
"Selamat siang, Pak... Bu," sapa dokternya dan menunjukkan wajah yang tanpa dosa, menertawai mereka.
"Hahaha... Bucin kau kali ini, mati lo sekarang... Nanti ada si tuan kamprett dateng jenguk istri mu," Dengan gelagapan Irsyad bangun, dan maksudnya tuan kamprett adalah pemilik maupun yang berwenang di rumah sakit ini.
"Woy, lu nggak ngasih tau gue dari awal." Irsyad menyalahkan Fadli, Fadli hanya menggedikkan bahunya.
"Kau aja yang kudet sejak awal, di grup noh di baca makanya." Fadli membenarkan posisi infus dan melambatkan cairan infus, yang awalnya sedikit cepat lajunya.
"Gimana nih?"
"Kenapa mas, ya nggak papa dong berarti mereka perhatian, dan bisa meluangkan waktunya untuk menjenguk istri kamu ini. Aku malah seneng," Yang ada nelangsa, mati kutu dia.
Karena telah izin untuk beberapa hari ke luar kota, dan ini? Wah, bisa di turunkan jabatannya sebagai wakil direksi rumah sakit.
"Aku tau kamu bohong." Fadli hanya tersenyum cerdik, dan melanjutkan memeriksa Rania.
Dengan senang hati, Rania menerimanya karena ia ingin cepat-cepat pergi dari rumah sakit, walupun ini ruangan VVIP, tapi ia masih betah di rumah. Bisa bergerak, tanpa ada larangan apapun.
"Sadar itu! Jangan jelalatan matanya! Udah punya istri, sama-sama kita punya istri." Peringatan keras dari Irsyad, dan Fadli memukul bahu Irsyad.
__ADS_1
"Emangnya gue nggak profesional gitu, orang dokter itu ya menjaga nama baik yang ada di dalam dirinya, dan nggak pernah. Itu namanya oknum dokter yang ke ganjelan. Eh salah, jelalatan..." Fadli selesai memeriksa, ia membuang nafasnya dalam-dalam.
Lantas, ia menatap Rania yang tersenyum ke arahnya. Ia balas, tapi suaminya sudah melototi dirinya.
"Sekarepmu (Seterahmu)!" Ucap Fadli.
Fadli memulai menjelaskan panjang kali lebar, dan keputusan bulatnya besok Rania boleh di bawa pulang asalkan rawat jalan di rumah.
Ia akan bolak-balik ke rumah Irsyad dan rumah sakit, karena dirinya pasti mendapatkan gelar A jika ia bisa menyembuhkan pasien kembali. Sama rata dengan Irsyad, yang menyandang gelar sangat baik di rumah sakit ini.
Padahal sama-samanya berjuang, dan dokter apalagi dirinya pun sama dengan dokter spesialis yang pasti gaji besar, kurang cukupkah?
"Jadinya besok boleh pulang?" Rania menanyakan kembali dan pada akhirnya Fadli mengangguk.
Fadli mengode Rania, "Suamimu kenapa?" Bisiknya secara perlahan.
"Mas..." Panggil Rania, Irsyad tersenyum ke arahnya dan mendekat ke Rania.
"Emh, aku mau ini bahas itu dulu ke Fadli ya. Kamu di sini enggak papa? Apa aku panggilkan umi dan abi buat jaga kamu?" Tawarnya, Rania berkomat-kamit, ia heran kepada suaminya.
__ADS_1
"Biarkan mereka, aku mau tidur aja."
Irsyad memberikan kecupan dengan cepat, tanpa basa-basi ia. Biarkan Fadli, ia punya istri di rumah karena ia harus membalaskan dendamnya pada saat itu yang membekas sampai ke kutil-kutil.
Fadli di tarik tangannya keluar dari ruangannya Rania, "Lo yang bener? Dapet info darimana? Gue nggak dapet apa-apa." Irsyad mengorek informasi kembali, jika salah ia akan tempeleng kepala Fadli ini.
"Grup, mungkin grup whatsapp kamu kebanyakan pesan, dan kamu nggak baca dari awal pesannya jadinya ketumpuk deh. Dahlah, aku mau siap-siap, bentar lagi loh. Katanya harus ada penyambutan pula," What? segitukah, ia harus apa sekarang?
Jika di sambut, karena kedatangan beliau dari Jepang dan mendaratkan ke bandara soekarno-hatta langsung melaju ke rumah sakit. Adakah penghormatannya?
Benar-benar, wakil direksi macam apa dia?
Fadli berlalu, Irsyad terdiam lama dan mondar-mandir.
Waktunya terbuang sia-sia hanya karena mikir, palingan Fadli udah setengah jalan baru ia selesai berpikir.
Bersambung...
Demi apa aku upš¤£, ya udah nih gabut gua di rumah dan sebenarnya banyak tugaskuš, tapi mau gimana lagiš.
__ADS_1
Jangan tunda-tunda tugas gais, makin numpuk kalau di tunda, gua sukanya nunda karena semakin nunda semakin keselek tugas.
Wkwkwk, curhatan yang paling nyataš¤«