Makasih 🤗


__ADS_2