Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Segera mungkin!


__ADS_3

"Sudah? Bagaimana keadaan Rania sekarang?" tanya Irsyad dengan mengelus kepala Rania yang berbalut hijab itu sedang tertidur pulas.


Akibat obat yang di berikan untuk ia minum, agar bisa tenang dan tidak kambuh kembali itu penyakit.


"Segera mungkin, kita operasi Syad. Ini bahaya juga, tapi aku nggak punya banyak waktu. Kemungkinan dua minggu lagi, tapi dengan keadaan seperti ini, Rania harus segera di operasi. Takutnya penyakit itu akan menyebar di seluruh tubuhnya," ujar Fadli dengan membuang napasnya dengan panjang.


"Terus mau gimana ini?"


"Kamu, hubungi om ku dulu, biar om ku yang akan mengoperasi Rania." Saran Fadli, Irsyad dengan ekspresi bingung.


"Siapa?"


"Oh, iya lupa kalau om Albany seorang dokter, dan sama kita menjadi dokter spesialis kanker, jadinya aku lupa kalau kamu sepertinya pernah ketemu, tapi aku nggak ngenalin kamu sama om Albany itu." Irsyad pernah mendengar nama tersebut, pastinya dokter sudah senior itu.


Sampai namanya lupa, jika dirinya pernah bertemu dengannya.


Handphone Irsyad berbunyi nyaring, siapa yang meneleponnya?


What?


Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini, ia di telepon oleh adiknya itu. Kirana (Wkwk, udah lama nggak ketemu. Jumpritan masih 'an).


"Oi, gimana adikku pakai segala video call, ish... Mesti ia curiga sama aku nantinya," Desis Irsyad, Fadli hanya menggedik.


Tak tahu.

__ADS_1


"Jangan di angkat kalau nggak mau! Gua balik dulu ya, ada beberapa pekerjaan yang belum ku selesaikan." Irsyad menggeleng, mencegah Fadli untuk pulang.


"Why? Gua butuh istri gua sekarang, lo enak 'kan di sini, lah gua? Mau di hujani bucinan lo sama istri lo!" Sindir Fadli.


"Huffttt... Sabar dulu ngapa! Ini handphone bunyi terus, nanti aku di marah gimana sama adikku itu? Dan orangnya cerewet pula." Fadli tertawa, Irsyad menjitak kepala temannya itu.


"Uhhh, masa nggak berani sih sama anak kecil? Apalagi adiknya sendiri!" Ia melirik ke arah Fadli, dan melemparkan bantal, "Heh salah apa gua? Kan aku sudah bantu istri mu. Bukannya terima kasih, atau basa-basi kek."


"Yang ada lo yang basi! Wey, ini kenapa nelepon terus sih?" Fadli merebut handphone Irsyad.


Dan mencoba mematikan daya, biarkan tidak menelepon terus.


Kegoblokan si Irsyad semakin menjadi, mampet kali itu an*s, sudah jangan risau serahkan ini kepada dokter pencuci mulut, eh salah dokter umum yang menanganinya.


Sekalian sekolah.


Sedangkan, si Kirana mengumpat walaupun tidak terdengar dengan jelas kepada orang tua itu yang lagi sayang-sayangan, Kirana hampir membanting handphone.


"Gimana sayang?" tanya mamahnya dengan memijit-mijit pundak papah.


Kirana tersenyum masam.


"Nggak di angkat?"


"Malahan sekarang di matiin, kesel sama abang... Sini itu mau wisuda, malah nggak di angkat juga. Kan mau ngerayain bareng-bareng mah, pah..." Ucap Kirana dengan mendekati papahnya dan memeluk perut papahnya.

__ADS_1


Benar, Kirana besok akan wisuda, sebentar lagi dirinya akan memegang hak kekuasaan perusahaan mamah yang akan di teruskan oleh Kirana ini. Mamah sudah mempercayainya, dan bisa langsung menuju ke lapangan.


"Ya, namanya sibuk nak... Abangmu itu kadang suka lupa waktu, tapi memang sekarang sudah punya istri, jadi tanggung jawab istri semuanya. Adik nggak boleh gitu! Besok coba kita mampir ke sana, nah bisa jadi abang mu akan ikut." Papah mencoba memberikan pengertian.


Kirana mengangguk berat, hanya saja sedih jika hari yang paling ia tunggu-tunggu dari dulu, akhirnya tiba. Dan pada saat itu pula, harus di rayakan bersama-sama.


"Kirana, kamu coba telepon kak Rania! Siapa tau di angkat." Ucap mamah, betul perkataan mamah.


Palingan Irsyad berkutat pada pekerjaan, dan istrinya di rumah.


Nihil, sama sekali tidak ada jawaban malahan. Kirana membesengut, ia berjalan ke dapur. Hatinya sakit, dan tenggorokan serasa kering. Di rasa tusuk-tusuk, dan ia menegak dengan air biar tidak kering.


"Kemana saja sih kak, bang?" Seru Kirana dengan meremat gelas yang ia pegang.


Rasanya pengang, pusing, dan bisa jadi hatinya merasa pilu. Kasih sayangnya padahal begitu melekat, di hati Kirana untuk abangnya itu.


Ada satu abangnya, tapi tidak terlalu melekat cintanya untuk abang pertamanya.


Kirana menangis sesegukan, dan mamah miris melihatnya, "Pah, kita ke sana saja yuk! Minta tolong agar Rania sama Irsyad buat datang ke wisuda Kirana." Bujuk mamah.


"Jangan mah! Kasian Irsyad, ia banyak pekerjaan. Dan pasien yang belum ia tangani pasti masih banyak. Mamah emangnya nggak kasian?" Di rumah ia lemah-lemah sampai menunggu Rania terbangun, Irsyad yang tertidur sampai membuat pulau di bantal.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya🤗

__ADS_1


Hahaha udah lama nggak ketemu sama keluarganya Irsyad ya? Gimana mau di kumpulin lagi? Apa yang ada---... Rania yang nggak akan ketemu sama si keluarga itu lagi?


Terima kasih 😌🙏


__ADS_2