Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Besok Pulang


__ADS_3

"Iya mas, tapi kasian juga kalau mbak Nurul di pecat mas. Itu juga 'kan nggak salah mbak Nurul, apalagi mbak Nurul udah di percaya untuk menjagaku sama membantuku di rumah mas. Kamu itu aneh-aneh aja mas," ucap Rania dengan menahan sesak di dada di ikuti tertawaan Rania.


"Oke iya-iya maaf, besok aku akan segera cari tiket pesawat buat pulang. Katanya sih di undur lagi acaranya, aku nggak mau lama-lama di sini. Udah pingin pulang rasanya." Ucap Irsyad dengan curhat.


Serasa sesak di depan mata.


Apa besok suaminya akan pulang, tidak.


Rania belum siap. Apa yang akan terjadi jika dirinya besok benar-benar belum di izinkan untuk pulang dari rumah sakit?


"Kamu kenapa kok diam aja, nggak jawab. Apa aku nggak usah pulang ya, kayaknya kamu sedih gitu, aku besok pulang boleh nggak?" Cicit dan sendunya meraba-raba di pikiran Rania, padahal kepalanya saja belum sembuh.


Pikirannya melayang sekarang.


"Iya maaf, nggak papa kalau kamu besok pulang. Tapi hati-hati ya mas! Awas nanti kalau makan-makanan sembarangan! Sekarang kamu lanjutin kerja sana! Nanti di kira aku istri macam apa, pinginnya dekat-dekat sama suami sampai suami pergi aja masih nempel kayak perangko walau berjauhan!" Ucap Rania, dengan sekuat tenaga ia bicara sampai menahan rasa pilu dan sakit di kepala.

__ADS_1


Mbak Nurul terseguk-seguk dan masih saja menyemangati majikannya untuk tetap bertahan.


"Ya sudah mas, aku lanjut dulu sama kerjaan ku di rumah. Mau keluar bentar, jalan-jalan. Assalamu'alaikum mas... Bye-bye, sampai bertemu esok hari mas..." Ucap Rania dengan begitu mematikan sambungan telepon dan Rania menangis, begitu saja leleran air mata Rania berjatuhan.


Mbak Nurul sigap memberikan pundak untuk Rania. Memeluk Rania, Rania tidak pandang siapa-siapa yang penting dirinya nyaman dengan orang itu, ia akan bercerita.


"Sabar bu, InsyaAllah nanti bapak akan ngerti kok sama perasaan ibu. Ya sudah ibu sekarang istirahat lagi, apa mau minum bu? Biar saya ambilkan." tawar mbak Nurul dan Rania menggeleng, ia memilih untuk membaringkan tubuhnya di bantu mbak Nurul.


"Kuat bu... Kuat nggak boleh lemah." Ucap mbak Nurul di dalam hati dengan mengelus punggung Rania yang keringat dingin bercucuran di bajunya sampai basah bajunya.


Mbak Nurul tidak kuat, pecah tangisannya di depan pintu. Dokter Fadli keluar dari ruangannya, melihat mbak Nurul yang menyila dengan kedua kakinya dengan di ikuti tangisan, air mata yang mengucur deras tanpa henti.


Dokter Fadli menghampiri mbak Nurul.


"Bu... Ada apa ibu?" tanya dokter Fadli, dia membantu mbak Nurul untuk duduk di kursi tunggu pasien.

__ADS_1


"Nak," seru mbak Nurul. Suara napas dan irama untuk berbicara kesumbat dengan adanya ingus.


"Iya bu, kenapa kok ibu bisa seperti ini?" Dokter Fadli pun siap mendengarkan apa yang akan di bicarakan sama mbak Nurul.


Sebagai seorang dokter, dokter Fadli tetap sabar dan bisa menyemangati para pasien untuk bisa sembuh. Dan bisa mengubah scenario itu berubah, yang dulunya sakit-sakitan menjadi sembuh dan itu juga di ikuti dengan do'a bersama harapan keluarga, untuk tetap sembuh.


"Nak, ibu mau cerita kasian majikan ibu. Ibu nggak kuat liatnya, apalagi dengan kondisinya... Dan ibu harus bilang apa sama bapak nanti kalau sudah pulang? Besok bapak pulang nak... Gimana nak?" Ujar mbak Nurul dan dokter Fadli pun melihat arlojinya yang masih tetap aktif, artinya beberapa jam lagi menunjukkan waktu besok.


"Iya bu, maaf kalau boleh ini saran ya bu sebaiknya ibu bercerita pelan-pelan sama ibu Rania. Supaya mengerti, nah saya sarankan kalau ibu Rania tetap ingin pulang, silakan! Tapi ada syaratnya, siang harus balik ke rumah sakit buat cek kondisinya. Kalau menurun bisa saja nanti di rawat di sini lagi, atau nggak saya yang akan bantu untuk bercerita sedikit sama bu Rania. Jika tidak ingin di ketahui penyakitnya," Ucap dokter Fadil memberikan penjelasan.


"Iya nak, bantu ibu ya! Karena ibu nggak bisa menahan ini dengan sendiri, apalagi belum cerita lagi sama suami ibu kalau ibu nggak ada di rumah. Pasti suami ibu udah pulang, boleh cari suster buat jagain ibu Rania dulu nak ke dalam. Apa nggak kamu sama suster gitu," Ucap mbak Nurul dan dokter Fadli mengangguk.


"Iya insyaallah saya akan jaga bu, nanti kalau ibu sudah balik ke sini, saya akan pulang." Ujar dokter Fadli dan mbak Nurul tidak bisa berkata, dia pamitan dan pergi balik ke rumah majikannya.


Bersambung...

__ADS_1


Bonusnya, hahaha... 😂😂😂 itu belum genap serebu... Cuma ratus kata aja...


__ADS_2